
"Sudah jangan dipikirkan lagi. Ada aku yang selalu lindungin kamu saat Darren gak ada. Semoga dia juga gakpapa."
"Ya, aku juga berharap begitu."
Disaat genting begini, untungnya ada Ferdy. Setelah beberapa mil perjalanan, akhirnya kami tiba di lokasi tujuan. Tepatnya disebuah pabrik usang yang telah lama gak di pake.
"Apa bener ini tempatnya?" tanyaku yang bingung dengan kondisi tempatnya.
Tiba-tiba sebuah mobil datang dan lampu sorotnya menyilaukan pandangan mata kami. Si pemilik mobil itu turun dari mobilnya. Ternyata dia adalah Hendra. Hendra turun dari mobil dan menghampiri kami.
"Kalian sedang apa di sini?" tanyanya penasaran.
"Harusnya aku yang tanya, sedang apa kamu disini?" tanyaku yang penasaran juga dengan keberadaannya.
"Aku mengikuti mobilmu saat terjadi kecelakaan motor. Aku kebetulan mau menuju pulang. Jadi aku sengaja ikutin kalian sampe ke sini. Kalian ada keperluan apa malam-malam ke sini?" jawabnya.
"Darren tidak di temukan sejak kemaren. Ferdy menyuruh temennya melacak GPS Darren dan lokasi yang kami temukan disini."
Hendra dan kami melihat keadaan sekitaran. Ada beberapa kaca yang bisa digunakan untuk mengintip.
"Ayo, kita coba periksa lewat jendela itu!" ajak Ferdy yang bawa jalan terlebih dulu.
Aku dan Hendra mengikutinya dari belakang dan kami jalan mengendap-endap karena takut ada yang dengar. Dari balik jendela, kami menemukan Darren sedang diikat kedua tangannya jadi satu dengan seutas tali. Di dalam ada beberapa pria bertato berperawakan gagah menemani Aeri yang sedang menikmati pemandangan di depannya, yakni pose Darren dengan bertelanjang dada. Aeri merasa gemas dengan penampilan Darren yang menurutnya seksi. Sesekali Aeri meraba bidang datar tubuh Darren.
*Darren dan Aeri
"Kita harus bagaimana?" tanyaku panik setelah melihat kondisi Darren dengan sedikit lebam di pipinya.
"Aku akan coba masuk dari jendela lain. Kau tunggu kami di sini!" perintah Ferdy.
"Aku ikut denganmu!" kata Hendra yang menawarkan diri.
"Gakpapa nih?" tanya Ferdy memastikan.
__ADS_1
Hendra hanya mengangguk pelan dan yakin. Aku langsung menghubungi polisi dan memberitahu lokasi kami saat ini.
"Kalian ati-ati!" pesanku sambil menunggu di luar.
"Via, jaga dirimu!" pesan Hendra.
Ferdy membawa jalan terlebih dahulu bagaimana caranya ia diam-diam masuk lewat salah satu jendela yang ternyata pintu jendelanya agak rusak. Dengan hati-hati mereka manjat ke dalam sambil membawa tongkat kayu untuk jaga keselamatan mereka.
Hendra dan Ferdy bergerak bersama memukul punggung para pria bertato itu hingga terjatuh tak sadarkan diri. Untungnya Ferdy jago berkelahi, sedangkan Hendra hanya bisa pasang aksi dan melakukan perlawanan sebisanya.
Dari balik jendela kaca yang rusak, aku mengintip dan mendengar apa yang terjadi di dalam sambil menunggu kedatangan polisi yang sudah menuju ke sini.
Aeri mengacungkan senjata api ke arah Ferdy dan Hendra setelah aksinya ketahuan. "Bagus! Penyelamatmu sudah datang, kak," kata Aeri sambil melirik ke Darren sambil tersenyum smirk.
Tampak sekali Darren tidak ada tenaga. Dia sudah kelihatan dehidrasi. Mau berontak seperti apa juga sudah tidak berguna.
"Lepaskan, dia!" perintah Ferdy yang menyuruh Aeri melepaskan Darren.
"Hahahaha.... Aku belum puas bermain. Atau aku bermain dengan kalian saja?" tawar Aeri yang masih mengacungkan senjatanya ke Ferdy dan Hendra bergantian.
