
"Ekhmm..." dehemnya tiba-tiba membuyarkan suasana.
Kami kembali ke posisi semula. Padahal sedikit lagi kami bisa kissing. What happend with you, Via? Aku hanya bisa menahan malu menatap ke segala arah.
"Ayo, Der! Filmnya udah abis," katanya yang sudah sibuk memasukkan popcorn kotor yang abis di pungutnya tadi ke dalam gelas plastik kosong bekas minumannya.
Aku baru sadar kalau filmnya memang sudah berakhir. Lampu gedung sudah di nyalakan terang dan para penonton bubar tanpa berdesak-desakkan. Kami juga mengikuti penonton lainnya jalan menuju pintu keluar.
"Der, aku mau ke kamar kecil dulu."
"Oke, Vi. Aku tunggu di sana ya," kataku sambil menunjuk ke bangku tunggu yang ada di sekitaran hall bioskop.
Kenapa jadi tegang begini sih? Apa tadi aku terlalu terburu-buru ya? Tapi kenapa dia juga diam aja?
πΊVia PovπΊ
Sebenarnya aku bukan kebelet ingin buang air kecil, hanya saja aku menghakimi diriku dengan apa yang terjadi tadi di dalam gedung bioskop. Di depan kaca rias toilet khusus wanita, aku memandang diriku dan terbawa dalam lamunanku. Aku menyesal dengan yang terjadi tadi. Bukan niatku untuk mendekati Darren seperti itu. Hanya saja tadi aku tengah memikirkan kehadiran Victor. Entah kenapa jika bersama Darren, perasaan saat bersama dengan Victor muncul bersamaan. Tapi aku sama sekali gak niat untuk mempermainkan perasaan Darren. Aku tau, dia masih kecil. Aku yang bersalah telah mempengaruhinya. Aku harus lebih bisa mengontrol diriku. Jangan sampai ini terjadi lagi.
'Victor uda gak ada Via. Please jangan terbawa emosi dan melampiaskan ke orang lain yang gak tau apa-apa!'
Aku keluar dari ruangan toilet dan segera menemuinya. Ia masih setia menunggu di kursi tunggu sambil memainkan ponsel di tangannya.
'Tarik nafas, lalu hembuskan! Tarik nafas lagi, hembuskan lagi!' batinku.
"Der, ayo jalan!" ajakku yang sudah berdiri di depannya.
Dia menghentikan bermain dengan ponselnya lalu menatapku. "Ayo!"
"Kamu sudah lapar?" tanyaku sambil berjalan dan melihat-lihat apakah ada restoran terdekat.
"Ya, aku lapar."
"Bagaimana kalau kita makan Japanese food? Suka?"
"Boleh!" jawabnya setuju.
Kami berjalan dengan eskalator sambil mencari restoran Japanese food. Aku belum begitu lapar karena tadi terlalu banyak makan popcorn dan menghabiskan minuman sodaku. Hanya saja aku khawatir jika Darren lapar karena seusianya pasti punya nafsu makan yang tinggi.
Setelah menemukan restoran yang bertuliskan Sukiyaki and Shabu (salah satu nama restoran Japanese food), kami langsung masuk ke dalam. Seperti restoran pada umumnya, kami langsung dipersilahkan duduk di tempat yang kami mau. Salah satu pelayan dengan ramah memberikan buku menu dan membiarkan kami memilih menu yang akan kami pesan nanti.
"Aku paket sukiyaki yang ini saja," tunjukku pada sebuah menu yang sudah kuputuskan pada si pelayan.
"Baik, kak!" jawab si pelayan sambil menulis di kertas orderannya.
__ADS_1
"Aku sama seperti dia saja," kata Darren sambil menutup buku menunya.
"Jadi dua menu paket sukiyaki personal ya, kak. Minumannya kak? Kami ada teh sakura yang dominan dari restoran kami, apa kakak berdua ingin mencobanya?" tawar si pelayan dengan ramah.
"Boleh. Der, kamu mau?"
"Aku juga," timpal Darren setuju denganku.
"Baik. Terima kasih atas pesanannya ya kak. Mohon tunggu sebentar, kami akan siapkan dulu!" Si pelayan pergi setelah menerima orderan kami.
