
Aku mencoba mengabaikan perasaanku. Untuk apa juga Darren membututiku sampai ke sini? Tapi aku penasaran....
"Kau kenapa? Apakah makanan di sini gak cocok dengan seleramu?"
"Ah... Gak! Ini semua sangat enak."
"Jika ada kesempatan di lain hari, apakah kamu mau makan berdua denganku lagi? Atau kita jalan-jalan berdua ke tempat yang lainnya?"
Sambil mengunyah makananku, sambil memikirkan waktu yang dia maksud, karena aku sedang ingin mengikuti lomba desain jewerly beberapa hari lagi.
"Mmm... Aku akan memberitahumu nanti," kataku yang tidak ingin membuatnya kecewa.
"Apakah kamu sibuk?"
"Ya! Sepertinya aku akan sibuk dalam beberapa hari ini. Aku sangat ingin mengikuti lomba desain jewerly yang akan di adakan lima hari lagi. Akhir-akhir ini aku cukup terbebani dengan desain-desain yang akan kusiapkan untuk kontes nanti."
Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja dengan pelan. Aku pun melanjutkan makanku.
"Tapi... Gakpapa kan kalo aku chat sama kamu kapanpun? Dan aku tidak akan menuntutmu untuk membalas chatku dengan cepat. Hanya jika kau sedang tidak sibuk saja," katanya dengan kedua matanya yang berbinar penuh harap.
Jujur saja, Aldo memang sosok pria yang manis dan ramah. Sifatnya tidak jauh beda dengan Ferdy.
"Tentu!" jawabku dengan senyum manisku.
"Apakah kita masih punya waktu untuk nonton di bioskop malam ini?"
Aku langsung melihat ke arah jam tanganku yang menunjukkan pukul 17.45. Harusnya sih bisa kalau hanya satu jam saja, karena aku masih ingin meneruskan kerjaanku saat pulang nanti. Dan aku paling males kasih alasan ke mama kalau di tanya kenapa datenya cuma sebentar.
"Baiklah!"
Aldo tersenyum sangat manis saat mendengar persetujuanku. Tapi hatiku malah gusar. Bukan karena dikebut oleh pekerjaanku yang tertunda dan harus cepat selesai, melainkan gusar tak menentu yang entah apa penyebabnya.
Tidak lama kemudian, aku melihat sosok yang mirip dengan Darren tersebut sudah mulai pergi meninggalkan tempatnya. Benar-benar mirip dari segi pakaian dan cara jalannya. Aku harus membuktikannya sendiri.
__ADS_1
"Aku ke toilet sebentar ya," pamitku sebentar.
"Oke." Aldo langsung mempersilahkanku.
Meninggalkan pouchku di meja makan dan langsung pergi mengejar sosok yang mirip dengan Darren itu dengan langkah yang agak cepat.
*Darren
Dia tidak mengetahui kalau aku membututinya. Suara heelsku tidak akan terdengar jelas karena suara musik yang keras bergema di sekitaran ruangan ini. Aku langsung menepuk pundaknya saat aku sudah berada persis di belakang tubuhnya. Sosok pria itu terdiam sejenak dan langsung menoleh ke arahku.
"Via!" panggilnya dengan wajah kaget.
"Darren!" Ternyata benar dia. "Kau mengikutiku?"
"Hehehe.... Kau salah paham. Aku ke sini karena haus dan ingin minum saja," jawabnya cengengesan.
Aku tidak percaya padanya. Sikapnya aneh.
"Aku ingin minum di mana kan terserah aku. Lagian, aku tidak suka terlalu banyak orang. Aku lebih suka tempat yang agak privat."
Aku masih menatapnya tak percaya. Ini anak gelagatnya aneh. Tapi kenapa juga aku bisa berpikiran sejauh itu? Tidak mungkin juga dia mengikutiku. Akunya saja mungkin terlalu narsis. Ah... Sudahlah! Anggap saja omongannya benar. Kali ini aku percaya saja padanya.
"Tenanglah! Aku bukan sengaja ingin mengikutimu," katanya sambil memegang kedua pundakku. "Sekarang, aku akan pulang. Kamu lanjutkan saja kencannya," lanjutnya sambil tersenyum manis di depanku.
