Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 68


__ADS_3

"Kalian masih disini?" tanya mami Via yang melihat mereka hanya berduaan di ruang ganti.


Sontak mereka kaget dan saling melepaskan diri. Darren yang salah tingkah di depan mami Via juga hanya berpura-pura membenarkan aksesoris yang dikenakannya.


"Der, tante pangling lo sama penampilan kamu. Tapi gakpapa kan kamu dandan seperti ini?" tanya mami Via yang ingin memastikan kenyamanan Darren.


"Nnggg... Gakpapa kok, tan," jawab Darren setelah melihat pakaian yang dikenakannya dan make up yang dipoles di wajahnya di depan meja rias yang letaknya berhadapan dengannya.


"Keren lo, Der!" puji mami Via yang membuat Darren senyum-senyum.


"Jadi sekarang mami terpikat dengan pacarku?" goda Via.


"Hahaha... Terpikat juga bisa apa? Emangnya Darren mau sama mami?"


Darren yang mendengar itu hanya senyum-senyum sendiri.


"Ih sih mami. Tar aku aduin ama papi lo," ancam Via sambil bergurau.


"Mau aduin apa coba?" tantang maminya.


"Ya... Aku bilang ke papi, kalo mami ketemu mantan versi mudanya," goda Via yang sontak membuat maminya menyubit pelan lengan Via.


Darren yang sedari tadi melihat keakraban ibu dan anak ini, baru mengetahui kalau kebiasaan menyubit Via turunan dari maminya.


"Der, jangan dengerin yang barusan Via ngomong! Ayo, kalian siap-siap! Via tampil duluan dan Darren tunggu aba-aba dari tante, baru keluar," jelas mami Via.


"Oke, tan."


Mereka keluar dari ruang ganti menuju layar belakang panggung berbarengan. Para model yang telah siap, mencoba berbaris sesuai tata susunan yang sudah ditetapkan. Darren yang paling akhir hanya berdiri dipojokkan sambil mengintip suasana sekitaran panggung catwalk yang sudah ramai dengan banyak tamu.


Setelah beberapa model keluar satu persatu berjalan di catwalk, kini giliran Via yang maju. Saat Via maju, tatapan Hendra tak luput memperhatikan Via. Diam-diam Darren juga memperhatikan Hendra yang sedang duduk sambil memperhatikan pacarnya sedari awal Via keluar tampil dipanggung.



*Hendra dan Via


Darren mencoba bersabar tapi dari segi tatapannya memang ia tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Ada beberapa model cewek bule asli lokal orang sana, datang menghampiri Darren yang masih berdiri dipojokkan sendiri. Mereka mencoba berbicara dengan Darren sambil mengenakan bahasa internasional. Rata-rata dari mereka mempunyai tinggi yang sama dengan Darren.


"Helo, boy!" sapa salah satu dari mereka yang mencoba mencari perhatian Darren.


Darren langsung melihat mereka yang berjumlah lima orang sedang senyum-senyum padanya.

__ADS_1


"Boleh foto bareng?" tanya yang lainnya.


Darren hanya mengangguk mengiyakan dan mereka foto bersama dengan posisi Darren berdiri ditengah-tengah mereka. Wajah Darren yang tanpa senyum membuat para cewek bule makin terpesona. Darren sendiri masih memperhatikan Via yang sudah hampir mau datang.


Salah satu cewek bule tersebut datang merangkul Darren dengan mesra. "Mau menghabiskan waktu bersamaku malam ini?" bisiknya ditelinga Darren.


Darren menghiraukan cewek itu dan menghampiri Via yang sudah tiba. "Maaf, malam ini aku akan menghabiskan waktuku buat dia," jawab Darren sambil merangkul Via dan menatap Via dengan tatapan mesra.


Sikap Darren berhasil membuat ke lima cewek bule itu menyerah dan bubar dengan sendirinya.


"Mereka, kenapa? Coba godain kamu?" tanya Via yang memperhatikan kelima orang tadi.


"Mm.." jawab Darren mengangguk. "Ada yang ingin minta ditemani olehku malam ini," lanjutnya.


"Apa? Mereka mau minta ditemenin kamu?" tanya Via balik sambil menunjukkan rasa cemburunya.


