
*****
Via membereskan pekerjaannya yang sempat tertunda. Setelah menang dari kompetisi jewerly kemaren, Via mendapatkan banyak pesanan khusus dari orang-orang yang baru di kenalnya. Kesibukkannya hari ini membuatnya lembur seharian di tokonya sendiri sampai ia kelelahan dan ketiduran di ruangannya.
Keesokkan paginya, Via terbangun dari sofa empuknya dan mendengar kesibukkan para karyawannya. Dengan rambut yang acak-acakkan dan baju yang sama, ia pergi ke kamar mandi membenarkan make up dan rambutnya.
'Tok... tok.. tok...' suara ketukan pintu ruangan Via.
"Masuk!" jawab Via yang baru keluar dari kamar mandi sambil sedikit membenarkan bajunya.
Andien masuk sambil membawa segelas kopi kesukaan Via.
"Bu Via gak pulang semalam?" tanya Andien tercengang sambil meletakkan kopi ke atas meja kerja Via.
"Aku semalam lembur. Jadi ketiduran di sini!"
"Mau sarapan apa, bu? Biar saya bantu pesankan!"
"Mmm... Aku mau soto ayam Pak Kumis saja."
"Baiklah!"
Andien langsung membelikan Via sarapannya. Dia mengambil uang toko dan mencatat pengelurannya. Disamping itu, ada beberapa rekan kerjanya yang menitipkan uang untuk di belikan soto ayam juga.
Di ruangan Via, ia tampak sibuk merapikan hasil desain yang dikebutnya semalam. Baterai ponselnya juga lowbatt di saat ia ingin menelepon adiknya, Ferdy. Akhirnya ia pun mengecharge ponselnya di atas meja kerjanya.
'Tok..tok..tok...' suara ketukan pintu ruangan Via.
"Masuk!" jawab Via.
Tampak seorang pria membuka pintu. "Bu, ada tamu yang mau mengunjungi ibu," kata pria itu sopan.
"Siapa ya?"
"Tadi pas saya tanya, katanya teman ibu. Namanya Darren," jawab si pria itu seraya mencoba mengingat dengan jelas.
"Darren?" tanyanya mengulang tak percaya.
"Ya, bu," jawab pria itu sambil mengangguk kecil.
"Oke, aku akan keluar sekarang. Kamu keluar dulu aja."
__ADS_1
Via menyusul si pria itu dari belakang. Dalam hatinya masih tak percaya kalau Darren akan datang ke tokonya. Saat menuruni anak tangga, tampak seorang pria muda sedang duduk manis di kursi yang ada di ruang tunggu dan menarik perhatian semua karyawati Via.
"Darren!" sapa Via saat memastikan pria itu benar adalah Darren.
Menyadari kehadiran Via, membuat para karyawatinya kembali ke pekerjaan mereka semula. Darren juga langsung menoleh menjawab sapaan Via dengan tatapan manisnya.
"Via!"
Via mengambil kursi untuk di dudukinya. "Kamu tahu dari Ferdy kalau aku ada di sini?"
"Baru datang, udah di interogasi," kata Darren sedikit jengkel. "Kalau bukan tau dari dia, dari siapa lagi?" lanjutnya sambil menatap aneh ke Via.
"Kenapa liatnya ampe gitu?" tanya Via tak terima.
"Kamu kok pakai baju yang sama dengan yang kemaren saat ke kantor?"
"Oooo... Aku nginap di sini semalam karena kecapean. Kamu ngapain ke sini?"
"Aku bawain breakfast buat kamu," jawab Darren sambil mendorong sedikit tas kantong di atas meja ke depan Via.
Via langsung membuka tas kantong tersebut. "Wah.. makasih banget ya. Ini buat aku semua?" tanyanya sambil mengeluarkan dua kotak makan bento.
"Itu satu buat aku dan satunya buat kamu," jawab Darren sambil merebut kotak makan bento satunya dari tangan Via.
Kedua bola matanya berbinar saat menatap isi dari kotak makannya. Dengan sepasang sumpitnya, ia menikmati perlahan makanannya dan sesekali mengangkat kedua alisnya yang seakan mengatakan kalau makanan ini enak.