"Oke."
Darren segera berbalik dan kemudian pergi meninggalkanku.
*****
🌺Author Pov🌺
__ADS_1
Semenjak dari kejadian Via berkencan dengan pria lain, Darren selalu tampak tidak tenang dan tidak terlalu fokus di kantornya. Dia juga sudah jarang ke tempat Ferdy dan Via, karena Darren tengah sibuk juga dengan urusan kantornya yang sedang mengajak perusahaan lain untuk bekerja sama. Sedangkan Ferdy sibuk magang di sebuah rumah sakit di daerah pedesaan terpencil dan jarang pulang. Via juga sibuk menyelesaikan desain-desainnya untuk kontesnya.
"Kalian kerjanya gimana sih? Kok bisa gak ballance gini pengeluaran dananya?"
Darren tampak sangat marah sambil melemparkan semua map yang telah di lihatnya ke lantai saat meeting berlangsung dengan para karyawannya karena tidak sesuai dengan yang diinginkannya.
Semua karyawan hanya terdiam dan saling melihat satu sama lain. Mereka juga pada berdiri dari tempat duduknya karena takut sampai ada yang badannya gemetar. Tampaknya Darren marah besar tanpa bisa mengontrol keadaannya.
*Darren
"Aku gak mau tau ya, ini harus segera di revisi lagi. Siapa yang bertanggung jawab atas laporan keuangan ini?"
Seorang perempuan muda dengan kaca matanya yang mulai menurun dari batang hidungnya karena tubuhnya tampak gemetaran langsung mengangkat tangan kanannya ke atas.
"Sa... Saya, Pak!" kata perempuan muda tersebut gugup sambil membenarkan posisi bingkai kacamatanya .
"Narnia!" seru Darren saat mengenal sosok perempuan muda berkacamata yang di kenalnya itu. "Kenapa bisa sekacau ini? Kamu harus segera membenarkan ini semua! Pokoknya besok harus langsung selesai dan aku akan mengoreksinya kembali. Aku ingin tau cara perhitunganmu kenapa laporan keuangan ini sampai gak ballance begini. Periksa kembali semua neraca dan jurnal-jurnalnya dengan teliti. Ingat itu!" titah Darren yang membuat perempuan tersebut hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat menyetujui permintaan Darren.
Sedangkan karyawan yang lain menatap bingung dengan Narnia, karena baru kali ini Narnia tidak mengerjakan pekerjaannya dengan tidak sempurna. Narnia merupakan karyawan tetap dan sudah hampir tiga tahun bekerja di perusahaan keluarga Darren. Narnia merupakan perempuan muda yang cerdas dan dia yang bertanggung jawab atas laporan keuangan perusahaan.
"Sekarang, kalian semua bubar!" titah Darren dengan nada tinggi sambil duduk kembali di kursi empuknya sambil memijat pelan keningnya.
Semua karyawan langsung kembali ke ruangan mereka masing-masing sambil membawa berkas-berkasnya. Sedangkan Pak Jil masih di samping Darren menutup pintu ruangan rapat kembali dan membereskan beberapa barang yang berserakan di meja rapat.
"Den, lagi ada masalah?" tanya Pak Jil memberanikan diri membuka suara.
Darren langsung menatap Pak Jil tanpa menjawab apapun. Tatapannya sama sekali tidak menakutkan tapi seperti tatapan yang ingin berbagi cerita hanya tidak tahu cara menceritakannya.
"Cerita aja, den! Siapa tau perasaan den nanti akan lega," kata Pak Jil sambil tersenyum.
Darren hanya diam dan masih memijat pelan keningnya sambil melonggarkan sedikit dasinya.
__ADS_1
"Kalau den belum bisa cerita, gakpapa. Pak Jil, keluar dulu ya den, siapin teh hangat manis buat den Darren," kata Pak Jil lagi sambil berpamitan keluar dari ruang rapat tersebut menuju dapur kantor meninggalkan Darren sendirian.
Tidak hanya Pak Jil yang terheran-heran dengan sikap Darren yang sangat emosian hari ini. Hampir seluruh karyawan kantor juga bergosip tentang kejadian rapat tadi.