
"Ekhhmmm..." dehem pak Jil yang baru saja masuk ke ruangan sambil membawa segelas air jahe untukku.
Kami langsung jaga jarak, karena malu dilihat oleh pak Jil.
"Kok gak ketuk pintu dulu, pak?" tanya Darren.
"Pintunya kebuka tuh, den. Makanya bapak main masuk aja. Ini, air jahe buat non Via! Semoga baikkan abis minum air jahe ini," kata pak Jil sambil menaruh air jahenya ke atas meja.
"Terima kasih, pak. Nanti saya minum," kataku.
"Silahkan dilanjutkan, den! Bapak bantu tutup pintunya agar bisa berduaan lagi. Bapak permisi dulu," pamitnya sambil keluar dari ruangan Darren dan menutup pintunya kembali.
"Pak Jil... Pak Jil..." kata Darren sambil senyum-senyum sendiri.
Jam 16.30
Darren pulang lebih awal dari karyawannya. Kami singgah sebentar di swalayan terdekat. Aku memintanya agar dia menunggu di mobil saja, karena aku hanya beli sedikit barang. Aku membeli beberapa snack untuk cemilan nanti malam dan juga testpack (tanpa sepengetahuan Darren).
"Udah belanjanya?" tanya Darren saat aku sudah masuk ke dalam mobil.
"Udah," jawabku sambil menaruh kantung belanjaan ke kursi penumpang bagian belakang.
"Snacknya banyak amat, gak takut gendut?"
"Gak. Kalo aku gendut, emang kamu gak bakal suka ama aku lagi?" tanyaku sambil memasang sabuk pengaman.
"Apapun kamu, mau gendut apa kurus, ya gak masalah selama hatimu gak berubah ke aku."
"Alahhhh... Banyak gaya kamu," ledekku.
"Ckck... Ada ya istri kek gini. Di kasih tau kebenarannya, tapi gak percaya," katanya sambil mengemudi.
*****
Pagi jam 05.30
Aku bangun seperti biasanya. Tapi pagi ini, aku mau coba tes urinku dulu dengan testpack yang ku beli kemaren sore sesuai saran Julia.
Aku mengambil wadah untuk menaruh sedikit urinku dan aku membuka kemasan testpacknya yang masih segel plastik. Karena aku juga gak ngerti, jadi hanya bisa mengikuti petunjuknya. Mencelupkan sebuah alat tes ke urin yang sudah ku tampung.
"Katanya, di suruh tunggu kurang lebih dua menitan."
Aku melihat sesuatu yang berwarna merah naik dengan cepat ke atas dan tiba-tiba muncul satu garis minus, lalu muncul lagi satu garis minus tapi agak buram sedikit dari yang sebelumnya.
"Apa ini udah keliatan hasilnya aku hamil apa gak?"
Aku membaca arti garis dua yang dimaksud di alat itu lewat keterangan dibalik kemasannya.
"Garis satu negatif, tidak hamil. Garis dua, hamil," bacaku pelan dari kertas kemasan itu takut kedengeran Darren.
Aku memperhatikan lagi garisnya dengan teliti dari alat tes itu. Karena aku tidak berani menebak-nebak, aku mulai searching di google tentang kebenaran garis dua pada alat testpack.
__ADS_1
"Nah... ini dia," kataku setelah menemukan topik yang kumaksud. "Garis dua pada alat tes, walaupun satunya terlihat buram sudah dinyatakan positif hamil, tapi tetap harus dipastikan ke dokter kandungan," begitulah yang kubaca dari salah satu artikel online.
"Via!" panggil Darren dari luar.
"Ya," jawabku sambil membuang urin yang bekas dari wadah ke toilet dan segera membereskan kemasan testpack agar gak ketahuan Darren.
"Kamu ngapain?"
"Aku lagi pup."
Maaf ya Der aku harus bohong dulu, karena aku mau kasih kamu kejutan dengan caraku.
"Ooo..."
Alat testpacknya aku sembunyiin lagi di dalam kemasannya, lalu aku masukkan ke dalam kantong celana tidur yang kukenakan. Setelah semuanya oke, aku keluar dan pergi ke dapur untuk menyiapkan menu sarapan kami. Darren masih melanjutkan tidurnya saat aku melewatinya tadi.
Aku masak bahan yang sederhana saja untuk sarapan. Tidak lama kemudian, Darren bangun dan menghampiriku di dapur yang sedang berberes setelah ku cuci semua alat-alat masakku.
"Pagi, sayang!" sapanya sambil memelukku dari belakang dan mengecup kepalaku.
"Pagi! Sarapannya udah kusiapin. Kamu duduk dulu sana, aku udah mau selesai."
"Aku mau peluk kamu dulu. Nyawaku belum ngumpul nih."
"Tapi kamu berat," keluhku.
Darren membalikkan tubuhku dan mengangkatku ke atas lemari kitchen set yang bisa diduduki. Padahal tanganku masih berbusa semua karena belum selesai bersih-bersihnya.
"Kamu kok keknya cuek banget ama aku?"
"Biasa aja," jawabku singkat.
