
"Udah baikkan?" tanya Julia pada kami berdua.
"Apaan sih? Orang kami baik-baik aja kok," jawab Via.
"Jadi kalo uda duduk berduaan gitu, masalah uda beres kan?" ledek Julia yang berhasil membuat Via tersipu malu. "Darren melakukan hal tadi pasti ada sebab. Aku yakin dengan Darren. Jadi tenang deh kalo punya calon kakak ipar kek dia. Hahaha..." katanya yang berakhir dengan pujian.
Pujian Julia sontak membuatku sedikit memuji sikap dinginku selama ini terhadap wanita lain selain pacarku sendiri.
*****
🌺Author Pov🌺
Setelah beberapa hari berlalu, liburan juga telah usai. Mereka kembali ke aktivitas semua. Darren lebih semangat kerja lagi karena dia tetap video call-an dengan Via setiap harinya. Sudah seminggu di Jakarta, mereka hanya bertemu saat weekend saja. Rencana makan siang berdua di kantor belum tercapai karena kesibukkan masing-masing. Setidaknya perhatian diantara mereka tidak berkurang sama sekali. Malah menjadikan Darren bucin alias budak cinta dengan segala sticker chat yang dikirimkan Via setiap saat ngechat padanya.
Kerjasama dengan Aldo sudah dimulai dan berjalan lancar. Laporan keuangan yang sudah tertata rapi selalu dikirimkan kepada Darren dari PT yang Aldo kelola. Walaupun hubungan mereka agak renggang karena memperebutkan seorang wanita, itu tidak berpengaruh dengan bisnis mereka.
'Brak!!!' bunyi kasar dari pintu kantor Darren yang dibuka paksa.
Pelakunya adalah Bella. Dia masuk dengan gaya bossynya sambil duduk di sofa tanpa dipersilahkan oleh Darren. Melemparkan tas selempang kecil seenaknya dia.
"Ngapain lu jam segini ke kantor gue? Lu gak kerja?" tanya Darren yang sudah melihat ke arah jam dinding yang tengah pukul 11.45.
"Gue hari ini izin cuti. Gue bosen. Makanya gue mampir kesini."
Darren memeriksa semua file yang ada di mejanya dan menghiraukannya.
"Darrennn!!!" panggil Bella dengan suara cemprengnya.
"Apaan sih? Berisik tau! Lu gak bisa liat situasi ya? Ini masih jam kerja kantor. Gue lagi sibuk," kata Darren kesal.
"Selama gue sakit, lu kok gak pernah jenguk, gak pernah telepon juga. Kek ngilang aja gak ada kabar apapun. Lu beneran gak peduli ama gue lagi?"
"Lu kan ada papa mama elu yang jagain. Lagian lu juga udah sembuh kan?"
"Lu harusnya berterima kasih ama gue, karena secara tidak langsung gue yang udah nolong elu dari si rubah waktu itu."
__ADS_1
"Tapi kan gue gak tau kalo emang dia mau nyelakain gue. Makanya... lain kali jangan ceroboh!" pesannya yang membuat Bella jengkel sendiri. "Lain kali, tolong masuk ke kantor gue dengan sopan! Jangan bar-bar kek tadi!"
Bella beranjak dari tempat duduknya. Ia menghampiri kursi Darren dan berdiri di belakangnya. Darren mengintipnya sekilas dan ingin tahu apa yang Bella mau lakukan. Bella memutar kursi duduk Darren 180° hingga posisi mereka berhadapan. Bella langsung duduk di paha Darren dengan gaya manjanya dan tangan yang satunya merangkul jenjang leher Darren.
"Lu makin lama makin buat gue terpesona," bisik Bella di telinga Darren.
Bella mulai meraba pelan bidang datar dada Darren, lalu naik perlahan ke bagian wajah Darren. Tangannya aktif membelai lembut wajah tampan Darren, tapi langsung dihentikan oleh Darren. Darren menahan pergelangan tangan Bella yang sedang membelai wajahnya tadi. Dia mencengkeram keras bagian nadi pergelangan tangan Bella.
"Aw..aw..aw... Darren, lepasin!" pintanya kesakitan dan otomatis dia segera beranjak dari paha Darren.
"Masih mau seperti itu lagi?" tanya Darren tegas dan belum melepaskan tangan Bella.
"Gak... Gue gak akan gitu lagi. Lepasin dong! Sakit nih," pintanya dengan nada memohon hampir menangis.
