Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 75


__ADS_3

Sayang sekali anak seusianya tidak di didik dengan baik. Aku menceritakan masalah ini pada Via dan kedua orangtuaku sampai mereka geleng-geleng kepala saat aku pulang kerja.


"Kalo dia sudah keterlaluan, lebih baik lapor polisi," saran mamiku.


"Jangan terlalu ditanggepin! Bisa jadi ini cuma ancaman biasa aja," timpal daddy.


"Tapi dia uda mencemarkan nama baik Darren," bela mami.


"Selagi bisa diselesaikan dengan baik, mendingan jangan lapor polisi dulu," saran daddy.


"Aku rasa juga gitu sih, ded. Aku sendiri pengen tau nih anak nyalinya sampe mana."


Melihat sejauh mana dia bisa bertingkah seperti anak kecil. Via menggenggam tanganku dan kami berdua tidak akan begitu ambil pusing dulu dengan sikap Aeri yang kami nilai kekanakkan.


Di apartemen Via


Aku mengantar Via pulang dan ngobrol dengan Ferdy sebentar tentang kesibukkan dia yang sudah tinggal menunggu hasil kelulusannya. Kami minum berdua sambil bahas masalah Aeri.


"Gila bener tuh anak!" maki Ferdy setelah mendengar ceritaku. "Gue saranin sih lu mesti ati-ati juga, bro. Soalnya anak ini ada ciri-ciri psycho."


"Masa, sih?" tanyaku gak yakin.


"Kalo dalam ilmu kedokteran, anak ini uda termasuk ke dalam ciri-ciri psikopat ringan. Jadi dia beda di depan, beda di belakang. Trus apa yang dia mau harus dapat. Ciri orang psikopat pada wanita menunjukkan tanda-tanda yang berbeda dan seringkali kurang keras. Akibatnya, psikopat wanita lebih tidak terdeteksi," jelas Ferdy yang berbagi informasi tentang ilmu yang didapatnya.


"Oooo... Berarti emang gak beres ama otaknya. Apa ada jalan keluar buat hadepin dia?"


"Jalan keluarnya sih gak ada, kecuali dia nyerah ato dia berjuang ampe dia puas. Makanya gue bilang kalo lu ama Via mesti ati-ati."


*****


🌺Author Pov🌺


Beberapa hari kemudian Darren telah menemukan lokasi untuk Via buka cabang tokonya di dekat kantornya. Tempatnya lumayan luas buat gallery Via nanti.


Setelah dari cek lokasi tempat itu, Darren dan Via bergegas ke pesta pernikahan Yuda. Tidak lupa juga Ferdy ikutan nimbrung satu mobil dengan Darren dan Via. Hari ini Darren dan Via tampil bak putri dan pangeran dalam dongeng. Via menggandeng lengan tangan Darren sehingga mencuri perhatian beberapa teman dekat Darren.


"Selamat ya Yud atas pernikahan lo," ucap Darren sambil memberikan selamat pada Yuda.


Kemudian disusul juga oleh Via dan Ferdy yang ikutan memberikan selamat pada calon mempelai.


"Kapan nyusul, bro?" tanya Yuda sambil menepuk lengan tangan Darren.

__ADS_1


"Sebentar lagi," jawab Darren sambil tersenyum ke arah Via.


"Gue tunggu ya undangannya," timpal Yuda sambil melirik dua sejoli ini.


"Iya. Gue pasti tulis nama lu di daftar tamu yang gue undang tar," kata Darren sambil merangkul pundak Yuda.


"Ini, buat kamu!" kata Ferdy sambil memasukkan sebuah kotak kecil ke dalam kantung jas Yuda.


"Apaan nih?" tanya Yuda penasaran.


"Obat kuat," bisik Ferdy.


"Dasar lu! Lu pikir, gue lemah," serang Yuda.


"Persiapan aja. Siapa tau, lu kelelahan abis pesta trus lupa sama kewajiban lu. Jadi kan bisa andelin tuh obat. Yang gue kasih ini, aman kok," lanjut Ferdy.


"Hahaha... Ada-ada aja lu, bro. Thanks ya!" ucap Yuda sambil ketawa geli.


Via, Ferdy, dan Darren duduk satu meja yang sudah disediakan. Tampak seseorang datang menghampiri meja mereka. Pria tampan yang hari ini ikutan berbahagia atas pernikahan adiknya, Hendra.


"Boleh, join?" izinnya pada mereka bertiga yang menatapnya terperangah.


