Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 27


__ADS_3

Aku membolak-balikkan kertas mengenai data history tentang PT. Aksara Indah dan menemukan satu foto profil di sana. Memang sangat kecil ukuran foto tersebut. Tapi kemampuan melihatku cukup tajam.


"Oooo... Ternyata dia..." kataku sambil menjentikkan jariku ke selembar kertas yang terpampang foto berukuran 2x3 pas foto disana.


"Bapak, kenal?" tanya Lukas dengan wajah shocknya.


Aku hanya senyum saja dan aku melirik pak Eko. "Kabari dia, suruh datang kapanpun dia mau!"


"Baik, den! Saya akan menghubungi asistennya dulu," kata pak Eko sambil keluar dari ruanganku.


"Lukas, terima kasih atas infonya. Lanjutkan pekerjaanmu!"


"Baik, pak. Permisi!" pamitnya.


Aku berdiri di depan jendela kaca kantorku. Di lantai dua belas aku berdiri sekarang, terlihat keramaian di luar. Rambu-rambu lalu lintas yang sibuk bekerja untuk para pemilik kendaraan, bus trans yang sibuk berhenti dan jalan lagi mengantar penghuninya sampai ke tujuan, bahkan ada beberapa pejalan kaki yang sibuk menyeberang di trotoar. Setiap hari pemandangan seperti ini tidak ada yang berubah.


'Tok...tok..' suara ketukan pintu ruanganku kembali.


"Masuk!" jawabku sambil berpaling ke arah pintu.


"Permisi, den! Tadi saya sudah menghubungi asisten Bapak Reynaldo, dia bilang mereka akan tiba ke sini pukul 15.00," info dari Pak Eko setelah ia masuk.


"Wah.. Cepat juga! Kalau gitu kita tunggu saja kedatangan mereka. Hari ini aku juga gak ada jadwal lain. Pak Eko, nanti bantu saya seperti biasa."


"Baik, den. Saya keluar dulu," pamitnya lagi.


Menunggu hingga pukul 15.00 cukup membosankan, karena sekarang jam tanganku masih pukul 11.00.


'Drrttt... drrttt...' bunyi getaran notifikasi chat yang baru masuk ponselku.


Aku membuka layar kunci ponselku dan menemukan chat masuk dari....


^^^๐Ÿ‘€'Darren!'^^^


"Nomor siapa ini?" Aku tidak mengenal nomor ponsel yang baru masuk.

__ADS_1


^^^๐Ÿ‘€'Apakah ini benar nomor Darren Xander?'^^^


Kira-kira ini nomor ponsel siapa? Sepertinya bukan nomor kode area negara sini.


๐Ÿง‘'Siapa ya?'


^^^๐Ÿ‘€'Ini gue, Bella.'^^^


What? Bella?


๐Ÿง‘'Bella yang mana๐Ÿค”?'


^^^๐Ÿ‘€'Emang temen lu yang namanya Bella Tsania ada berapa di dunia ini?'^^^


๐Ÿง‘'Oh... Elu Bel, sorry! Gue baru ngeh. Tau nomor gue darimana?'


^^^๐Ÿ‘€'Pertanyaan yang harusnya lu tanya tuh kabar gue baik gak disini, bukannya masalah gue tau dari siapa nomor ponsel elu. Dasar Darren jutek! Nyebelin banget sekarang๐Ÿ˜ซ.'^^^


๐Ÿง‘'๐Ÿ˜’ Ya deh gue salah. Gimana kabar lu di sana?'


๐Ÿง‘'Kenapa pulang? Bukannya kuliah lu belum selesai? Emang lu pulang sini mau ngapain? Mo kerja?'


^^^๐Ÿ‘€'Gue kangen ama ortu gue, ama temen-temen gue, and ama lu Der. Emang lu gak kangen ama gue๐Ÿ˜ž?'^^^


Kangen? Perasaan aku sekarang dah biasa aja. Sudah gak seperti dulu yang selalu menempatkan kamu di posisi pertama dalam hidupku.


๐Ÿง‘'Biasa aja. Gue aja kuliah sambil kerja di sini. Emang gak sayang kuliah lu gak tamat?'


^^^๐Ÿ‘€'Ih kok sekarang lu berubah sih? Pasti uda ada cewek ya sekarang makanya sok cool dan cuek ke gue sekarang.'^^^


๐Ÿง‘'Bel, kita tuh dah dewasa bukan anak baru gede kemaren. Please deh open minded! Gue mau kerja dulu ya.'


