Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 20


__ADS_3

Seperti yang sudah di bicarakan, Via memang sudah siap satu jam kemudian. Sekarang waktunya juga sudah jam sebelas pagi, jadi pas lah untuk ke mall sekarang. Penampilan Via tidak kelihatan dengan umurnya. Malah dia sebanding dengan seumuran Darren.



*Via


Sedikit dengan make up tipis saja, Via sangat tampak manis. Sementara di lain tempat, Darren sedang memilih helm yang akan di gunakannya. Dia juga menyiapkan satu helm untuk Via, tapi kurang yakin kalau Via akan memakainya, karena helm yang di sini rata-rata adalah helm pembalap. Maklum.. ini semua koleksi Ferdy.



*Darren


"Pilih ini aja. Keknya gak terlalu sempit juga," kata Darren setelah memeriksa helm itu dan memastikan Via nyaman memakainya nanti.


Via datang menghampiri Darren yang sudah di bagasi motor.


"Yuk! Berangkat!" ajaknya sambil menunggu respon Darren.


"Ini, helm kamu!" kata Darren sambil menyerahkan helm itu ke Via.

__ADS_1


Via melihatnya dengan ragu sambil memegang helm tersebut. "Emang gak ada yang lain? Jangan terlalu kek pembalap gini kek!" keluhnya.


"Liat nih!" Darren menyuruhnya melihat beberapa helm yang terpajang rapi di bagasi itu.


Sebagian besar memang hanya ada helm pembalap saja dan itu pun ukurannya sangat kecil atau sedikit lebih sempit. Jika Via masih ngotot memilih helm yang lain, pasti akan merusak riasan Via nantinya. Pastinya tidak semua cewek mau kalau penampilan mereka terlihat kacau gegara helm.


Via sudah melihat semua koleksi helm di bagasi. Hanya pilihan Darren yang ada di tangannya sekaranglah yang paling tepat.


"Pakai ini saja deh," katanya nyerah dan langsung di kenakannya.


Darren juga sudah siap dengan salah satu helm yang dipilihnya. Dia memakai hoodie hitamnya dan membawa sebuah ransel di depan dadanya karena hanya tas itu yang di bawanya saat bertamu ke apartemen Via. Setelah ia memakai helmnya, ia tidak lupa memastikan kalau helm yang dikenakan oleh Via sudah terpasang dengan benar atau belum. Ternyata Via lupa mengunci tali pengaman helmnya. Dengan hati-hati, Darren membantunya mengunci tali pengaman helm Via tadi dan memastikan Via nyaman juga dan aman.


"Sama-sama," balas Darren sambil bersiap-siap dengan motor yang akan di bawanya.


Kemudian Darren mengendarai motor Ferdy dan siap membawa Via jalan-jalan ke mall. Dengan jarak duduk mereka berdua yang begitu intim gegara jok motor yang sempit dan sedikit nungging di bagian belakang, Via tidak berani memeluk Darren walaupun sebenarnya dia sedikit takut jatuh. Tapi bukan Darren namanya kalau tidak bisa sedikit bersiasat agar Via bisa memeluknya. Darren dengan sengaja melaju dengan kecepatan 60-80km/jam, yang kemudian tiba-tiba berhenti mendadak saat ada lampu merah yang menyala. Kalian pasti tahu kan pemandangan seperti itu.


🌺Via Pov🌺


"Pelan-pelan dong, Der!"

__ADS_1


Darren malah gak gitu anggap pesanku barusan. Dia tidak kedengaran atau emang sengaja? Dasar nih bocah! Kenapa coba naik motor udah seperti mau balapan saja?


Dari awal pergi saja firasatku sudah agak khawatir, karena sudah lama gak berkendara dengan motor. Aku jadi ingat dengan kenangan manis bersama mantan pacarku yang dianya juga suka memboncengku dengan motor gedenya kemana-mana. Kala itu, kisah kami sangat romantis seperti pasangan anak muda yang tengah mabuk kasmaran.