Darren melepaskan sambil menghentakkan tangan Bella dengan kasar. "Jaga sikap elu! Gue udah punya pacar sekarang," kata Darren memperingatkannya.
Bella yang masih merasakan sakit di pergelangan tangannya, masih mengelus-elus pelan sambil menatap tajam ke Darren yang tidak terima dengan perlakuan kasar Darren barusan. Tanpa berkata-kata lagi, Bella keluar gitu saja dari ruang kantor Darren.
Tidak lama dari keluarnya Bella tadi, Via masuk ke ruangan Darren dengan Pak Jil sambil menenteng dua rantang makanan.
"Siang, den. Non Via datang," lapor Pak Jil sambil mempersilahkan Via masuk.
"Kebetulan aku pulang cepet hari ini, jadi aku mampir ke sini bentar. Udah siang juga, makanya aku bawa rantang ke sini buat makan bareng ama kamu," jawab Via sambil menaruh dua rantang itu di atas meja.
"Kalo gitu, Pak Jil pamit keluar dulu ya, den."
"Ya, pak."
"Tadi pas aku baru masuk ke sini, aku sempet bingung mau ketemu ama kamu. Aku jadi pusat perhatian gitu kan karena bawa rantang ginian. Dikira mba-mba catering kali, hahaha.... Trus, pas ada salah satu cowok yang mau bantu aku bawain nih rantang, tiba-tiba Pak Jil datang samperin aku. Lalu dia langsung ajak aku ke ruangan kamu."
"Cowok? Cowok mana yang nyamperin kamu?"
"Mm...?"
"Aku akan kasih kamu kartu masuk nanti. Jadi kapanpun kamu bisa masuk ke sini sesuka hati kamu," kata Darren sambil menyolek batang hidung Via.
__ADS_1
"Ayo, makan! Ini aku uda buat sebelum berangkat kerja tadi. Sekalian buatin buat Ferdy juga," kata Via sambil menyajikan rantang yang telah dibukanya satu-persatu ke atas meja.
"Mm... Wangi banget masakan kamu! Jadi gak sabar pengen nyobain."
Via menggeser posisi duduknya. "Eh... Apa ini?" tanyanya setelah keduduk sesuatu. Diambilnya barang tersebut dan ternyata ini adalah sebuah tas selempang perempuan. "Ini tas siapa? Kok ada di sini?" tanyanya sambil mengangkat rantai tenteng dari tas tersebut.
Darren menikmati makanannya dengan santai. "Oooo... itu tasnya Bella, teman aku. Tadi gak berapa lama kamu datang, dia juga baru cabut dari sini."
"Hah? Mau ngapain dia ke sini?" tanya Via penasaran.
"Kenapa? Cemburu?" goda Darren yang berhenti makan sejenak sambil tersenyum smirk.
"Yaaaa... cewek mana yang gak cemburu kalo di ruang kantor cowoknya ada barang cewek lain," jawab Via jujur sambil menaruh lagi tas itu ke tempatnya.
"Dia hanya datang menyapa aja dan dia..." kata Darren berhenti sebentar karena ingin melihat reaksi Via.
Via menatapnya tajam sambil ingin mendengar kalimat berikutnya. "Dia apa?"
"Dia sempat menggodaku."
"Lalu? Kamu?"
Darren menikmati makananya lagi. "Sayurnya enak banget, lain kali bawa lagi yang banyak."
"Kalo aku lagi mood mau masak aja, baru kubawain lagi ke sini," kata Via sambil ikutan makan.
"Kok kamu gak penasaran bagaimana tingkah laku dia menggoda aku tadi?" tanya Darren heran. "Biasanya kalo ceweknya denger cowoknya digoda ama cewek lain kan, pasti bakalan ngambek."
"Oh ya?" tanya Via balik.
"Ya. Kebanyakkan gitu. Tapi kamu malah biasa aja. Kamu beneran gak cemburu kalo dia mau ngapa-ngapain aku?"
"Aku tidak ada waktu untuk cemburu," jawabnya sambil makan. "Jika aku tidak percaya sama kamu, ngapain juga aku pacaran sama kamu. Lagian cemburu juga bikin capek ati dan pikiran. Jika emang kita gak bisa bertahan ya udah...."
'Cup!' kecupan ringan yang mendarat tiba-tiba ke bibir Via.
__ADS_1
Darren sengaja menghentikan kalimat Via dengan kecupannya. "Jangan diteruskan lagi!" pintanya.
Via menutup bibirnya dengan telapak tangannya. "Cepat makan!" serunya dari balik telapak tangannya.