Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 35


__ADS_3

Tiba di rumah orangtua Darren


"Kamu inap sini kan malam ini, Der?" tanya daddynya sambil berjalan berdampingan dengan Darren.


"Ya, ded. Aku inap sini malam ini."


Mereka masuk ke dalam rumah dan menemukan maminya sedang asyik nonton televisi drama Korea.


"Liat mami kamu! Sudah tua masih suka nonton drama Korea," ledek daddynya.


"Hahaha...." tawa Darren yang mengundang perhatian maminya.


Si mami langsung menengok ke arah Darren dan suaminya. "Kalian udah pulang? Gimana pestanya? Rame, gak?"


"Ramai. Tamunya banyak," jawab daddynya sambil duduk sebentar di sofa.


Darren juga mengambil posisi di sofanya. Merebahkan tangannya melebar ke pinggiran sofa.


"Der, mandi sana! Istirahat!" suruh maminya yang masih fokus ke layar televisi.


"Ya, mi. Oh ya, weekend ini aku mau berlibur ke Semarang selama seminggu lah kurang lebih. Boleh gak ded izin gak ngantor? Please, ded!" mohonnya sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


"Ke Semarang? Emang mau liburan ama siapa?" tanya maminya penasaran.


"Ama temen, mi. Anggap aja itu kado ulang tahunku! Kan aku gak minta lebih."


"Kamu ulang tahun?" tanya maminya kaget.


"Masa ulang tahun anaknya sendiri lupa?"


"Astaga!" ucap maminya sambil menepuk pelan dahinya. "Kok mami bisa lupa ya? Faktor 'u' ini. Aduh, mami minta maaf ya nak!" katanya dengan wajah merasa bersalah.


"Gakpapa kali mi. Lagian kan aku udah dewasa."


"Berhubung kamu maunya gitu, oke daddy izinin," kata daddynya setuju dengan rencana liburan Darren.


"Yes!" serunya girang. "Makasih ya, ded," lanjutnya sambil tersenyum manis memamerkan gigi putihnya.


"Sini, peluk mami dulu!" pinta maminya sambil merentangkan kedua tangannya melebar.


Darren menghampiri dekat maminya dan memeluknya. Mereka berpelukan mesra dan di susul oleh daddynya yang merangkul mereka berdua. Jadi mereka bertiga berpelukkan bersamaan saling memberikan kehangatan kekeluargaan.


"Semoga umurmu panjang, sehat-sehat selalu, dan jodohmu di dekatkan ya, nak!" doa maminya yang terucap tulus dari mulutnya.

__ADS_1


"Makasih ya mi atas doanya."


"Semoga apa yang kamu mau dapat tercapai ya, Der," doa daddynya juga.


"Makasih ya, ded."


"Udah.... Udah... pelukannya. Kamu bau asem. Mandi dulu sana!" suruh maminya yang sudah melepaskan pelukkannya dan sedikit mendorong tubuh Darren agar menjauh darinya.


"Masa, sih? Tadi di sana aja masih ada cewek yang deketin kok. Trus... mereka gak bilang aku bau," protes Darren sambil mengendus-endus jaket cardigannya.


"Udah sana, mandi! Mami mau nonton film kesukaan mami nih."


"Pantesan aja aku di usir. Gak taunya demi mau nonton drama. Emang mami ngerti mereka ngomong apaan?"


"Mami ngefans banget sama cowok ganteng ini," kata maminya yang serius menatap layar televisi lagi tanpa mendengarkan Darren.


"Mami kamu tuh gak ingat umur. Masih aja suka ama cowok muda," ledek daddynya yang sudah duduk di sebelah mami.


"Daddy kan ganteng, ngapain sih ngefans ama cowok lain?" Darren mencoba membela daddynya.


"Ih... kalian bawel ya!" omel maminya sambil melipat kedua tangannya dan memasang wajah juteknya.


"Hahahaha.... Emang mami suka ama cowok yang mana? Kok daddy ampe kalah saingan," tanya Darren penasaran.


"Gantengan juga aku, mi," ucap Darren membandingkan dengan dirinya sendiri.


"Ya gantengnya seimbang lah. Udah deh... Jangan ganggu mami lagi!" ucap si mami sambil ngelirik sinis ke arah Darren.


