
"Emangnya kamu gak catering? Kok bisa belum makan jam segini?"
"Aku hanya lagi kepengen makan sandwich aja hari ini, karena lagi bosan dengan nasi," kata Darren sambil menyeruput kopinya.
"Oooo... Aku gak tau selera kopimu, jadi ku belikan saja yang biasa kuminum."
Darren menaikkan kedua alisnya. "Ini kopi kesukaanmu?"
"Ya. Apa gak enak?"
"Sangat enak," jawab Darren sambil tersenyum manis.
🌺Darren Pov🌺
Sebenernya aku cuma pengen lihat kamu aja, Via. Makanya dengan alasan seperti ini, aku bisa bertemu denganmu. Bukannya tidak ingin menemuimu akhir-akhir ini, hanya saja aku sibuk dengan urusan kantor serta jadwal kuliahku yang kadang suka tidak nentu. Belum lagi tugas kuliah yang belum ku selesaikan. Benar-benar membuatku frustasi dan moodku jelek. Apalagi setelah mendengar kamu jalan dengan pria kemaren, itu malah menambah moodku makin jelek saja.
Tiba-tiba Via mengelap di sela sudut bibirku dengan sehelai tissue di tangannya.
"Kamu?"
"Ini lo! Kamu makan sampe belepotan gini," katanya sambil memperlihatkan tissue putih bernoda saus merah.
"Ooo..." Aku jadi tersipu malu.
"Kantormu oke juga. Oh ya, kamu lanjutin pekerjaanmu saja. Aku mau kembali ke tokoku bentar, karena ada barangku yang tertinggal di sana," katanya sambil berdiri mempersiapkan dirinya untuk segera pergi.
"Kamu sudah mau pergi?"
"Ya. Bukannya kamu juga lagi sibuk?"
'Tok...tok...tok...' suara ketukan pintu kantorku.
"Masuk!" sahutku dari dalam.
Pintu kantor terbuka dan tampak Narnia masuk perlahan kedalam ruangan kantorku dengan rasa gugupnya.
"Permisi, pak! Ini laporan kemaren sudah saya revisi. Apakah bapak mau cek kembali?" Narnia sambil menyerahkan map laporan itu padaku
Aku langsung menerima mapnya. Tapi aku melihat Via juga hampir mau pergi. Mau gak mau, aku harus menahan kepergiannya. Aku belum rela dia meninggalkanku.
"Kamu, duduk di sini sebentar!" perintahku pada Via sambil memegang kedua pundaknya dan sengaja agak menekannya agar Via duduk di sofa.
"Ta.. Tapi.." Via mau menolak, tapi aku masih menahan pundaknya.
"Sebentar saja!" lirikku memohon yang akhirnya membuat Via pasrah juga dengan perbuatanku.
Aku pun tersenyum puas karena bisa menahannya walaupun tidak tahu sampai berapa lama. Asalkan dia ada di sini, moodku jauh lebih baik. Kalah dari semua vitamin atau suplemen kesehatanku yang sering ku minum.
__ADS_1
Aku mulai kembali ke mejaku dan bersandar pada kursi empukku sembari melihat laporan keuangan yang katanya telah di perbaiki oleh Narnia. Kali ini Narnia melakukan pekerjaannya dengan baik. Tidak mengecewakanku sama sekali.
"Ini sudah oke. Kau boleh kembali ke tempatmu sekarang!" kataku pada Narnia sambil menyuruhnya segera meninggalkan kantorku agar aku dapat berduaan dengan Via kembali.
"Baik, pak!" jawabnya sambil menuju ke pintu keluar.
"Tunggu!"
Narnia menghentikan langkah kakinya dan menatapku kembali. "Ya, pak. Apa ada yang bisa kubantu?"
"Kenapa kemaren kamu tidak fokus pada laporan keuangan yang kamu buat? Apa kamu sedang ada masalah?"
"Nnggg.... I... itu..." Narnia menyatukan kedua telapak tangannya sambil memainkan jemarinya yang menandakan kalau dia sangat gugup menjawab pertanyaanku.
"Coba bicara yang jelas!" ketusku.
"Darren, mungkin dia tidak leluasa karena ada aku di sini," timpal Via.
"Benarkah, Narnia?" tanyaku menunggu jawabannya.
Narnia melirik ke arah Via dan kemudian melirikku.
"I... itu.. karena..." Narnia tampak bingung ingin melanjutkan kata-katanya.
"Darren, aku keluar sebentar. Kebetulan aku mau ke toilet. Nanti aku akan kembali lagi," pamit Via.
Padahal aku tahu kalau Via melakukan itu agar Narnia dapat leluasa menceritakannya padaku. Aku sangat berterima kasih atas pengertian Via secara tidak langsung.
"Aku... Memang ada masalah pak dengan pacarku. Maaf, karena masalah pribadi jadi terbawa ke kantor! Sekali lagi saya minta maaf!" katanya sambil membungkukkan badannya 30° padaku.