Tidak lama kemudian Andien datang dengan tentengannya. Dia hanya diam saat melihat bosnya sarapan dengan seorang pria muda tampan. Darren yang mengetahui adanya keberadaan Andien hanya bisa menatapnya sekilas dan kemudian kembali menikmati makanannya kembali. Melihat tingkah Darren, membuat Via langsung menuju ke Andien yang masih bengong menatap mereka.
"Andien!" panggil Via.
Sekejap lamunan Andien hilang mendengar panggilan Via barusan. "Bu, ini sotonya udah aku beliin," katanya sambil menyerahkan sekantong soto ayam yang sudah di belinya sesuai pesanan Via.
"Astaga!" kata Via sambil menepuk pelan dahinya. "Aku lupa, kalau aku udah titip soto ama kamu. Gimana ya? Aku udah mulai kenyang. Sayang kalau gak dimakan."
"Buat sore aja bu, kan ini bihun ama kuahnya di pisah."
"Gak usah deh. Kasih ke anak-anak aja yang mau makan. Maaf ya, Dien."
"Ya bu, gak papa. Saya kasih ke yang lain dulu kalau gitu. Permisi bu," pamitnya sambil meninggalkan Via.
"Kamu gak ngantor hari ini?" tanyanya pada Darren yang sudah selesai menyantap sarapannya.
__ADS_1
"Ngantor dong. Hari ini agak santai kerjaan di kantornya. Jadi agak siangan bisa kuliah online di kantor."
"Oooo..."
"Toko kamu lumayan bagus. Ini seperti studio kecil."
"Ya. Cuma nuansa studio dalam toko. Soalnya aku baru mampu seperti ini. Namanya juga bisnis kecil-kecilan," kata Via merendah.
"Produk kamu udah ada nama kok di pasaran. Aku sempet punya juga beberapa koleksi jewerly kamu cuma udah gak tau ilang kemana sekarang saat pindahan apartemen."
Darren mengelilingi ruang koleksi jualan Via sambil melihat satu persatu jewerly karya Via.
"Kalau liat ini, aku jadi ingat mamiku. Dia paling suka koleksi beginian."
Via bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Darren yang sedang melihat koleksinya.
"Hey, adik kecil. Apa ada yang kamu suka diantara semua barang ini?"
"Jangan memanggil aku dengan sebutan itu! Aku kan bukan anak kecil," ucapnya kesal dan memasang raut wajah kesal juga.
"Oke, oke. Maaf! Jangan marah!" kata Via sambil menyenggol pelan tangan Darren.
"Aku suka ini," katanya sambil memperhatikan sebuah gelang yang terlihat sederhana namun elegan saat di pakai olehnya.
"Wah... seleramu oke juga," kata Via setelah melihat gelang yang di pilih oleh Darren, karena gelang tersebut berbahan emas putih murni yang mempunyai harga cukup tinggi walaupun desainnya sederhana. "Kalau gitu, aku hadiahkan buat kamu."
"Beneran?" tanya Darren tak percaya tapi penuh harap ingin memiliki.
"Iya, beneran," jawab Via sambil mengangguk. "Mau langsung dipakai?"
"Kalau gitu, di bungkus aja. Dipakai buat acara tertentu aja."
"Bentar ya, aku packing dulu di kotaknya," kata Via sambil ke belakang sebentar untuk prepare.
Tidak lama kemudian, Via memberikan sebuah kotak perhiasan yang sudah disiapkannya untuk Darren.
"Thank you banget nih, Via," ucap Darren dengan mata berbinar-binar layaknya seorang anak kecil habis mendapatkan hadiah ulang tahun.
"Iya, sama-sama."
Setelah sarapan bersama, Darren langsung pamit kembali ke kantornya. Via juga merasa sangat lega atas kepergian Darren karena sedari kedatangan Darren, membuat semua karyawatinya tidak fokus bekerja karena sibuk mondar-mandir cari perhatian Darren.
__ADS_1
"Ayo, semuanya pada kembali ke kerjaan masing-masing ya!" suruh Via.
"Ya, bu!" jawab mereka serempak.