
Akhirnya ketemu...
Aku mengenakan pakaian simple dan segera berangkat.
"Ayo!" ajakku setelah keluar dari kamarku dan kini mencari sendal sepatu yang akan kukenakan.
"Kamu...." Darren menghampiriku dan menopang dagunya dengan jari tangan kirinya.
"Apa ada yang salah?" tanyaku seraya memperhatikan riasan dan penampilanku sendiri di layar kaca besar ruang tengah.
"Nnggg... Emang ada yang salah sih," ucap Darren sambil geleng-geleng kepalanya dan memperhatikan penampilanku lebih serius lagi.
"Masa sih? Emang bajunya aneh?" Aku dah mulai panik dibuatnya, takutnya bajunya yang kukenakan robek atau ada noda lain yang gak kelihatan olehku tadi.
"Bajunya sih gak aneh. Tapi ada yang salah gitu."
"Lah... Trus? Salah apanya sih? Ganti baju aja deh!" ucapku sebal karena dia berbelit-belit kasih taunya.
"Salahnya.... Disini!!!" serunya lantang sambil memelukku dari belakang.
"Apaan sih?" Aku menyikut perutnya dengan siku tanganku, tapi gak terlampau keras.
"Salahnya kamu tuh... Kenapa kamu selalu cantik di mata aku? Aku jadi gak bisa kalo gak deket kamu," jawabnya yang masih bersikap manja denganku.
"Jadi... Kita jadi pergi gak nih?"
"Jadi kok. Masa gak? Tapi cium aku dulu, uda itu kita langsung jalan!" pintanya yang kekanakkan.
"Kok jadi mesum sih? Dikit-dikit minta cium. Dikit-dikit suka nyium," protesku.
Dia membalikkan posisi tubuhku. Menatap kedua mataku dan wajahnya semakin mendekatiku. Tapi aku melangkah mundur perlahan, karena tidak ingin dijahili olehnya lagi. Dalam beberapa langkah mundur, tiba-tiba tubuhku sudah mentok di pinggiran sofa yang akhirnya tanpa sengaja aku terjatuh kebelakang tepat di atas sofa yang empuk itu.
Darren bukannya menolongku untuk bangun, dia malah ikutan menindih tubuhku.
"Kamu mau apa? Cepetan, bangun! Berat nih!" lirihku yang mulai merasakan sesak akibat tekanan dari berat badannya.
Dia mencium keningku. "Lain kali, jangan bilang aku mesum lagi! Ato aku akan perbuat yang lebih gila dari ini."
"Oke! Oke! Cepetan, bangun!"
Akhirnya dia segera bangun dan membantuku berdiri juga. Nih anak... suka banget sih ngerjain aku. Aku berdiri lagi di depan cermin kaca ruang tengah sambil membenarkan ikat rambutku yang sempat acak-acakkan. Lalu aku menarik tangannya seraya mengajaknya pergi sekarang. Dianya malah gak mau jalan. Hanya diam ditempat sambil menampakkan wajah juteknya.
"Kenapa lagi sih?" tanyaku heran dengan tingkah laku dia yang moodyan.
__ADS_1
"Kamu belum cium aku, makanya aku gak mau jalan."
"Astaga!!" kataku sambil menepuk pelan keningku.
Aku menghampirinya lebih dekat dan ingin mencium pipi kirinya tapi malah jadi mencium bibirnya gara-gara dia sengaja menoleh saat hendak kucium pipinya.
"Udah, kan?" tanyaku setelah berhasil mengecupnya.
Dia hanya manggut-manggut sambil tersenyum. "Ayo, kita brangkat!" serunya yang tiba-tiba bersemangat.
Suasan hati Darren hari ini sangat baik. Didalam mobil pun saat menyetir masih bisa bernyanyi mengikuti lagu yang diputarnya. Bukannya dia bilang, maminya lagi sakit? Bukannya khawatir malah kelihatan happy-happy saja.
"Mami kamu beneran sakit?" tanyaku memastikan.
"Hah? Apa?" tanyanya ulang karena dia gak gitu kedengeran, karena suaraku bentrok dengan alunan musik yang kencang volumenya.
Aku mengecilkan volume lagunya. "Tadi aku tanya, mami kamu beneran sakit?"
"Nnngggg... i.. itu... iya kok. Kan tadi dia kabarin aku lewat chat," jawabnya dengan tampang aneh gitu.
