
"Buka matamu!"
Via membuka matanya dan melihat kotak kecil di tanganku. "Ini, apa?" tanyanya penasaran.
Aku membuka penutup kotak itu dan memperlihatkan isinya. "Ini buat kamu, Vi."
Isinya memang sebuah cincin berlian. Aku mengambilnya dari kotak itu dan mengenakannya pada jari manis tangan kanannya.
"Sementara, aku memberimu cincin ini dulu sebagai tanda aku ingin serius denganmu. Tunggu aku pulang ke Indonesia baru akan mencari waktu yang pas untuk menemui kedua orangtuamu membicarakan rencana pernikahan kita," kataku meyakinkannya sambil memegang jemari tangannya yang sudah terpasang cincin berlian dariku.
Via yang terpaku pada cincin itu merasa terharu. Aku melihat ada bulir air mata kebahagiaan disana. Aku membelai wajahnya yang lembut.
"Kenapa? Terharu?" tanyaku memastikan keadaannya dan dia hanya mengangguk kecil sambil memelukku.
"Terima kasih atas hadiahnya. Aku sangat senang," katanya yang gak sanggup menahan rasa harunya lagi.
Aku melepaskan pelukkannya. Aku menatapnya dan mencoba membantunya mengusap air matanya. "Aku sangat menyayangimu, Vi. Justru akulah yang harusnya berterima kasih padamu, karena kamu mau menerimaku apa adanya. Aku sangat beruntung memilikimu," ucapku yang penuh syukur.
Bagaimanapun aku sudah merasa menang, bisa menyaingi Aldo dan Hendra. Tapi tetap saja aku pasti akan maju duluan hingga dia sah menjadi istri masa depanku.
Via membelai wajahku. Kami saling memandang satu sama lain. "Jadi ini maksud dari yang tertunda itu?"
"Mm..." sahutku sambil mengangguk dan tersenyum. "Emangnya apa yang kamu pikirkan?" godaku.
Dia membuang muka padaku dan memutar kedua bola matanya seperti sedang menyepelehkanku. Aku harap dia gak lagi mikirin hal yang aneh. Aku bukan pria seperti itu, walaupun hampir terjadi. Bagaimanapun aku tetap menghargai Via sebagai perempuanku. Aku mengelus pelan kepalanya hingga wajah betenya hilang.
"Kapan kamu menyiapkan cincin ini?"
"Waktu aku pulang dari kantor kemarin."
"Ini pasti mahal. Kamu sungguh buang-buang uang," katanya dengan nada kesal.
"Buang-buang uang? Aku kan investasi ke kamu, bukan buang-buang uang."
"Bisa aja kamu," katanya sambil tersenyum manis.
"Besok aku naik pesawat pagi. Kapan kamu pulang ke Indo?"
"Mungin dua ato tiga hari lagi. Tergantung kerjaan mami disini."
"Kalo gitu, jangan lupa kabari aku jam dan waktunya kamu pulang. Aku sendiri yang akan menjemput kamu," ucapku yakin.
"Tapi itu pas kena hari Selasa ato Rabu, bukannya kamu kerja?"
__ADS_1
"Apa sih yang gak buat kamu? Aku kan bisa minta cuti sama bos. Mereka pasti akan izinin aku. Apalagi yang aku jemput kan calon mantunya, gak mungkin mereka gak kasih izin."
"Tapi aku ngerasa ngerepotin kalo kamu kek gitu."
Aku memeluknya dengan satu tanganku. "Kamu sama sekali gak repotin. Aku kan cowok kamu sekarang, jadi aku akan sediain waktu buat kamu. Lagian kan ini gak setiap hari terjadi."
"Der, besok aku mau nemenin kamu ke bandara," katanya sambil berpeluk manja.
"Kalo gak bentrok dengan kegiatan kamu besok, ya silahkan!"
"Aku mau mandi dulu nih. Kamu mau pulang sekarang?"
"Kamu ngusir?"
"Gak. Kamu boleh disini kok sampe mami kamu pulang," jawabku sambil mencubit kedua pipi chubbynya.
"Aww... Sakit," keluhnya sambil menggosok-gosok kedua pipi yang barusan kucubit tadi.
"Kalo gitu aku mandi dulu. Kamu tunggu di sini. Jangan kemana-mana!" suruhku.
Aku langsung ke kamar mandi. Membersihkan diriku dengan pancuran air hangat dari shower. Rambut bekas disemprot dengan spray hair colour juga sudah kembali ke warna asli rambutku setelah ku cuci bersih. Rasanya lega lepas dari semua make up hari ini.