"Aku ngerasa... kamu agak cuek dan kalo aku deketin kamu, kamu seperti risih ama aku," keluhnya sambil menahan posisiku dengan kedua tangannya yang bersandar di lemari kitchen set yang tengah kududuki.
"Aku mau cuci tangan dulu."
"Gak boleh! Kamu coba jawab aku, kenapa kamu cuekkin aku?"
"Aku gak merasa cuekkin kamu kok. Aku cuma kadang capek aja, tapi aku sama sekali gak niat cuekkin kamu."
'Cup!' sebuah kecupan ringan mendarat ke bibirku.
"Aku cuci tangan dulu ya. Udah itu kita sarapan bersama," kataku sambil mencoba tersenyum padanya agar dia gak merasa aku cuek padanya lagi.
Dia tidak menghiraukanku. Dia memegang jenjang leherku dan dia mengajakku berciuman. Aku hanya bisa mengikuti kemauannya saja. Mungkin akhir-akhir ini aku agak sensi yang aku sendiri gak menyadari perubahanku, tapi dia merasakannya.
Dia mengakhiri ciuman kami. Dia menatapku dan mencium keningku agak lama. "Aku sayang kamu, Via. Jangan pernah berubah buat aku ya!" pintanya sambil menyatukan keningku dengan keningnya.
"Ya, aku juga sayang kamu. Bisa kamu bantu turunin aku sekarang?"
Akhirnya dia menurunkan aku dan aku segera pergi cuci tangan dan membereskan sisanya. Darren sarapan lebih dulu, karena sebentar lagi dia akan siap-siap pergi ke kantor.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar mandi dulu, mau buang air kecil sebentar," pamitku buru-buru karena terasa kebelet nahan pipis dari tadi.
"Perasaan, tadi kamu udah dari kamar mandi," katanya yang merasa aneh sambil memperhatikanku.
"Gak tau nih. Beberapa hari ini kek kebelet pipis mulu padahal minum gak banyak. Aku pergi dulu ya," kataku sambil buru-buru melangkah menuju ke kamar mandi.
🌺Darren Pov🌺
Aku masih menikmati sarapanku tanpa Via. Aku mengambil jus jeruk dari dalam kulkas dan menyiapkannya ke dalam sebuah gelas, karena Via belum menyiapkan minuman untukku. Tiba-tiba aku seperti menginjak sesuatu.
Aku melihat apa yang sudah ku injak barusan. Sebuah kertas yang bertuliskan testpack merk S*nsitif. Aku mengambilnya dan melihatnya dengan seksama.
"Apa ini?"
Aku gak pernah lihat barang seperti ini. Kenapa bisa di sini? Punya siapa? Aku melihat kemasan tersebut yang sudah terbuka dan menemukan sebuah alat yang berukuran kecil tapi berbentuk persegi panjang dari dalam kemasan tersebut.
"Apa sih ini?" tanyaku bingung sendiri sambil melihat alat yang kepegang ini.
Aku mulai membaca tulisan dibalik kemasan. Setelah membacanya, aku baru mengetahui kalau itu alat tes kehamilan. Dan aku baru tahu makna dari dua garis yang muncul dari alat persegi panjang tadi.
"Garis dua? Berarti..."
"Der, kamu liat sesuatu..." Dia berhenti berkata dan melihatku yang sudah memegang sesuatu ditanganku.
"Kamu... cari ini?" tanyaku memastikan sambil menyerahkan alat kecil itu padanya.
"Iya," katanya malu-malu sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.
"Kamu... hamil?" tanyaku terang-terangan dan jantungku tiba-tiba berdetak kencang karena ingin mendengar kabar berita bahagia ini dari mulutnya sendiri.
Dia hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku langsung pergi untuk memeluknya sambil masih memegang alat kecil itu.
"Makasih ya, sayang," bisikku senang bukan kepalang. Aku melepaskan pelukkanku dan menatapnya. "Jadi tadi kamu udah tes di kamar mandi? Kok kamu gak langsung kasih tau aku?"
"Tadinya aku mau kasih kamu kejutan, tapi gak taunya dia malah jatuh di dapur dan pas aku mau cari malah udah keduluan ama kamu."
"Via, kita ke dokter ya hari ini! Kita periksa kondisi kamu."
"Tapi kamu kan mau ngantor. Aku ke dokternya tar aja tunggu kamu abis pulang kerja."
"Gak ah. Aku bisa ke kantor dengan tenang setelah membawamu periksa ke dokter."
"Ya deh. Aku ikut aja," jawabnya dengan senyum manisnya.
"Ayo, sini duduk!" Aku membimbingnya ke sebuah kursi. "Makan sarapan kamu dengan perlahan, aku mau mandi dulu. Lalu, kamu taro aja piring dan sendoknya kalo abis makan. Aku akan bantu kamu cuci nanti. Kamu jangan terlalu capek!"
"Ampe segitunya. Aku bisa kok kerjain hal mudah seperti ini," protesnya.
"Kamu dengerin aku aja kali ini. Aku mau memberikan yang terbaik buat kamu. Oke?"
"Oke, bos!" jawabnya lantang sambil memberi hormat.
__ADS_1
"Makan dulu sana!" suruhku sambil membelai rambutnya perlahan.