
"Hen, aku harap kamu bisa mengerti kalo cinta datang bukan karena paksaan. Itu murni dari dua hati yang saling mencintai. Kamu adalah teman terbaikku. Aku ingin kamu bahagia dengan orang yang bisa memberikanmu cintanya."
Hendra menangis mendengar ucapan Via. "Aku gak bisa kehilangan kamu lagi. Via, aku mohon! Jangan pergi!" Hendra bertekuk lutut di depan Via menjatuhkan harga dirinya.
Via segera membantu Hendra untuk berdiri. "Hen, jangan seperti ini! Ayo, bangun!" pinta Via yang berusaha sedari tadi membangunkannya, tapi tidak berhasil karena tidak kuat mengangkatnya.
Sikap Hendra yang seperti ini menjadi tontonan beberapa orang lewat. Via jadi risih dan bingung bagaimana cara menghadapinya. Hendra yang saat ini tampak kacau seperti seorang anak kecil yang merengek pada ibunya untuk dibelikan mainan.
"Hen, aku bener-bener minta maaf. Aku sangat mencintai Darren. Aku mohon sama kamu, lupakan aku! Jangan sakiti dirimu sendiri seperti ini! Aku janji gak akan melupakan jasamu sebagai temen terdekatku," kata Via sambil ikutan bersujud bersamanya dan merangkulnya untuk menenangkannya.
Hendra menutup kedua matanya dengan telapak tangannya. Sepertinya ia belum bisa menerima kenyataan kalau hubungannya dengan Via hanya sebatas teman, walaupun ia telah memohon sekalipun tetap tidak bisa merubah keadaan.
"Hen, maaf aku harus uber waktu. Kamu, gakpapa?" tanya Via meyakinkan kondisi Hendra setelah melihat arah jarum jam tangannya.
Hendra buru-buru mengelap air matanya dengan lengan jasnya. "Maaf! Aku membuatmu jadi telat. Kamu segera urus keperluanmu. Aku akan mengantarmu," kata Hendra yang sudah mulai berdiri.
"Sebaiknya aku naik taksi aja," kata Via yang merasa tidak enak hati setelah kejadian ini.
"Jangan! Aku akan mengantarmu," jawabnya dengan nada ngotot.
"Kamu yakin bisa mengantarku dengan kondisi kamu yang sekarang ini?" tanya Via memastikan.
"Ya! Lebih baik aku yang mengantarmu agar aku gak khawatir. Aku akan menunggumu di parkiran. Kamu siap-siaplah sekarang!" katanya sambil berlalu pergi dengan lift yang baru terbuka.
Via juga segera masuk ke dalam kamar hotelnya dan mengemasi seluruh barangnya. Setelah beberapa menit barang sudah dikemas, ia memeriksa kembali ponselnya. Tapi sangat disayangkan karena baterai ponselnya habis total.
"Haduh, kenapa pake acara mati segala nih hp. Mau cas juga gak keburu. Mana gak bawa powerbank lagi," kata Via dengan raut wajah kecewa sambil menatap ponselnya.
Kemudian ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempangnya. Ia segera ganti baju dengan cepat dan langsung menemui Hendra di parkiran basement hotel.
"Sudah semua? Gak ada yang ketinggalan?" tanya Hendra mengingatkan.
"Gak. Aku sudah bawa semua," jawab Via yakin.
Hendra membukakan pintu mobil bagian penumpang depan untuk Via. Setelah itu, ia membantu Via memasukkan kopernya ke bagian bagasi mobil.
Selama dalam perjalanan, Hendra hanya termenung. Via sesekali mencuri pandang menatap Hendra, karena ingin memastikan keadaan Hendra saat ini.
__ADS_1
"Hen, kapan kamu pulang ke Indo?" tanya Via yang memecahkan kesunyian.
"Kalo kamu minta aku pulang, maka aku akan pulang saat ini juga," jawab Hendra tegas.
Via hanya tersenyum datar. "Setidaknya kamu pulang untuk keluargamu, bukan untuk aku."
Hendra fokus menyetir dan kini berhenti pas di lampu merah. "Aku akan pulang nanti," kata Hendra sambil melirik menatap Via.
"Baguslah! Aku pasti akan menemuimu."
