Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 17


__ADS_3

Via kembali ke ruangannya dan memeriksa kembali pesanan dari klien luar negeri yang baru saja di terima.


"Andien!" panggil Via dari pintu ruangannya yang terbuka.


"Ya, bu!" sahut Andien.


"Tolong bantu saya mengecek model apa saja yang diminati klien baru kita kali ini!"


"Baik, bu!"


Via mengirim pesan singkat dari kliennya ke email Andien, karena Andien yang cukup peka dengan permintaan para klien Via selama ini dan sangat membantu meringankan pekerjaan Via.


*****


Ferdy sudah kembali ke apartemen dan rencananya malam ini akan mengundang Darren untuk merayakan kepulangan Ferdy. Via tampak menyiapkan bahan untuk acara barbequean nanti malam. Ferdy juga menyiapkan beberapa kaleng bir. Di tengah-tengah kesibukkan mereka, tiba-tiba pintu apartemen mereka berbunyi.


"Fer, coba liat de siapa yang dateng!" seru Via yang masih sibuk dan tangannya belepotan dengan bumbu dapurnya.


"Palingan si Darren," tebak Ferdy sambil membukakan pintunya.


"Hai, Fer! Welcome home!" ucap Darren senang sambil membawakan makanan ringan.


"Gak usah repot-repot kali, bro."


"Gak repot kok. Perlu bantuan apa nih?" tanya Darren sambil melihat ke sekitar ruangan.


"Gak ada. Lu duduk aja sana!" jawab Ferdy.


"Gimana bro selama di sana?"


"Sebelum Ferdy jawab, sini bantuin aku bawa daging-daging ini ke sana!" pinta Via pada adik-adiknya.


"Siap! Laksanakan!" jawab Darren cepat sambil membawa dua piring daging yang telah di bumbui dan siap di panggang.


Ferdy sudah siap dengan alat capitnya sambil menjaga suhu panas dari mesin panggang barbeque kami. Setelah di rasa cukup panas, Ferdy mulai memanggang beberapa daging di atas mesin tersebut. Sedangkan Darren hanya duduk santai melihat kesibukkan Ferdy. Via sendiri sedang mencuci buah anggur di dapur.


"Gimana, bro? Seru gak waktu di sana?" tanya Darren penasaran dengan cerita Ferdy.


"Ya, seru-seru aja sih, bro. Di sana, gue kek aktor gitu. Banyak cewek-cewek di desa sana yang naksir ama gue. Mereka suka bawa makanan tiap harinya buat gue. Bahkan tuh rumah sakit desa, bukan rame karena pasien yang sakit, malah karena cewek-cewek narsis yang sibuk cari gue buat ngajakin kencan. Ancur gak bro? Hahahaha...." cerita Ferdy yang sontak membuat Darren ketawa juga.


"Ketawa kok gak ajak-ajak," kata Via yang baru datang dengan sebakul buah anggur yang di taruh di meja kecil terdekat sambil duduk di kursi santainya.

__ADS_1


"Itu lo Vi yang tadi aku ceritain tentang rumah sakit yang bukan diisi oleh pasien," kata Ferdy mengingatkan.


"Ooooo... yang itu? Hahaha... Asli kocak banget tuh para cewek."


"Bro, mending lu jadi aktor aja. Keknya cocok de."


"Waduhhh... gak de, bro. Gue gak suka. Kebayakkan akting palsu. Ribet."


"Dia mah anak kuper, Der. Tar filmnya malah gak laku lagi, kalo dia yang maen. Hahahaha...." ejek Via.


"Bisa aja," timpal Darren.


"Kalian berdua suka ngumpul saat gue gak ada?"


"Ada. Tapi cuma bentaran doang," jawab Via.


"Di sini?" interogasi Ferdy.


"Gak lah. Di kantor masing-masing," jawab Darren.


Hati waspada Ferdy terjawab sudah, kalau kakak perempuannya dengan Darren tidak mungkin melakukan hal-hal aneh di apartemen ini saat dia tidak ada. Beberapa saat kemudian, daging hasil panggangan Ferdy sudah matang.


"Wihhh... Wangi banget," kata Via sambil menghirup aroma daging yang telah matang. "Mmmm.... Enak," lanjutnya saat sudah memasukkan sedikit daging ke dalam mulutnya.


