
"Kemana ya dia?" tanya istri om Tio sambil melihat sekitar mencari keberadaan putri bungsunya.
"Tadi ada kok, sekarang entah kemana anak itu," timpal om Tio ikutan mencari. "Dia belum ada pacar sampe sekarang. Kalo kalian di sejajarkan, pasti cocok. Satunya ganteng dan satunya cantik."
Darren dan daddynya hanya bisa tersenyum melihat tingkah terus terang si om Tio beserta istrinya yang ngebet ingin menjodohkan anak mereka dengan Darren.
"Bagaimana bisnis perkayuan kalian sekarang?" tanya om Tio ke arah serius.
"Bisnis kami berjalan dengan baik. Darren bisa membantuku menghandle bisnis ini. Jadi aku hanya memantau dari rumah saja," jawab daddynya yang terlihat bangga dengan Darren.
"Bagus dong! Ide seumur dia ini pasti sangat inovatif di dunia bisnis masa kini. Beruntung kamu dapat anak seperti dia," puji om Tio lagi yang membuat Darren kikuk.
"Ya, saya sangat bersyukur punya anak seperti dia. Dia mau kerja sambil kuliah online. Itu pasti bukan hal yang mudah buat dia, karena biasa anak seumuran dia kan masih mau main-main dengan teman seumurannya. Tapi anak ini sangat dewasa serta punya motivasi sendiri untuk maju," kata daddynya semakin bangga dengan adanya Darren hingga detik ini.
Walaupun usianya baru menginjak 22 tahun, Darren sangat bertanggung jawab dengan urusan kantor yang di ahlikan ke dia, karena daddynya ingin segera pensiun.
"Nah... itu dia anak tante. Bentar, tante panggilin dulu!" kata istri om Tio setelah menemukan keberadaan anak bungsunya. Ia menghampiri anaknya dan membawanya untuk diperkenalkan pada Darren. "Ini lo anak tante Aeri yang dulu main bareng ama kamu," lanjutnya setelah sampai di hadapan Darren.
*Valeri Agnes (Aeri)
Aeri menatap Darren, tapi Darren hanya sekilas melihat Aeri. Darren mengatupkan kedua bibirnya jadi satu menjadi senyum datar.
"Gimana Der anak om? Cantik gak?" tanya om Tio sambil menepuk pelan pundak Darren.
"Anak om... cantik," jawab Darren singkat sambil pura-pura senyum.
"Aeri, kamu pasti gak kenal sama cowok ganteng di samping papi ini. Dulu, waktu kalian masih kecil suka main bersama dan dia suka usilin kamu sampe kamu nangis. Kalo gak salah Aeri dua tahun lebih kecil umurnya dari Darren. Ya kan, Anton?" tanya om Tio pada daddy Darren seraya memastikan ingatannya.
__ADS_1
"Ya. Darren sekarang kan 22 tahun, brarti Aeri sekarang 20 tahun," jawab daddy membenarkan.
"Ayo kenalan lagi!" seru om Tio yang menyuruh Darren dan Aeri berkenalan ulang.
Darren maju duluan sambil mengulurkan tangannya. "Darren," sebutnya.
"Valeri, tapi panggil Aeri aja," katanya sambil menerima salam perkenalan Darren.
"Papi dan mami rencananya mau jodohin kalian berdua," bisik istri om Tio pada Aeri.
"Ih mami, apaan sih?" kata Aeri dengan tingkahnya yang malu-malu dan curi-curi pandang ke Darren.
Bukan Darren namanya kalau sikapnya tidak dingin pada setiap cewek yang baru dikenalnya. Ia kembali berdiri di belakang daddynya agar tidak jadi pusat perhatian keluarga om Tio. Sementara om Tio mengajak beberapa teman-temannya yang lain untuk berkumpul bersama dengan daddynya Darren. Mereka memperkenalkan dirinya masing-masing dan ada sebagian dari mereka yang mempromosikan usaha mereka, maklum perkumpulan kelas atas memang selalu seperti itu.