Darren berdiri dan berlalu pergi menaiki anak tangga menuju ke lantai dua di mana kamarnya berada. Sedangkan daddynya masih di ruang tamu sambil sibuk memeriksa ponselnya.


*****


Hari ini Darren berangkat lebih awal ke kantor dari rumah orang tuanya. Walaupun tiba di sana agak pagian, tapi sudah ada beberapa staff yang masuk. Salah satunya pak Jil. Dia sangat profesional dalam pekerjaannya walaupun bukan pekerjaan berat yang dilakukannya. Pak Jil memang asisten Darren yang khusus melayani Darren beda dengan Pak Eko yang merupakan asisten kaki tangan Darren yang bisa menghandle semua kerjaan Darren.


'Drrrttt... drrrtt...' bunyi getaran dari ponsel Darren yang ada di atas meja.


"Siapa lagi yang nelpon sepagi ini? Mana bentar lagi mau kuliah," katanya sembari mengambil ponselnya.


🌺Darren Pov🌺


πŸ“ž"Halo!"


πŸ“ž"Darren, ini papanya Bella. Maaf ganggu waktu kamu sebentar. Ada yang ingin om tanya ke kamu."

__ADS_1


πŸ“ž"Ya, om. Ada apa?"


πŸ“ž"Kemaren malam, Bella sakit."


πŸ“ž"Perasaan kemaren dia baik-baik aja om. Emang semalam dia sakit apa, om? Soalnya saya udah pulang awal."


πŸ“ž"Semalam Bella seperti abis kena efek samping dari obat perangsang. Pas om tanya ke dia, dia bilang itu berasal dari minuman kamu."


πŸ“ž"Ya, om. Itu memang dari minuman saya. Saya..."


πŸ“ž"Kenapa kamu tega kasih obat itu ke Bella? Apa kamu mau menjerumuskan dia?"


πŸ“ž"Gak gitu, om. Dengerin saya bicara dulu sampai selesai! Kemaren saya memang dapat minuman itu dari orang lain, pas saya mau minum malah di rebut oleh Bella dan Bella langsung abisin gitu aja minumannya. Setelah itu, saya gak tau lagi om, karena saya sudah pulang sama daddy."


πŸ“ž"Benar begitu ceritanya? Soalnya Bella belum bangun sampai sekarang. Nanti om coba tanya dia lagi."


πŸ“ž"Baik, om. Kalau gitu, saya kuliah dulu ya om."


'Tutttttttt....' bunyi nada telepon terputus dari sana.


Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku saja dengan sikap papanya Bella yang memutuskan pembicaraan begitu saja. Belum lagi menuduhku yang memberi obat perangsang pada Bella. Walaupun dia pacar aku sekalipun, aku gak mungkin pakai cara seperti itu.


Untuk sementara waktu, aku gak jenguk Bella dulu. Apalagi papanya belum dapat info yang jelas. Bisa-bisa aku kena semprot habis-habisan. Belum lagi kalau di suruh minta pertanggung jawaban, bisa dramatis hidupku.


"Aeri... Putri bungsu om Tio benar-benar licik."


"Siapa, den?" tanya Pak Jil penasaran.


"Itu... putri bungsu om Tio. Semalam dia kasih minuman koktail ke aku, tapi di rebut sama Bella yang gak taunya udah di campur sama obat perangsang," jawabku sambil menyalakan lampu power laptopku untuk persiapan kuliah online.


"Jadi mbak Bellanya gimana sekarang?"


"Udah gak kenapa-kenapa. Cuma tadi papanya telepon sambil nuduh aku."


"Ckckck... cewek sekarang kok nekat-nekat ya. Untung aden gak minum."


Aku sibuk mengklik salah satu room video online mata kuliahku untuk join bersama dosen yang mengajar hari ini. "Ya, untungnya bukan aku korbannya. Cuma nih anak tripikal keras kepala."


"Aden harus jauhi cewek seperti itu! Nanti bisa-bisa aden dikerjai lagi di lain waktu."


"Ya, pak. Aku kuliah dulu ya. Dosennya uda mulai ngajar," kataku yang sudah menyalakan volume sound di laptopku.


"Kalau gitu, bapak keluar dulu ya!" pamit pak Jil meninggalkanku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2