"Aku gak suka dengan permainan gilamu," jawab Ferdy.
Ferdy sengaja mengulur waktu, sambil menunggu kedatangan polisi. "Permainan apa yang ingin kau main denganku?"
"Denganmu? Kenapa tidak kalian berdua? Kan kalian masuknya berdua," tanyanya seraya melirik ke Hendra.
Hendra melirik ke Ferdy seraya memberitahu kalau dia juga bersedia menemani Ferdy dan Aeri bermain walaupun di wajahnya sangat kelihatan tegang sekali.
"Gimana?" tanya Aeri yang menunggu pendapat mereka berdua.
"Ok!" jawab Hendra.
"Cepat beritau kami permainan apa yang harus kami ikuti!"
"Sabar! Gak usah buru-buru! Di pistolku ini ada lima peluru. Aku akan keluarkan dua peluru. Aku sisakan tiga peluru dan ku kasih jarak."
__ADS_1
'Apa? Aeri mengajak mereka bermain dengan taruhan nyawa mereka.'
"Jika aku menembak salah satu dari kalian dan ternyata tidak ada pelurunya, kalian selamat! Jika ada pelurunya, ya... berakhir," katanya tanpa wajah berdosa.
'Oh Tuhan, polisinya kenapa belum tiba sih?'
"Aku mulai ya!" katanya sambil menarik pelatuknya dan mengarahkan ke Ferdy terlebih dulu.
Hendra tampak tegang dan pucat pasi setelah melihat pistol Aeri tepat di depan Ferdy yang entah itu akan kena di bagian mana. Ferdy memejamkan matanya dan siap menerima permainan gila dari Aeri.
'Oh Tuhan, lindungilah adikku, Hendra dan Darren!'
"Satu... Dua... Ti... ga!" Dalam hitungan ketiga, Aeri menarik pelatuknya dan.... Ferdy selamat tanpa luka sedikitpun.
Ferdy yang merasa dirinya baik-baik saja sudah sangat shock. Ia hanya bisa meraba-raba anggota tubuhnya saja mengecek kalau dia baik-baik saja.
"Oke, kamu selamat! Sekarang giliran temenmu!" lanjut Aeri sambil menarik lagi pelatuknya dan ia berhitung seperti sebelumnya.
Dalam hitungan ketiga, dia sudah mendaratkan satu peluru ke arah Hendra. Tapi karena Ferdy melihat peluru tersebut keluar dari pistol Aeri, Ferdy mendorong Hendra hingga jatuh ke samping dan peluru tersebut mengenai lengan tangan kiri Ferdy.
"Ferdy!!" teriakku yang gak sanggup lihat dirinya terluka.
Aeri yang sadar akan kehadiranku dari balik jendela luar, dia segera mengarahkan pistolnya ke arahku. Dia segera menarik pelatuknya dan...
'Dor!' bunyi satu letusan pistolnya.
Aku bersembunyi dari balik tanganku untuk berlindung walaupun itu hal yang tidak mungkin. Tapi... Aku tidak kenapa-kenapa.
"Hendra!!" panggil Ferdy yang melihat Hendra kena tembakkan di bagian dadanya karena mencoba melindungiku tadi.
"Hendra!" teriakku tapi belum berani masuk ke dalam.
Tidak lama kemudian mobil polisi berdatangan. Aeri merasa di kepung dan pelurunya habis, sehingga ia tidak bisa buat apa-apa. Akhirnya, Aeri di tangkap. Hendra segera di larikan ke rumah sakit terdekat untuk tindakan lanjut. Aku, Ferdy dan Darren juga ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan kondisi kesehatan kami masing-masing.
Aku yang baik-baik saja menunggu kedatangan pihak keluarga Hendra dan Darren setelah aku hubungi. Mereka sampai dengan cepat ke rumah sakit. Hendra masih menjalankan operasi pengeluaran peluru dan jahit di bagian dadanya.
__ADS_1
Darren juga lagi dalam penanganan dokter karena sudah dehidrasi dan pingsan saat kami menolongnya tadi. Ferdy sedang menjalankan operasi kecil untuk lengan tangannya yang kena tembakkan tadi.
Di depan pintu ruang operasi yang masih berjalan, aku mondar-mandir ingin tau apakah Hendra akan baik-baik saja. Bagaimanapun aku telah berhutang nyawa padanya.