"Aku tidak suka hal ini terulang kembali. Tolong prioritaskan pekerjaanmu di sini, bukan perasaanmu!"
"Baik, pak!"
"Pergilah! Kembali ke ruanganmu!"
Narnia beranjak pergi dari ruanganku. Aku belum melihat batang hidung Via kembali ke sini. Aku menunggunya dengan tidak sabar di luar ruanganku.
"Pak Darren, mau saya buatkan teh?" tawar Santi sambil tersenyum manis padaku.
"Gak usah. Kamu urus saja pekerjaanmu!"
Karena aku takut Via tiba-tiba pergi dan gak kunjung kembali menemuiku, aku segera menyusulnya ke arah toilet. Disana, aku menunggunya di luar toilet perempuan. Sesekali para karyawati menatapku dengan malu-malu, ada juga yang terheran-heran dengan keberadaanku, serta ada juga yang menyapaku sambil tersenyum genit. Ternyata benar kalau Via ada di toilet dan belum meninggalkan kantorku. Aku tersenyum puas setelah melihatnya keluar dari toilet perempuan.
"Kamu kenapa ada di sini?" tanyanya heran.
"Aku juga baru habis keluar dari toilet dan sengaja tungguin kamu sebentar," jawabku sambil tersenyum kecil padanya.
__ADS_1
"Darren, aku mau pulang sekarang! Aku beneran harus kembali ke tokoku," katanya sambil melihat jarum jam tangan yang di kenakannya dan membuat moodku down lagi.
Dengan wajah memelas, aku hanya mengangguk saja walaupun berat hati.
"Lain kali, aku akan ke sini lagi menemuimu. Kakak pergi dulu ya!" pamitnya sembari melewatiku.
"Tunggu!" seruku menahan lengan tangan kanannya.
"Apa lagi?"
"Benar ya kalau lain kali, kamu akan ke sini lagi?" tanyaku memastikan jawabannya.
"Ya, kalau aku tidak sibuk. Tapi kalau aku keseringan ke sini, apa tidak ada yang cemburu?"
Aku menaikkan sebelah kanan alisku. "Siapa yang cemburu? Aku kan masih jomblo," jawabku polos.
"Hahaha... Ya uda deh! Aku pulang dulu," pamitnya lagi.
"Ati-ati ya!" pesanku dan membiarkannya pergi.
🌺Author pov🌺
Via pergi meninggalkan kantor Darren. Dia tersenyum manis pada Pak Jil setelah tidak sengaja bertemu di depan lift. Pak Jil juga kembali tersenyum ramah pada Via dan segera menemui Darren di ruangannya.
'Tok...tok..tok...' suara ketukan pintu ruangan Darren.
"Masuk!" jawab Darren dari dalam.
Pak Jil pun masuk ke dalam ruangan Darren. Dia melihat Darren sudah penuh semangat dan tampak ceria. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang wajahnya selalu kusut dan suka marah-marah.
"Den Darren, harimu tampak cerah hari ini. Apakah non barusan adalah gadis incaran aden?" tanya Pak Jil sambil membantu Darren membersihkan ruangan Darren yang sedikit kotor.
Darren tak menjawab, tapi hanya tersenyum saja.
"Baru kali ini lihat aden begitu senang. Semoga hari-hari aden berikutnya juga sama. Bapak senang lihatnya. Apakah aden gak mau kenalin ke orang tuan aden?"
"Pak Jil omong apa sih? Dia itu belum jadi pacar aku," kata Darren dengan nada kecewa.
Nampak muka Pak Jil sedikit terkejut. "Kenapa aden gak kasih tau dia saja kalau aden suka sama dia?"
"Belum waktunya, pak. Itu kan butuh proses. Lagian dia beda ama cewek-cewek lainnya yang suka liat dari hartaku doang."
Pak Jil hanya tersenyum dengan ucapan Darren. Tampaknya Darren memahami karakter Via dengan baik. Sedikit ingin melihat reaksi rasa cemburu Darren, Pak Jil iseng mengetes perasaan Darren.
"Pas non itu datang ke sini, banyak karyawan yang melihat non itu. Bahkan ada yang mengajaknya kenalan. Soalnya non itu sangat cantik dan lelaki mana yang gak terpesona olehnya."
Darren langsung menatap Pak Jil tidak senang. Tingkat kecemburuannya sudah meluap.
__ADS_1
"Siapa saja karyawan yang berani mengajaknya berkenalan? Cepat panggil mereka ke ruanganku!" serunya dengan nada tinggi tak senang.
"Aden, jangan marah! Itu di karenakan mereka belum tau kalau non itu adalah tamu spesial aden. Lain kali kalau non itu datang lagi, aden harus segera memperkenalkannya sebagai orang spesial di depan karyawan sini. Bukankah itu lebih baik?" saran Pak Jil yang membuat Darren berpikir kalau itu adalah ide yang bagus dan akhirnya terlihat senyum smirk di wajahnya.