"Bang Hendra, apa kabar?" tanya Ferdy yang sudah lama tidak bersua dengannya.


"Baik. Kamu... adiknya Via, kan?" tanyanya memastikan.


"Ya, bang. Aku, Ferdy," jawab Ferdy.


"Wah.. Sudah makin gagah dan tampan aja sekarang!" puji Hendra saat melihat penampilan Ferdy saat ini.


"Bisa aja, bang."


"Halo! Boleh gabung, gak?" izin Bella yang tiba-tiba datang dengan wajah cerianya.


Bella langsung menarik kursi untuk didudukinya. Lalu mereka saling bertatapan karena suasana menjadi sedikit aneh, tapi tidak dengan Darren. Darren tahu maksud kedatangan Bella yang ingin bergabung dengan mereka.


"Bella!" sapa Hendra yang terkejut dengan datangnya Bella dan kini sudah duduk disebelahnya.


"Halo, kak Hendra! Kamu masih ingat aku?" tanya Bella.


Hendra tersenyum datar. "Ya, aku ingat."

__ADS_1


"Kak Hendra, kamu baru pulang dari Italy? Kok aku baru tau. Coba kalo aku tau dari kemaren-kemaren, kita pasti bisa jalan-jalan berdua."


"Aku hanya sebentar di sini. Pulang karena pernikahan Yuda saja. Setelah itu, mungkin aku akan kembali ke Italy."


"Kenapa buru-buru?" tanya Bella penasaran dan gak puas.


"Karena di sini... hanya mengingatkan memori dulu dengan wanita yang kusuka," jawabnya sambil melirik Via.


Darren yang mendengar hal itu langsung menggenggam tangan Via dan enggan melepaskannya. Ia pun memamerkannya di atas meja agar Hendra dapat melihatnya, tapi Hendra hanya tersenyum smirk saja.


"Kalo gitu, aku ingin bilang sesuatu sama kakak. Hal yang sudah lama kupendam," kata Bella sambil menatap Hendra serius.


Hendra membalas tatapan Bella dan ingin tahu apa maksud perkataan Bella. "Apa?"


"Aku sudah lama mengejar kakak. Aku sangat menyukai kakak," aku Bella yang membuat satu meja terkejut terkecuali Darren karena sejak dulu Darren sudah tahu.


Saat Darren sibuk mengejar Bella, Bella malah menyukai Hendra. Bella menyukai Hendra saat sering di ajak Darren bermain ke rumah Yuda. Dari sanalah, Darren memilih menyerah mengejar hal yang gak pasti. Padahal Bella merupakan wanita pertama yang disukainya. Tapi sekarang ia sangat bersyukur atas kehadiran Via yang sudah 100% mengisi hatinya sampai saat ini.


"Hahaha... Jangan main-main dengan perasaan!" ingat Hendra yang tidak menganggap serius pengakuan Bella barusan.


"Aku gak main-main, kak. Aku serius. Aku sudah lama suka sama kakak, tapi kakak gak pernah liat aku."


"Aku pulang Indo waktu itu hanya satu bulan, trus kamu uda bisa langsung suka sama aku dalam waktu singkat?"


"Namanya suka, itu kan gak harus terjadi dalam waktu lama. Dalam waktu singkat saja, aku udah terpikat dengan kakak. Kakak sampe sekarang belum punya pacar, kan?" tanya Bella dengan gaya pedenya.


Darren menatap Hendra dan ingin mendengar jawaban dari mulutnya sendiri. Hendra juga merasa tatapan tajam Darren yang tertuju padanya seolah-olah meremehkannya.


"Baru mau ku kejar," jawab Hendra yang sontak berhasil membuat Darren tidak senang.


Melihat wajah Darren yang berubah gak mood, Via mengelus tangan Darren mencoba menenangkan. Darren langsung menatap Via sambil tersenyum seolah-olah sudah jauh lebih baik.


"Kak, kenapa gak pilih aku yang sudah pasti menyukai kakak? Apa aku gak secantik wanita yang kakak suka?"


"Kamu cantik. Hanya saja, aku menyukai dia bukan karena dia cantik saja. Tapi karena aku merasa dia adalah orang yang tepat buatku."


"Aku penasaran ama orangnya. Apa dia ada di sini?"


"Ada."


"Dimana?" tanya Bella sambil mencari-cari wanita yang di maksud Hendra.

__ADS_1


__ADS_2