Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 70


__ADS_3

Disuruh cium, dia nurut saja. Dia malah mencium pipi kananku. Aku masih senang mengerjainya.


"Kalo cium tuh yang bener gini nih," unjukku sambil menarik jenjang lehernya lebih maju dan aku cium bibir mungilnya.


Dia menutup kedua matanya, aku tersenyum dibaliknya. Kemudian kami mulai meresapi ciuman kami. Dari ritme pelan lalu ke ciuman yang makin mendalam hingga bergulat lidah. Sensasi ini membuat jemari tangan Via bermain di belakang kepalaku. Walaupun Via sedikit tidak terkontrol, tapi aku bisa lihat betapa seksinya dia saat ini.


πŸŽΆπŸ“² Tiba-tiba panggilan masuk ponsel Via berbunyi.


Via mengambil ponselnya yang sedari tadi berada di atas meja. "Mami!" serunya ketika melihat nama yang muncul dilayar ponselnya.


πŸ“ž"Ya, mi!" jawabnya ketika sudah mengangkat panggilan masuk sambil menekan tanda loudspeaker pada ponsel layar sentuhnya.


πŸ“ž"Vi, mami gak pulang ke hotel malam ini. Kerjaan mami masih banyak dengan customer mami di Milan. Besok kamu bantuin mami ya karena mereka juga mau order aksesoris kamu. Mami ke hotel terdekat daerah sini aja karena udah terlalu capek dan gak enak sama Hendra yang bakalan bolak balik nanti anterin mami."


Karena jaraknya dari Milan ke hotel yang kami tempati saat ini kurang lebih makan waktu empat puluh menitan.


πŸ“ž"Oke, mi. Besok aku anterin Darren dulu ke bandara, baru ke tempat mami ya."


πŸ“ž"Besok Darren sudah balik ke Indonesia?


πŸ“ž"Ya, mi."


πŸ“ž"Tolong ucapin buat Darren, mami sangat berterima kasih atas bantuannya hari ini. Oh ya, mami lupa satu hal. Mami mau keluarin beberapa desain mami lagi, tapi mau minta tolong Darren yang jadi modelnya. Apa kira-kira dia punya waktu? Coba kamu tanya ke dia."


Via melihatku seraya ingin tau jawabanku.


πŸ“ž"Tan, maaf kalo aku denger percakapan tante dengan Via. Untuk masalah hari ini, sama-sama tan. Bisa membantu tante asal acaranya sukses, itu sudah menjadi tugasku juga. Tapi kalo mengenai next jadi model tante lagi, akan ku kabari tante nanti setelah aku liat jadwalku dulu."


πŸ“ž"Ya, Der. Tante harap kamu bisa bantuin tante."


πŸ“ž"Mi, kok jadi ngebet banget pengen Darren jadi model mami? Mami beneran gak mikirin mantan mami kan? Siapa tau mami pas liat Darren malah bernostalgia kembali ke masa-masa mami muda dulu," ejek Via.


πŸ“ž"Ampunnn deh nih anak satu! Awas ya kamu godain mami melulu! Der, jangan dengerin dia! Tante ama papi kamu dulu cuma masa lalu aja."


Aku hanya tersenyum geli mendengar curhatan mereka.


πŸ“ž"Harusnya mami izin ke aku juga dong kalo mau pinjem Darren," protes Via.

__ADS_1


πŸ“ž"Hahaha.... Kamu tuh jangan yang gak-gak deh! Emang dia barang yang bisa dipinjem-pinjem?"


Kami juga tertawa di sini mendengar perdebatan kecil mereka.


πŸ“ž"Ya uda, mami istirahat dulu. Besok kita ketemu lagi."


πŸ“ž"Oke ya, Vi. Selamat istirahat juga buat kalian. Byeeeee!!"


πŸ“ž"Bye juga, mi!"


"Brarti kamu malam ini tidur sendiri dong?"


Dia menaruh ponselnya di atas meja kembali. "Iya. Aku mau kembali ke kamarku dulu."


"Tidur disini aja," usulku.


"Gak ah," katanya yang sudah siap bangkit dari tempat duduknya.


"Ayolah! Aku janji gak akan macem-macem. Hanya sebatas tidur aja. Lagian kan besok aku uda mau ke Indo," kataku dengan memasang wajah memelas agar dikasihani.