Namanya Victor Joe. Seorang cowok pertama yang membuatku tergila-gila, perfect, dan sampai saat ini belum ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku. Anak seorang pengusaha dari teman akrab papiku. Singkat cerita, kami berpacaran saat kami masih sekolah menengah atas di sekolah yang sama dan kelas yang sama juga. Dia juga idola para cewek sekolahan masa itu. Hobby laki-laki pada umumnya seperti basket, renang, baseball, golf, dan balapan liar kecil sangat di gandrunginya. Itu juga yang membuatku susah move on darinya. Di samping itu, dia membuatku selalu seperti ratu di hatinya. Bahkan dia tidak berani berpaling dengan cewek lain demi menjaga perasaanku sebagai pacarnya.



*Victor Joe dan Via


Aku suka menemaninya bermain baseball. Kadang dia juga mengikuti pertandingan baseball antar sekolah dan dengan adanya dia di tim dari sekolah kita selalu menjadi juara pertama. Beberapa piala dan piagam terpajang rapi di rumahnya. Maklum dia anak semata wayang. Jadi semua hal yang berkaitan dengan hobbynya selalu di jadikan moment indah di rumahnya sebagai kenang-kenangan.


Kenangan yang membuatku terkesan adalah saat kami kuliah bersama tapi dengan jurusan yang berbeda. Dia mengambil jurusan teknik mesin, sedangkan aku mengambil jurusan desain. Kami selalu pergi dan pulang bersama dengan motor gede kesayangannya. Dia bukan tidak punya mobil, hanya saja aku dan dia suka mengendarai motor bersama dan seperti yang awal ku ceritakan kalau dia anak motor. Dia suka balapan liar dengan teman nongkrongnya dan aku selalu menemaninya melihat aksi gilanya itu. Walaupun aku suka melarangnya agar tidak balapan liar lagi, dia tetap bisa meyakinkan aku kalau dia bisa melewatinya dengan baik dengan ketajaman instingnya dalam membawa motor. Dia memang selalu menang masuk tiga besar, tapi suatu hari kesialan menimpanya. Saat hari itu juga, aku di sana.


"Sayang, percaya ama aku. Aku akan baik-baik saja. Kamu tunggu aku di sini, berdoa untukku. Jika aku menang, kita akan rayakan di restoran favorit kita. Kita akan merayakan anniversary kita di sana," kata-kata terakhirnya yang terngiang di telingaku sampai saat ini.


Entah kenapa hatiku resah setelah mendengar kata-kata yang baru saja di lontarkannya. Aku berdoa untuk keselamatannya dan menunggunya menghampiriku dengan keadaan selamat. Tapi.... Aku melihatnya dia terjatuh dari motor kesayangannya di depan mataku. Saat itu juga, hatiku hancur seketika. Dia terguling-guling di atas aspal dan motornya hancur tak berbentuk. Aku dan yang lainnya menghampirinya. Aku memeluknya sambil melepaskan helmnya pelan-pelan. Saat itu, aku tidak bisa menahan air mataku. Dia terlihat kacau, wajahnya di penuhi oleh darah segar, dan dia tak sadarkan diri. Aku menangis sejadi-jadinya. Hingga tanpa kusadari sebuah mobil ambulans datang untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, segala macam alat penunjang keselamatannya di rekatkan di seluruh tubuhnya. Aku tidak bisa melihat kekacauan ini, hanya duduk menangisi penyesalanku yang tidak bisa menghentikannya untuk berhenti balapan. Tampak juga kehadiran kedua orangtuanya yang saling menguatkan satu sama lain, menunggu kabar baik dari sang dokter yang sedang mengoperasi Victor dari pendarahan di otaknya. Kedua orangtuaku juga datang memberiku ketenangan dari rasa shockku. Rasa kekhawatiranku yang tinggi membuatku menangis tiada henti hingga mami Victor memelukku agar aku tenang dan meyakiniku kalau anaknya akan baik-baik saja setelah operasi nanti.

__ADS_1


__ADS_2