Tunggu! Handuknya kemana? Aku mencari-cari sekeliling tapi gak menemukan handukku. Sepertinya aku lupa bawa saat masuk tadi.
"Yaaaaa!" jawabnya.
"Bisa tolong ambilin handuk? Handukku ketinggalan dilemari."
"Lemari pakaian?"
"Ya, lemari pakaian. Aku butuh handuk baru," jawabku dari balik pintu.
"Bentar! Aku liat dulu."
Sepertinya ia sibuk mencari handuknya di dalam lemari, tapi gak lama kemudian dia sudah didepan pintu kamar mandi.
'Tok..tok..tok!' suara ketukkan pintu darinya.
Aku membuka pintunya sedikit dan hanya mengulurkan satu tanganku untuk mengambil handuk darinya. Karena aku lupa bawa pakaian ganti juga, aku terpaksa keluar dengan setengah telanjang alias cuma pake handuk lilit biasa saja menutupi dari area perut hingga atas lutut.
Aku keluar dari kamar mandi dengan langkah kaki pelan dan berjalan jingjit agar gak ketahuan oleh Via yang lagi sibuk main dengan ponselnya. Aku menuju ke lemari pakaian yang pintunya sliding (dorong) untuk mengambil satu stel pakaian.
"Aaaaaaaa...." teriaknya sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangannya setelah melihat kondisiku saat ini.
__ADS_1
"Vi, psssttt!" seruku agar dia gak teriak-teriak.
"Kamu ngapain sih keluar gak pake baju?" tanyanya yang masih menutup kedua matanya.
"Aku lupa bawa baju juga," jawabku sambil sibuk mengambil baju dan masuk kembali secepatnya ke kamar mandi.
Aku segera memakainya agar gak menganggu Via. Setelah berpakaian, aku keluar sambil membawa handuk untuk mengeringkan rambutku yang masih basah.
"Sini, kubantu keringin rambutmu!" katanya yang berbaik hati mengelap rambutku dengan handuk yang tadi kukenakan.
"Dulu, aku pernah melihatmu mengeringkan rambut Ferdy," kataku yang teringat masa itu.
"Ooo... Yang pas kamu lagi video call sama dia itu?"
"Ya. Waktu itu, aku iri dengan kedekatan kalian."
Via masih sibuk mengucek-ngucek tiap beberapa helai rambutku. "Kenapa harus iri?"
"Ya.... karena waktu itu aku merasa tidak dapat kasih sayang seperti kamu ke Ferdy karena aku anak tunggal. Tapi sekarang, malah aku dapat kasih sayang dari pacarku," jawabku. "Kapan mami kamu pulang? Apa perlu kita jemput?"
Via melihat ke arah jarum jam dinding. "Dia harusnya sudah menuju perjalanan ke sini. Dia pulang diantar Hendra."
"Hendra?"
"Mm.. Hendra berinisiatif mengantar mami pulang. Padahal tadinya mami mau naik taksi."
"Kamu jangan terlalu dekat dengannya! Entah kenapa aku ngerasa dia akan rebut kamu dariku."
"Bukankah kamu sudah memperingatkanku kemarin? Dan sekali lagi aku bilang padamu, dia hanya teman dan aku sama sekali tidak ada perasaan dengannya. Aku gak mungkin seperti anak kecil, jika satu teman musuhan maka aku harus ikutan memusuhi orang yang sama."
Aku mengangkatnya agar duduk dipangkuanku.
*Darren dan Via
"Baiklah! Aku percaya padamu. Aku akan segera menjadikanmu istriku agar tidak ada yang berani menggodamu lagi. Kalo bisa... kamu di rumah aja menungguku pulang sambil melahirkan anak-anak kita."
Wajahnya berubah seketika. "Aku di rumah aja? Sepertinya aku gak bisa, karena aku masih ingin berkarya sampai aku bosan sendiri," protesnya yang merasa keberatan dengan perkataanku tadi.
"Itu akan dipikirkan lagi nanti. Tergantung usahamu merayuku, aku mungkin akan mempertimbangkannya."
"Bos besar, aku ini bukan tahanan. Aku masih ingin hidup sesuai yang ku mau," katanya sambil memainkan jari telunjuknya di sekitaran wajahku.
__ADS_1
"Baik! Kalo gitu biarkan bos besar ini menciummu!"