
"Gapapa, kan? Maaf, aku gak bisa nemenin dulu, soalnya pala ini beneran pusing. Tar uda sampe sana minta tolong security sana aja bantuin buat papahin dia ke apartemennya!" pesan Ferdy pada Via agar Via tidak usah terlalu repot.
Tapi ini sangat merepotkan bagi Via, karena harus bolak-balik jadinya. Apalagi waktu sekarang sudah jam 20.45, Via agak sedikit was-was pulang terlalu malam.
"Ayolah, Via! Bantuin orang itu tugas mulia lo," lanjut Ferdy sambil tersenyum seraya membujuk kakaknya.
"Lagian ngapain sih kalian pakek acara mabuk segala? Repotin banget jadinya. Lain kali kamu pakek sopir online aja!" ucap Via kesal.
"Sopir online? Ide bagus! Tapi baru kali ini aku mabuk, padahal cuma minum segelas wine."
"Ya uda, tar aku anterin temenmu pulang ke apartemennya. Kamu jangan lupa ganti baju dulu! Jangan sampai muntah di kamar!"
"Iya, Via cantik. Aku janji, akan bersih-bersih dulu."
Beberapa menit kemudian...
"Via, ati-ati bawa mobilnya dan segera pulang!" pesan Ferdy saat sudah turun dari mobilnya.
"Iya, bawel!" jawab Via langsung melajukan mobilnya ke arah apartemen Darren yang kisaran 10 menit lagi sampai ke tempatnya.
🌺Via Pov🌺
Memastikan kalau tempatnya memang sudah benar, aku segera mengambil parkiran di basement.
"Darren, kita sudah sampai!"
Aku melihatnya tidak bereaksi, aku langsung turun dari mobilku yang masih dalam keadaan menyala. Aku mencoba mencari pos security jaga.
"Itu dia!" seruku senang saat ketemu pos security.
Aku menghampiri pos tersebut untuk meminta tolong agar dapat membawa Darren ke apartemen pribadinya. Sesampainya di pos tersebut, aku tidak melihat batang hidung pos security.
'What???'
Aku memegang kepalaku yang agak terasa stress karena tidak ada satu orang pun yang membantu. Mau gak mau, aku harus mencoba memapahnya. Benar-benar sangat merepotkan.
"Darren, ayo kita ke tempatmu!" ajakku sambil mematikan mesin mobilku.
Setelah itu, aku coba menarik tangannya agar segera duduk. Dia hanya mencoba membuka matanya tapi tidak seratus persen sadar. Sesekali dia menggelengkan kepalanya, dan menatapku heran.
"Tadi, aku sudah cari keberadaan security, tapi mereka tidak ada. Jadi, biar ku bantu!"
__ADS_1
"Oh... maaf merepotkanmu!" ucapnya sambil mencoba keluar dari mobilku.
Setelah keluar dari mobil, dia berdiri saja masih bertumpu pada pilar parkiran.
"Via, aku bisa sendiri. Kamu pulang saja!" ucapnya yang mencoba berjalan ke dalam untuk naik lift.
Aku belum menyetujui ucapannya. Melihat dia dari kejauhan saja, apakah benar dia bisa berjalan sendiri ke kediamannya. Darren berjalan sangat sempoyongan dan dia tampak terduduk saat menunggu pintu lift terbuka. Aku tidak tega melihatnya seperti itu, karena mengingatkanku pada Ferdy.
"Sini, ku bantu!" seruku sambil membantunya berdiri dan mencoba menopang badannya.
"Maaf ya, repotin!" ucapnya tidak enakkan.
Aku hanya tersenyum. Bisa apa lagi? Gak mungkin juga mau marah, karena kondisi dia sangat parah. Saat pintu lifnya terbuka, aku dan dia beranjak masuk ke dalam.
"Lantai berapa?"
"16," jawabnya sambil memicingkan matanya melihat angka-angka di papan lift.
Aku segera menekan angka tersebut, dan lift naik hingga lantai ke 16. Setelah pintu lift terbuka kembali, kami langsung keluar.
"Nomor apartemen?"
Hanya kisaran enam meteran jaraknya dari lift tersebut, kami sampai juga di depan kamarnya '168'.
"Kita sudah sampai! Cepat masukkan pin aksesnya!"
Dia mencoba menekan pin pada kunci pintu digitalnya tapi karena tidak beraturan, sehingga pintunya tidak terbuka.
"Berapa kodenya?" tanyaku tidak sabaran.