"Sini aku liat isi chat dari mami kamu!" kataku sambil meminta agar ia menyerahkan ponselnya.
"Nnggg... Uda kehapus tadi. Gak sengaja pas mau balas ke mami, malah ke delete."
"Pasti kamu ngerjain aku lagi, kan?" terkaku yang udah bisa nebak dari mukanya kalo dia cuma bohongin aku aja.
"Gak lucu ah. Masa bawa-bawa mami kamu buat boongin aku?"
"Iya deh.. Aku minta maaf. Aku salah. Aku cuma mau ajak kamu kenalan ama orangtua aku. Cuma kalo aku ajak gitu aja, takutnya kamu gak mau."
Ya juga sih. Soalnya kan aku gak siap kalau tiba-tiba di ajak ketemuan. Ini kalau bukan karena dibohongin juga, aku belum mau ke rumah orangtuanya. Masalahnya kami baru pacaran, tiba-tiba harus ketemuan sama orangtuanya. Rasanya deg-degan banget plus gak siap dengan respon mereka yang bisa nerima aku atau gak dengan jarak umur kami yang terlalu jauh ini.
"Lain kali jangan kek gitu lagi! Aku gak suka diboongin."
"Iya deh! Iya! Aku janji gak akan ulangin lagi," katanya sambil mengangkat tangannya seperti orang yang lagi berikrar. "Jangan marah lagi ya!" pintanya.
Aku hanya mengangguk saja dan masih merasakan degupan jantungku yang gak karuan saat ini.
Tiba di rumah orangtua Darren
"Ayo, turun!" Darren membukakan aku pintu mobilnya dan mempersilahkanku turun.
Sekarang kami di depan rumah... lebih tepatnya sih kastil kecil kali ya, karena bentuknya seperti kastil istana gitu. Perasaanku makin gak karuan.
__ADS_1
Darren memegang kedua pundakku. Dia berhadapan denganku. "Jangan takut! Ada aku." Mungkin dia bisa merasakan keteganganku. "Ayo, kita masuk sekarang!" Dia menggenggam tanganku dan kami masuk bersama.
Darren yang masih menggandeng tanganku, ia serasa memberiku kekuatan dari dalam dirinya. Aku merasakan hawa positif yang dialiri lewat genggaman tangannya, setidaknya dapat mengurangi rasa tegangku.
Pintu terbuka saat Darren memasukkan nomor password ke smartlock doornya. Nuansa gold langsung terlihat saat kami menginjakkan kaki di dalam rumahnya. Rumah yang megah bak istana ini terlihat sepi.
"Pada kemana sih? Miiii!!" panggil Darren pada maminya dengan lantang.
"Yaaaa... Mami di dapur, nak!" jawab maminya.
Kami menyusulnya ke dapur dan ternyata benar maminya tengah sibuk baking bersama dua asisten rumah tangganya.
"Helo, pangeranku!" sapa maminya sambil memeluk hangat Darren. "Ini... Siapa?" tanya maminya penasaran dengan kehadiranku.
"Aku Via, tante!" jawabku sambil sedikit menunduk memberikan rasa hormatku padanya.
Dia menghampiriku lebih dekat. "Via... Cantik banget kamu, nak!" pujinya saat melihatku dari dekat.
*Via
"Terima kasih, tante," jawabku sopan.
"Ini pacarmu, nak?" tanya maminya memastikan status kami.
"Ya, mi. Via ini pacar aku."
"Oooo... Ini cewek yang kamu taksir itu ya? Yang katanya kamu ngejar-ngejar dia tempo hari," kata mami Darren yang terus terang.
"Mami kok jadi ngebongkar semua sih?"
"Kan mami nanya, bener cewek ini apa bukan?"
"Iya. Dia orangnya, mi."
"Cantik banget sih! Pinter kamu nyarinya! Yuk, kita ngobrol di sana!" ajaknya ke ruang keluarga. "Itu tolong diliatin apinya ya, mbok!" pesannya pada salah satu asisten yang udah berumur. "Ayo, silahkan duduk!
"Trima kasih, tante."
"Gak usah sungkan sama tante. Anggap aja seperti keluarga sendiri!" katanya welcome.
"Mi, aku panggil daddy bentar. Dia ada dimana?"
__ADS_1
"Dia ada di ruang kerjanya deh. Coba kamu cari dia disana dulu!"
Darren meninggalkan kami berdua. Rasa gugupku belum hilang. Malah telapak tanganku keringat dingin sedari tadi belum hilang.