"Ya uda, tapi... ingat ya jangan macem-macem!" pesannya sambil menunjuk ke arahku dengan jari telunjuknya.


Via kembali ke kamarnya dulu untuk mandi dan ganti baju tidur. Setelah itu barulah ke kamarku. Kami tidur bersama dalam satu ranjang dan satu selimut. Hanya sebatas tidur, tanpa melakukan hal lebih dari ini. Posisi tidur dengan saling berpelukkan sangat membuat kami merasa nyaman dan cepat terlelap.


*****


🌺Author Pov🌺


Darren dan Via sudah tiba di bandara. Darren memeluk Via sebelum akhirnya masuk kedalam untuk check in.


"Kamu ati-ati ya!" pesan Via pada Darren.


"Ya, kamu juga," pesan balik Darren sambil mencium kening Via.


Via menatap dengan tatapan rindunya pada Darren. Ia menarik kerah jaket yang dikenakan Darren agar mendekat ke arahnya. Via mengecup bibir Darren dengan durasi lima detik lamanya.


"I love you," bisik Darren yang kala itu masih dekat dengan wajah Via.

__ADS_1


"Love you too," balas Via sambil tersenyum.


Via melepaskan Darren dan mereka saling melambai salam perpisahan. Setelah itu, Via beranjak ke hotel tempat maminya menginap dengan taksi.


Sesampainya di hotel Milan


Via membeli sarapan di restoran hotel tersebut dan ia tidak sengaja ketemu dengan Hendra yang sedang menikmati sarapannya. Hendra yang menyadari kehadiran Via, ia langsung melambai ke arah Via seraya menyuruhnya untuk bergabung sarapan bersama.


Via yang membawa papperbag sarapannya yang baru saja ia beli, datang menemui meja Hendra. Hendra mempersilahkannya duduk.


"Kamu baru datang? Mana Darren?" tanya Hendra yang mencari keberadaaan Darren.


"Darren hari ini pulang ke Indo, karena banyak kerjaan di sana," jawab Via.


"Ooo... Kamu beli sarapan?" tanya Hendra ketika melihat papperbag yang dibawa Via tadi. " Apa mau sarapan bersama disini?"


"Aku akan sarapan bareng mamiku nanti. Kamu sendiri kok ada disini?" tanya Via penasaran.


"Aku akan nemenin kalian seharian karena aku free hari ini. Tante juga udah izinin," jawabnya sambil tersenyum ramah.


Via hanya bisa mengangguk pelan sambil tersenyum datar setelah mendengar kalimat tersebut. Untung saja seharian ini Darren juga gak mungkin mencarinya karena masih berada didalam pesawat. Via juga masih ingat dengan pesan Darren agar tidak terlalu dekat dengan Hendra.


"Aku dengar dari tante, banyak yang suka dengan aksesoris karyamu."


"Syukurlah kalo mereka suka," jawab Via senang mendengar berita itu.


"Aku pernah pulang ke Indo, tapi hanya satu bulan," katanya tiba-tiba


"Bukannya waktu itu kamu bilang, kamu gak pernah pulang?" tanya Via yang ingat dengan perkataan Hendra tempo hari.


Hendra menunduk sebentar sambil melipat jemari tangannya jadi satu. "Aku sempet pulang hanya untuk melihatmu sebentar, tapi waktu itu kamu masih bersama dengan Victor," akunya sambil menatap Via. "Aku cuma ingin melihat responmu ketika aku bilang sudah lama tidak pernah pulang ke Indo."


"Respon dariku?" tanya Via bingung dengan maksud Hendra.


"Aku pikir, aku punya tempat dihatimu walaupun hanya sebagai teman yang pernah dekat denganmu. Tapi.... aku tau kalo ternyata aku tidak ada artinya sama sekali buat kamu."


Via menatap Hendra dan seperti ada rasa bersalah lagi padanya. Hendra hanya teman biasa. Jadi Via selalu bersikap biasa saja ke siapapun orangnya termasuk Hendra.

__ADS_1


"Kadang ada kalanya aku merindukan masa-masa bersamamu. Jika aku tau sampai sekarang masih seperti ini, tentunya waktu itu aku akan berjuang mati-matian mendapatkanmu," akunya sambil memasang wajah penuh penyesalan. "Kalo aku boleh tau, apakah sedikit saja kamu pernah menyukaiku?" tanyanya penuh harap.


__ADS_2