"777423," jawabnya.
Aku segera menekan angka sesuai ucapannya. Setelah akses angkanya di terima, pintu tersebut terbuka otomatis. Kami segera masuk dan secara otomatis lampu di apartemen pribadinya nyala.
Seorang pria muda tinggal sendirian di dalam apartemen yang cukup mewah. Pasti sangat kesepian.
"Di mana kamarmu?"
"Di a..." kata-katanya terhenti karena dia berasa mual dan akan segera muntah tapi di tahan.
"Apa mau ke kamar mandi dulu?"
__ADS_1
"Kamarku di atas," lanjutnya sambil menunjuk sebuah kamar di lantai ke dua.
"Oke, ayo ku bantu! Ati-ati dengan tangganya."
Kami harus melewati sepuluh anak tangga. Itu juga sudah makan waktu beberapa menit karena langkah kakinya yang berat.
Sesampainya di depan pintu kamarnya, dia menekankan jempol jari kanannya ke smart lock gagang pintunya sehingga pintu kamar pribadinya terbuka otomatis. Berhias wallpaper abu-abu, suanana kamarnya terasa maskulin sesuai karakternya. Setelah ku temukan ranjangnya, aku segera membaringkannya di sana.
Tapi tidak lama kemudian dia berdiri sambil bergegas ke kamar mandi pribadinya yang dekat dari posisi ranjangnya.
'Wekkkkk....' Terdengar suara dia sedang memuntahkan semua isi perutnya di dalam kamar mandi tersebut.
Aku melihat dengan jelas dia sedang berada di depan toilet sambil menunduk ke bawah, karena kamar mandinya hanya berlapis kaca tembus pandang jadi apapun yang kita lakukan pasti akan terlihat jelas.
Dia mencoba membuka baju-bajunya tapi malah tersungkur ke lantai kamar mandi. Dengan spontan aku menghampirinya. Membantunya duduk sambil mencium aroma yang tidak menyegarkan itu. Ada noda bekas muntahan di jaket dan kaos yang dikenakannya. Pertama-tama, aku menekan tombol closetnya agar seluruh kotoran itu segera hilang dan bersih. Kedua, aku membantunya membuka jaket dan membuka kaosnya sambil menahan nafasku.
'Anggap saja sedang membantu Ferdy,' pikirku sendiri yang tidak macam-macam.
Aku menganggapnya seperti itu agar tidak berasa canggung walaupun aku tau kalau dia itu bukan adikku.
"Kau mau apa?" tanya Darren saat aku mencoba menarik kaosnya ke atas.
"Membantumu melepaskan kaos ini," jawabku sambil memegang kaosnya.
Dia hanya diam. Aku pun langsung menarik kaosnya ke atas dan tubuh atletisnya kelihatan jelas di depanku. Aku menaruh jaket dan kaosnya di atas wastafel. Kemudian, membantunya kembali ke ranjangnya.
Saat dia sedang terbaring lemas, aku mencari handuk kecil di kisaran kamar mandi dan membasuhnya dengan air hangat dari pancuran showernya. Aku mengelap perlahan wajah dan tubuh Darren.
'Anak ini tampan juga,' batinku saat melihat wajahnya dan entah kenapa jantungku langsung berdetak tak karuan.
Aku langsung menggelengkan kepalaku agar tidak berpikir yang macam-macam. Membantunya membersihkan dirinya, lalu mengucek bekas muntahan di jaket dan kaosnya dengan sedikit detergen sambil menjemurnya di kamar mandinya dengan hanger yang ada.
"Aku harus pulang sekarang," kataku pada Darren walaupun dia tidak berkutik.
Aku melihatnya sangat terlelap. Hanya bisa menarik selimut tebalnya untuk menutupi tubuhnya. Setelah itu, aku beranjak berdiri di depan pintu kamarnya. Mencoba untuk membuka handle pintu smart locknya tapi terkunci. Aku memasukkan kode akses yang sama dengan nomor pintu apartemennya, tapi tidak cocok. Akhirnya aku menghampiri Darren kembali.
"Darren, pintumu terkunci. Apakah aku bisa membukanya dengan cara lain?" tanyaku padanya tapi tidak di respon.
Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya beberapa kali agar dia sadar sambil melihat ke arah jarum jam dinding yang sudah jam 21.50. Karena tidak di respon juga, aku mencoba mendekati telinganya.
"Darren!!!!!!" teriakku di telinganya
__ADS_1