^^^๐Ÿ‘€'Besok gue tiba di Jakarta pukul 13.00. Gue mau lu yang jemput gue. Awas aja kalo lu gak jemput๐Ÿ˜ก.'^^^


๐Ÿง‘'Besok gue gak bisa, karena gue jam segitu masih kerja. Lu kan bisa suruh orang rumah lu yang jemput.'

__ADS_1


^^^๐Ÿ‘€'Pokoknya gak ada penolakkan. Kalo gak, gue bakal marah besar ke elu.'^^^


๐Ÿง‘'Terserah deh lu mau gimana, pokoknya sorry besok gue gak bisa jemput.'


Aku sudahi saja chat kami. Dari dulu gak berubah, tetap aja manja. Salah aku juga sih yang dari awal kenal udah manjain dia banget. Apa yang dia mau selalu kuturuti, tapi dianya tidak bisa merespon niat aku. Padahal dia satu-satunya cewek yang aku sayang waktu itu.


Aku membuka laci meja kerjaku. Mengeluarkan selembar foto yang telah lama ku simpan dan hanya satu-satunya yang ku punya. Foto siapa lagi kalau bukan foto cewek yang pernah menghiasi indahnya hidupku. Dia, Bella Tsania. Foto kala itu dia masih berumur delapan belas tahun, sangat cantik dan selalu mempesona.


Aku sudah mengenalnya sejak kami di bangku SMA. Dia cewek favorit kaum adam pada masa itu, salah satunya ya aku. Aku sampai membantunya mengerjakan pekerjaan sekolah agar dia bisa cepat selesai dan menemaniku setiap saat. Teman-teman bahkan para guru sudah mengira kalau kami pacaran, karena dimana ada aku pasti ada dia. Kami berdua juga adalah kontestan pemenang pasangan terbaik pada acara pesta prom yang di selenggarakan pas akhir pesta perpisahan di sekolah. Tapi saat itu juga aku baru tau kalau dia menyukai kakak laki-laki dari teman baikku Yuda. Dia selalu berusaha mendapat perhatian kakaknya Yuda yang bernama Hendra Wijaya. Entah sudah berapa lama mereka kenal, aku juga tidak begitu paham. Aku hanya tau kalau dia suka menyuruhku mengantarnya ke tempat kursus bahasa Jerman yang ternyata guru bahasanya adalah si Hendra itu. Tapi emang dasar akunya aja yang terlalu ngebet ama Bella sampai takut kehilangan dia, makanya mau aja nurutin apapun yang dia mau.


Jika mengingat memori lama dengan Bella, membuatku bergidik geli sendiri. Sampai-sampai bulu romaku bangun sendirinya saking gelinya membayangkan perbuatanku saat itu yang mendewikan Bella. Kini... semua sudah berakhir, tapi rasa sayangku ke Bella masih ada walaupun tidak seperti dulu.


๐ŸŒบAuthor Pov๐ŸŒบ


Waktu pukul 15.00 telah tiba


Darren sudah duduk di kursi bosnya yang empuk menantikan kedatangan tamu spesialnya yang sudah berada di dalam lift bersama Pak Jil.


'Ting!!' bunyi petanda lift telah tiba di lantai 12.


Pintu lift terbuka lebar dan Pak Jil mempersilahkan para tamunya mengikutinya ke ruangan Darren. Tamu yang dimaksud adalah Reynaldo Kusuma dan kedua orang terpercayanya. Mereka berpakaian formal dengan gaya jalan bossy membuat para karyawati yang bekerja di sana terpesona sambil mengintip-intip mereka sampai arah tujuan.


'Tok..tok..' suara ketukan pintu ruangan Darren.


"Masuk!" jawab Darren dari dalam.


Pak Jil membuka pintu ruangan kantor Darren dan mempersilahkan para tamu masuk ke dalam. Pak Eko juga sudah sejak sedari tadi menemani Darren di dalam sambil berdiri menyambut para tamu.


"Selamat siang, Pak Reynaldo!" sapa Pak Eko sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Siang juga," sambut hangat Reynaldo sambil menerima uluran tangan Pak Eko.


"Selamat datang di perusahaan kami! Silahkan duduk bapak-bapak sekalian!" kata Pak Eko mempersilahkan para tamunya segera duduk di sofa ruangan.


Reynaldo sudah duduk di sofa dengan posisi tegak sambil membuka satu kancing jasnya. "Mmm... Pak Darrennya...." katanya sambil mencari keberadaan Darren yang belum terlihat.

__ADS_1


__ADS_2