
Via mencoba ingat kembali kenangannya dengan Hendra masa itu. Terlintas di benak Via, Hendra hanya sebatas teman biasa saja. Mau berapa kali dipikirkan, hanya kenangan dengan Victorlah yang paling berkesan. Hendra benar-benar tidak ada posisi spesial di hati Via.
Via mengambil ponsel dari dalam tasnya dan kemudian membuka layar ponsel tersebut. Ia pura-pura telah mendapat chat masuk dari maminya yang menyuruhnya segera menyusulnya.
"Sorry, Hen! Mamiku udah panggil. Aku harus segera kesana," kata Via yang kelihatan tergesa-gesa.
"Kalau gitu, silahkan! Nanti aku akan menyusul," katanya dengan raut wajah kecewa.
Via hanya tersenyum sambil membawa papperbag sarapannya dan langsung menuju ke kamar hotel tempat maminya menginap. Sebenarnya Via hanya ingin menghindar dari Hendra, karena kehabisan kata untuk menjelaskan pada Hendra. Dia juga tidak mau terlibat banyak kontak mata atau fisik lagi dengan Hendra, takut menimbulkan salah paham.
Hari ini Via dan maminya sibuk seharian bertemu dengan beberapa customer asing yang minta orderan desain baju mami Via. Begitu juga dengan Via yang ikut kebanjiran order karya aksesorisnya. Hendra yang masih setia menunggu Via dan mami Via hanya bisa duduk manis mendengar transaksi dagang mereka.
*****
Hari kedua setelah kepulangan Darren. Via yang masih menemani maminya seperti kemarin, tampak sibuk dengan ponselnya. Selain membalas chat dari Darren sejak kesampaiannya di Indonesia, ia juga harus berkomunikasi dengan para karyawannya untuk membahas bahan serta stock pesanan jewerlynya.
Tiba-tiba ada nomor yang tidak dikenal mengirim foto sosok cowok yang mirip dengan Darren sedang berduaan dengan seorang wanita di kamar hotel.
*Ilustrasi fotonya
Karena hanya mirip saja, Via tidak mau begitu menanggapinya. Apalagi yang kirim foto tersebut dari orang yang kurang kerjaan.
Beberapa jam kemudian
Datang lagi chat dari nomor gelap tadi yang mengatakan kalau Darren saat ini sedang di hotel Panorama. Si pemilik nomor gelap memberitahukan pada Via kalau Darren sudah keluar masuk hotel Panorama sejak kemarin dengan seorang perempuan. Jika Via tidak percaya, si pemilik nomor gelap tadi menyuruh Via mengeceknya sendiri. Tidak lupa ia menyertakan lantai ke berapa dan nomor kamar hotelnya.
Karena merasa terganggu, Via segera menelepon Darren tapi jaringan Darren sibuk terus menerus. Via juga chat Darren serta mengirimkan bukti foto tadi ke Darren seraya ingin minta penjelasan.
Seharian Via menunggu jawaban dari Darren, tapi belum ada hasilnya juga. Moodnya jadi tidak baik seharian. Dia tampak kesal dengan ponselnya, tepatnya dengan Darren. Karena Hendra merasa ada yang tidak beres dengan Via, ia pun memberanikan diri mendekati Via.
"Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Hendra penasaran.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa," jawab Via berbohong.
"Vi, kalo ada masalah, kamu boleh cerita ke aku. Siapa tau aku bisa bantu. Apa kamu tidak menganggapku teman sama sekali?"
Via berpikir sejenak. Tapi memang tidak dipungkiri kalau Via membutuhkan pendapat dari Hendra sebagai teman.
"Aku dapat pesan dari nomor yang gak ku kenal. Sangat mengganggu. Coba kamu liat!" pinta Via seraya menyerahkan ponselnya ke Hendra untuk melihat percakapannya dengan si pemilik nomor gelap.
Hendra menerima ponsel dari Via dan membacanya dari awal. Ia agak kaget sekilas melihat hasil foto yang dikirim.
"Ini... Mirip Darren," katanya sambil menunjuk ke foto cowok yang sedang berjalan dengan memakai masker.
"Mirip saja, kan?" tanya Via yang ingin mendengar pendapat Hendra.
"Hanya mirip. Kenapa?" tanya Hendra sambil mengembalikan ponsel ke Via.