Darren mengangguk-angguk pelan dan memasang muka gak bersalahnya agar terlihat imut didepan Via. Tapi Via malah melihat Darren dengan tatapan kesal.


"Kok kamu malah kesel ama aku?" tanya Darren tak terima dengan tatapan itu.


Via berkacak pinggang. "Abis ini, kita langsung pulang!"


"Buru-buru mengajakku pulang, emang kamu mau melakukan apa?" goda Darren.


"Emang kamu bisa hajar aku?" tantang Darren. "Yang ada juga.... Aku taklukkin kamu."


"Der, siap-siap!" teriak mami Via yang suara lantangnya balapan dengan sound speaker yang kencang.


Darren hanya memberikan jawaban dengan dua jempol tangannya seraya mengatakan oke ke mami Via. Setelah salah satu model pria masuk, kini giliran Darren yang menjadi model terakhir yang tampil. Dengan gaya berjalannya yang cool dan gaya cara memamerkan apa yang dikenakannya, Darren banyak mencuri perhatian para tamu.



*Darren


Terlebih lagi saat Darren berjalan, tatapannya berpas-pasan dengan Hendra. Mereka saling pandang seperti ada dendam kesumat. Karena Darren yang paling akhir, maka setelah penampilannya yang memukau, para model sebelum-sebelumnya berikut mami Via dan Via ikutan berjajar dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan para tamunya. Tepuk tangan meriahpun diberikan untuk suksesnya acara pagelaran hari ini.


🌺Darren Pov🌺


Aku membawa Via pulang terlebih dahulu, karena maminya masih sibuk menerima banyak job pesenan. Via sedari tadi melirikku diam-diam saat berada di dalam mobil.


"Kenapa? Belum puas liatnya?" godaku sambil fokus menyetir.

__ADS_1


"Belum!" jawabnya sambil menyender dengan siku tangannya di pintu mobil.


"Liatlah sampe puas, karena esok aku akan pulang ke Indo," kataku yang membuat dia sedikit terperanjat dari posisinya.


"Benarkah? Kok cepet banget?" tanyanya seakan gak rela.


"Kan aku cuma tiga hari disini. Aku gak bisa lama-lama," sahutku.


Aku melihatnya memasang wajah kecewa. Lalu aku menggandeng tangannya dan menaruhnya di atas pahaku. "Aku akan menjemputmu saat kamu pulang nanti."


"Jadi boring deh gak ada kamu," keluhnya.


"Jadi.... Kamu mau aku lama-lama disini?" tanyaku yang ingin mendengar jawabannya.


"Tapi kan kamu mesti kerja. Aku gak boleh egois walaupun emang iya aku masih pengen berduaan ama kamu," akunya yang tampak manja.


Aku tersenyum puas mendengarnya. "Bagaimana kalo kita bersenang-senang?" usulku.


Dia melirikku. "Bersenang-senang?"


"Iya. Melakukan hal yang tertunda itu?"


Aku berhasil membuatnya tersenyum. Dia tampak malu-malu dan wajah manisnya ini sangat membuatku rindu nantinya setelah kepulanganku.


Sesampainya di hotel


Aku menggandeng tangannya dan aku mengajaknya ke kamar hotelku. Aku masuk terlebih dahulu dan dia ada di belakangku.


"Vi, tutup matamu!" pintaku yang sekarang posisi kami berdua masih diambang pintu kamar hotelku.


"Kenapa harus tutup mata?" protesnya.


"Tutup aja, jangan banyak tanya!" suruhku sambil membimbingnya jalan masuk kedalam.


Aku sengaja menggelapkan ruangan kamar hotel sebelum meninggalkan kamar ini. Walaupun gelap, tetap masih ada lampu tidur pojok yang menyala dengan cahaya redup.


"Duduk sini!" perintahku sambil menundukkan kedua pundaknya seraya menyuruhnya duduk.


Ia menurut saja dan meraba-raba sofa yang tengah ia duduki. "Belum boleh buka?"


"Belum!" jawabku. "Janji ya jangan buka matanya dulu!"

__ADS_1


"Ya!" jawabnya.


Aku menyalakan lampu kamarku, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong celanaku. Sekarang aku duduk disampingnya dan memastikan ia masih menutup kedua matanya.


__ADS_2