Saat seorang pramusaji lewat dengan nampan yang berisi lima gelas minuman koktail dan menawarkannya ke Darren, ia langsung mengambil salah satu gelas koktail tersebut. Menyicipi sedikit rasa koktail sambil mengangkat kedua alisnya sebagai respon kalau rasa koktailnya mengejutkan alias cocok dengannya sambil menatap tiga warna berselang indah dalam satu gelas yang dipegangnya.
"Darren, tante titip Aeri dulu ya. Kalian ngobrol aja! Tante mau nemuin temen-temen tante dulu," ujar istri om Tio yang buru-buru menarik tangan Aeri agar lebih dekat lagi ke sisi Darren dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kak, mmm...." Aeri mencoba buka suara memulai awal perbincangan mereka.
"Ya, kenapa?"
"Emang kakak belum ada pacar? Soalnya aku takut tar ada yang marah kalo aku deketan ama kakak," katanya malu-malu.
"Halo!" sapa Bella yang tiba-tiba datang dan merangkul tangan kiri Darren.
"Bella!" ucap Darren terkejut. "Lu datang ama siapa?"
"Tuh ama ortu!" tunjuknya ke arah ortunya yang sudah berkumpul bersama om Tio dan lainnya untuk saling menyapa.
__ADS_1
Tidak heran kalau keluarga Bella jadi salah satu tamu undangan om Tio, karena bisnis keluarga Bella juga sangat maju dan papanya Bella sudah ada nama di kalangan pebisnis.
Darren melepaskan tangannya dari Bella hingga wajah Bella cemberut. Bella juga menatap sinis ke Aeri. Dia melihatnya dari atas ke bawah. Tapi Aeri tidak merasa terintimidasi dengan tatapan Bella.
"Ini pacar kakak?" tanya Aeri seraya menatap Bella dengan senyum datarnya.
"Bukan," jawab Darren cepat.
"Oooo..." Aeri membentukkan bibirnya dengan huruf O kecil sambil tersenyum meledek ke arah Bella.
Bella risih melihat Aeri yang sengaja menanyakan status hubungannya dengan Darren. Dia pun menarik tangan Darren kali ini ke arah ortunya.
"Ngapain sih?" tanya Darren kesal dengan sikap Bella yang tiba-tiba menariknya.
"Ketemu ortu bentar," jawab Bella dengan nada cuek dan masih menarik tangan Darren.
Darren mencoba ikuti kemauan Bella dan di susul Aeri di belakangnya. Mereka mencoba berbaur dengan perkumpulan para orang tua mereka. Hingga Bella menepuk pelan punggung papanya, tidak serta merta menjadi pusat perhatian beberapa pasang mata termasuk om Tio dan istrinya.
"Pa, ini Darren mau menyapa," kata Bella yang sudah merangkul kembali tangan Darren.
"Om!" sapa Darren sambil membungkuk sepuluh derajat memberi hormat kepada papanya Bella, karena kedua tangannya sibuk sehingga tidak bisa bersalaman.
"Darren, lama tidak berjumpa. Sudah makin ganteng ya sekarang dan kelihatan lebih dewasa," puji papa Bella yang mencuri perhatian sekitarnya.
"Kalian sudah kenal akrab?" tanya om Tio yang maju ikut nimbrung.
"Ya, kami sangat mengenalnya. Anak ini anak baik dan dulu suka main ke rumah. Dia sangat menyukai Bella waktu itu," jawab papanya Bella yang membuat Bella tersipu malu.
"Ooo.. Jadi mereka sudah pacaran?" tanya om Tio memastikan hubungan mereka.
__ADS_1
"Belum, om," timpal Darren sambil tersenyum. "Kami tidak pacaran. Hanya sebagai teman, aku suka anterin dia pulang dan kami suka kerja kelompok bareng di rumahnya. Aku sudah ada..." kata Darren yang belum selesai.
"Aku pikir, kalian sudah pacaran. Berarti masih single ya?" sela om Tio tersenyum tanpa beban, sedangkan Darren mengernyitkan alisnya karena ia ingin memberitahu kalau ia sudah punya cewek yang diincernya, tapi belum ada kesempatan bicara. "Rencananya, aku ingin menjodohkannya dengan Aeri putri bungsuku. Tapi gak tau apakah mereka mau atau gak," lanjut om Tio yang membuat wajah Bella terlihat terkejut.