"Ferdy gitu lo," ucap Ferdy bangga.


Mereka tertawa dan makan bersama. Ferdy sangat antusias menceritakan pengalamannya saat di desa kemarin. Sepanjang cerita Ferdy, Darren tertawa terus-menerus. Sedangkan Via asyik dengan cemilan buah anggurnya dan bermain dengan ponselnya. Via bukan sedang main game di ponselnya, melainkan membalas pesan dari Aldo.


Darren yang menyadari kesibukkan Via, sesekali tampak sedikit mengingip ke arah ponsel Via karena mereka duduk berdekatan. Walaupun tidak begitu terbaca jelas, Darren hanya ingin tahu siapa yang di ajak chat oleh Via.


🌺Darren Pov🌺


Aku mesti tau nih siapa yang chat ama Via. Kebetulan si Ferdy lagi ke kamar mandi sebentar, jadi bisa mencoba mendekati Via saat ini. Aku mencoba agak menggeser sedikit kursiku agar lebih dekat lagi jaraknya dengannya tanpa sepengetahuan dia.


Sambil berpura-pura menikmati minumanku, aku melirik ke arah layar ponselnya. Jari tangannya sangat aktif mengetik huruf-huruf untuk membalas chat lawan bicaranya. Dengan memicingkan mataku agar lebih kelihatan, aku tau kalau itu adalah Aldo. Ngapain coba si Aldo tua itu chat di tengah-tengah kami lagi party? Gak bisa di biarin.


"Vi!" panggilku untuk mengalihkan perhatiannya, tapi malah di cuekkin.


Sambil menaruh gelas minumanku ke atas meja, aku mencoba menatap wajahnya lebih dekat.


"Viaaaa!"

__ADS_1


Kelihatan dia sangat kaget. "Apaan? Bikin kaget aja sih," dengusnya kesal.


"Tadi aku panggilin tapi gak di jawab. Sorry!"


"Kenapa, Der?" Dia menghentikan bermain dengan ponselnya dan menaruhnya di atas meja.


"Kamu serius sama si teman kencan kamu waktu itu?"


"Oooo... Aldo?"


"Nngg.."


"Kami hanya baru pendekatan aja sampai sekarang. Emang kenapa?"


"Emang dia orangnya gimana?"


"Sejauh ini masih sopan dan perhatian."


Dongkol banget dengernya. Si Aldo tua ini mau merebut hati Via. Gak boleh di biarin nih.


"Emangnya aku gak perhatian ama kamu?" tanyaku dengan nada sedikit kesal.


Dia melongo dan kemudian tersenyum mengejek. "Kamu? Mmmmm...." gayanya sambil mulai berpikir. "Hahahaha....." tawanya kecil. "Apaan sih? Kita kan saling memperhatikan selama ini."


Sudah kuduga dia akan jawab seperti itu. Dia emang mati kutu kali kalau ama aku. Apa aku kurang waktu ya untuk mendekatinya?


"Iya. Iya. Aku mau dong kenalan ama Aldo itu."


"Boleh! Dua hari lagi aku mau ketemuan sama dia di sebuah acara pernikahan sepupunya. Kamu bisa ikut denganku jika ingin mengenalnya."


"Oke. Tar kita pergi bareng ya!" ajakku yang tidak sabar.


"Oke, Der. Nanti aku beritau dia kalau kita pergi bareng ke acara itu."


What?? Baru kenal gak berapa lama sudah berani mau ngenalin Via ke anggota keluarganya. Emang gaya pendekatan seumuran mereka harus sekilat itu ya? Keknya aku juga harus agak serius dapetin hati Via. Cuma aku yang boleh miliki dia.


"Ferdy lama amat ya?" tanyaku karena mulai jenuh akibat moodku yang tiba-tiba jelek.


"Lagi pup kali," terka Via. "Itu dagingnya masih banyak lo, Der. Di makanin ya! Sayang kalau gak abis."


"Ya, tar aku makan perlahan."

__ADS_1


Aku hanya mencomot dikit daging-daging panggang itu, karena gak begitu selera makan. Aku mulai menghajar (minum) sebuah kaleng bir agar perasaanku lebih baik.


__ADS_2