Tiba-tiba ponselku berbunyi karena ada panggilan masuk. Aku mengambilnya dari tas selempangku dan tertera nama Aldo di layar ponsel. Aku segera mengangkatnya.
π "Ya, Hallo!"
π"Hai, Via! Besok aku akan menjemputmu ya pukul 17.30."
π"Mmm.... Oke, Do."
π"Sekarang kamu lagi ngapain? Apakah kita bisa ketemuan?"
π"Sekarang aku lagi di restoran sedang makan."
π"Apakah kamu sudah punya gaun untuk acara esok?"
π"Sudah ada."
π"Tidak mengganggu sama sekali. Aku sedang makan bersama adikku."
π"Hubungan kalian sungguh akrab ya. Hahaha... aku sangat iri. Jadi malam ini, apakah aku bisa mengajakmu keluar?"
π"Aku... "
Aku menatap Darren dan ia cuek sambil memainkan ponselnya.
π"Aku akan memberitaumu nanti setelah aku pulang ke rumah."
π"Oke. Segera kabari aku ya!"
π"Oke!"
Kami mengakhiri percakapan ponsel kami.
"Jadi besok dia akan menjemputmu?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Ya. Besok aku pergi dengannya. Kamu bisa pergi dengan Ferdy jika mau. Aku akan menunggu kalian di sana."
"Aku belum tentu pergi."
"Permisi, kak! Makanannya sudah siap. Kami bantu hidangkan dulu ya kak," kata dua orang pelayan yang datang dengan membawa pesanan kami.
Setelah beberapa menit makanan sudah tertata rapi di meja kami, Darren dengan gesit membantuku memanggang daging sukiyakinya. Tangannya memegang capitan khusus untuk memanggang terlihat cekatan membolak-balikkan daging di atas panggangan.
"Ini, makanlah!" serunya sambil memberiku beberapa potong daging yang sudah matang ke atas piring kosongku.
"Terima kasih," kataku sambil mencicipi hasil panggangannya.
"Ati-ati, itu baru saja matang!"
Ia sendiri masih sibuk memanggang daging untuk dirinya dan berselang tidak lama ia mulai memindahkan seluruh daging hasil panggangannya ke piring kosongnya. Boleh dibilang kalau porsi makanannya lebih banyak dariku. Bahkan daging miliknya sudah habis duluan tak tersisa. Aku hanya bisa menatapnya kagum melihatnya makan dengan porsi sekali habis. Belum lagi ia barusan meminta nasi putih sebagai teman makannya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Jangan kelamaan liatnya, tar naksir!" ledeknya sambil menikmati makannya.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku saja karena tidak tahan melihat tingkat kenarsisannya.
"Jangan banyak menggoda wanita tua, nanti kualat!" marahku.
"Hahaha.... jadi kau wanita tua?" tanyanya sambil tertawa.
"Terserah kau saja." Aku meneruskan menikmati makananku.
"Besok acaranya mulai jam berapa?"
"Pukul 19.00 malam."
Darren hanya menaikkan kedua alisnya saja setelah mendengar jawabanku.
"Abis makan, kita keliling bentar ya! Hitung-hitung buat bakar kalori," ajaknya.
"Ya, aku juga ingin membeli makanan ringan untuk Ferdy nanti."
"Kalau aku datang besok, apa kamu bakal berduaan terus dengan dia?" tanyanya dengan kedua mata menyayat seperti tatapan seorang anak kecil yang enggan di tinggalkan.
"Tentu saja aku akan menemanimu juga. Toh di sana pasti banyak yang tidak ku kenal. Lagian itu bukan pesta kami."
"Aku akan coba ajak Ferdy," katanya bersemangat.
"Aku sudah kenyang. Ini ada sisa daging dari porsiku. Tolong bantu aku habiskan! Kalau tidak, kita akan di denda nanti. Lagian mubazir kan buang-buang makanan," kataku yang sedikit memaksanya.
__ADS_1
"Iya. Iya. Dasar cewek kalo makan pasti selalu gak abis. Gimana bisa cepet tinggi?" dumelnya.
"Kamu ini...." kataku yang agak kesal mendengarnya berdumel.