"Kamu mau menemuiku?" tanyanya yang masih melirik Via.
"Ya. Bagaimanapun kan kita adalah teman lama."
Hendra tersenyum datar sambil melajukan lagi mobilnya setelah rambu berubah menjadi warna hijau.
"Hen, aku doakan semoga kelak kamu bisa mendapatkan pasangan yang serasi denganmu."
"Terima kasih," jawabnya sambil tersenyum tipis. "Apa rencanamu setelah kamu sampai ke Indo?"
"Jika iya benar itu adalah dia?" tanya Hendra penasaran.
"Gak mungkin," jawab Via diantara keraguan.
"Kalo emang gak mungkin, kenapa harus memeriksanya?"
'Benar juga kata Hendra,' batin Via. Via terdiam.
"Kamu harus mengakui kalo kamu meragukan Darren."
Via menatap keluar jendela kaca mobil melihat sibuknya kendaraan yang berlalu lalang.
"Aku memang takut dipermainkan olehnya," kata Via sambil tertunduk.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Iya. Apa, Hen?"
__ADS_1
"Jika benar sesuatu telah terjadi pada Darren..... maksudnya jika benar Darren dengan wanita lain, apa kalian akan langsung putus?" pertanyaan ini mewakili harapan Hendra yang sesungguhnya.
🌺Via Pov🌺
Aku tertegun dengan pertanyaan Hendra. "Nnngggg.... Bisa jadi.... kami akan putus," jawabku sambil membayangkan jika benar-benar itu terjadi.
Aku tidak bisa menerima Darren yang sudah tidak menghargai hubungan ini. Dia sudah melamarku tapi tiba-tiba dia ada hubungan dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku.
"Jika kalian sudah putus, apakah aku punya kesempatan mendekatimu?"
Hendra masih ingin berjuang mendapatkan hatiku. Tapi...
"Aku akan menunggumu sampai kamu mau menerimaku nanti," lanjutnya yang penuh harapan besar padaku.
Sesampainya di bandara Eropa
Hendra dan aku berpisah setelah aku dikejar waktu yang sebentar lagi sudah mau naik pesawat. Aku hanya mengucapkan selamat tinggal padanya sebagai salam perpisahan kami. Dia pun hanya berpesan padaku agar aku mengabarinya jika aku sudah sampai.
Hendra, tadi aku mau bilang, walaupun kamu berjuang seperti apapun untuk mengejarku, tapi aku tetap tidak akan mengubah perasaanku dan hanya bisa menjadi temanmu saja. Karena bagiku, teman lebih abadi daripada harus menjadi pasangan kekasih. Semoga kamu dapat menemukan pasangan yang selaras denganmu. Maafkan aku Hen karena hati tidak bisa bohong.
Aku mengejar waktuku dengan langkah kaki setengah berlari setelah check in. Pesawat akan terbang dalam kurun waktu lima belas menitan lagi. Aku harap setibanya di Indonesia, aku bisa mendapatkan kabar baik. Aku sudah terlanjur mencintai Darren dan aku tidak benar-benar mengharapkan apa yang Hendra bilang tadi akan terjadi.
Sesampainya di depan pintu pesawat, seorang pramugari cantik sudah menyambutku dan memeriksa tiket penumpangku.
"Kursi anda di sebelah kiri, nona," katanya sambil mengalihkan pandanganku ke sebuah kursi penumpang pesawat yang kosong.
"Terima kasih," sahutku atas pelayanannya yang ramah.
Aku berjalan sepanjang koridor pesawat ke kursi penumpangku. Letaknya agak pojok dekat jendela pesawat. Aku segera duduk dan memasang sabuk pengamanku.
"Selamat tinggal Eropa," kataku pelan sambil menghadap ke jendela kaca.
Tidak lama kemudian, pintu pesawat ditutup. Aku mengehela nafas lega karena tidak lama lagi akan sampai ke Indonesia.
Enam belas jam berlalu dan tiba di bandara internasional Jakarta.
Aku menarik koperku setelah keluar dari bagasi pesawat. Aku tidak mengeluarkan ponselku sama sekali karena daya baterainya mati. Akhirnya aku memutuskan untuk ke toilet sebentar. Setelah itu aku berjalan mengikuti petunjuk arah keluar.
__ADS_1