Via menerima ponsel yang dikembalikan. "Si pengirim chat ini menyuruhku mengecek langsung ke hotel. Dia bilang, cowok itu adalah Darren."
"Menurut kamu? Apakah itu benar Darren?"
"Mungkin dia lagi sibuk dengan kerjaannya," terka Hendra.
"Tapi dia biasanya gak pernah begini," kata Via kecewa.
"Kau harus beradaptasi jika ingin pacaran dengan cowok seumurannya. Bagaimana kalo kita jalan-jalan ke suatu tempat? Hitung-hitung membuang sedikit kejenuhan kamu," ajak Hendra.
"Aku lagi gak minat. Maaf!" tolak Via.
"Ayolah!" ajaknya lagi dengan sedikit memaksa sambil menarik tangan Via agar segera bangun dari tempatnya.
Akhirnya Via ikut juga. Hendra membawanya berkeliling Milan dengan mobil pribadinya. Sepanjang perjalanan, Hendra menceritakan apa saja yang bisa dijadikan topik bicara agar Via dapat melupakan masalahnya. Walaupun Via di ajak bicara, tapi ia masih sibuk sesekali memeriksa notifikasi chat yang masuk.
Akhirnya ia meninggalkan satu pesan untuk Darren.
__ADS_1
👩🦰"Besok aku pulang ke Indonesia dan mungkin akan tiba jam 14.00."
"Hen, aku mau pulang ke Indonesia. Hatiku tidak tenang."
Hendra menghentikan mobilnya di pinggir jalan khusus mobil berhenti. "Apa? Lalu, kamu uda kasih tau mami kamu?"
"Udah! Aku juga udah pesen tiket. Bisa tolong bawa aku kembali ke hotel? Aku mau langsung ke bandara."
Hendra yang tidak bisa bilang apa-apa akhirnya menjalankan lagi mobilnya dan mengantar Via ke hotel untuk mengambil kopernya. Dari raut wajah Hendra, ia sama sekali keberatan karena berpisah begitu saja dengan Via.
Sesampainya di hotel
Via dengan langkah kaki tergesa-gesa jalan menuju lift yang diikuti Hendra di belakangnya. Setelah turun dari lift, Hendra menarik pergelangan tangan Via hingga Via berbalik arah dan mendekat. Hendra merangkul pinggang Via dan menatap Via dengan tatapan penuh kasih sayang yang seakan tidak rela kehilangannya. Via yang diperlakukan seperti ini merasa shock dan hanya diam sejenak menatap Hendra.
Dengan saling balas tatapan diantara mereka membuat Hendra tidak tahan untuk mencium bibir ranum Via. Ia melakukan ini karena ingin melepaskan kerinduannya yang sudah ditahannya selama bertahun-tahun lamanya.
*Hendra dan Via
Via memberontak ketika Hendra mencium bibirnya dengan paksa. Alhasil Hendra melepaskan ciumannya. Via menatap Hendra dengan ekspresi marah. Ia ingin sekali menampar Hendra, tapi keinginan itu ditahannya karena ia bisa merasakan perasaan Hendra saat ini.
"Via, aku minta maaf," kata Hendra sambil memegang kedua pundak Via dengan wajah menyesal.
Via hanya menatapnya tanpa bicara. Ia juga ingin segera menuntaskan salah paham antara dirinya dengan Hendra.
"Via, aku sangat mencintaimu. Apakah aku benar-benar tidak ada kesempatan untuk bersamamu?" tanyanya sambil memeluk Via.
Via membalas pelukkan Hendra tapi lebih ke menenangkan perasaan Hendra agar segala emosi Hendra keluar. Via mengelus punggung Hendra dengan perlahan.
"Viaaaaa.....!!!" serunya sambil menangis dipelukkan Via.
Via yang mendengar namanya disebut ikutan terharu. Tanpa terasa bulir air matanya keluar membasahi pipinya.
__ADS_1
"Apa aku sama sekali tidak ada kesempatan? Apakah hanya Darren yang bisa mengambil hatimu? Kenapa aku harus kalah dengan Darren? Via, jawab aku! Liat aku!" pintanya yang melepaskan pelukkannya dan memaksa Via untuk melihatnya. "Aku sekarang sudah punya segalanya. Aku sanggup menghidupimu dengan berkecukupan. Aku tidak kalah dari Darren si bocah itu. Aku menunggumu dengan setia belasan tahun. Apa kamu tidak bisa liat pengorbananku?"