
Setelah lima jam berlalu, dokter keluar dari ruang operasinya. Kami semua serempak berdiri dari kursi kami dan menghampiri sang dokter untuk mendengar kabar baiknya.
"Bagaimana dok dengan keadaan anak saya?" tanya papi Victor yang memulai awal percakapan.
Sang dokter membuka masker wajahnya. Raut wajahnya yang kelelahan masih bisa memberikan senyum ramahnya pada kami saat itu.
"Semuanya tenang! Operasinya berjalan dengan baik, tinggal kita tunggu perkembangannya saja. Semoga pasien cepat pulih. Untuk sementara pasien mengalami koma dan sebentar lagi akan kami pindahkan ke kamar rawat inap," jelas sang dokter panjang lebar.
"Syukurlah kalau begitu!" ucap mami Victor sambil mengusap-usap dadanya dan memelukku. "Kau dengar kan, Vi? Victor akan baik-baik saja. Jangan menangis lagi! Kita harus kuat agar dia juga kuat dan lekas pulih," kata mami Victor yang mencoba menenangkanku di kala itu usiaku baru sembilan belas tahun.
"Ya, tante. Via akan berdoa dan selalu nemenin Victor."
"Kamu harus istirahat, Via! Ada kami di sini yang bisa membantumu menjaganya," pesan papinya. "Pulanglah dan istirahatlah! Om lihat, kamu sangat shock. Kamu juga butuh ketenangan, Vi. Om janji, jika ada sesuatu yang terjadi pada Victor, om akan menghubungi kamu," lanjutnya sambil memengang pundakku meyakinkanku.
Kedua orangtuaku berpamitan sambil membawaku pulang. Aku ketiduran saat masuk ke dalam mobil menuju perjalanan pulang hingga aku tidak sadar kalau aku sudah berada di kamarku sendiri. Dengan mata sembab parah, aku menanti kabar berita dari ponselku yang tak kunjung muncul notifikasinya.
Yang aku ingat secara garis besar setelah aku bangun dari tidurku yang ternyata adalah aku bukan tidur melainkan pingsan selama tiga hari setelah menyadari ada jarum infus yang masih melekat di urat nadi tangan kiriku. Ketika aku sadar, dokter langsung memeriksa keadaanku dan memastikan kondisiku barulah aku dilepaskan dari jarum infusku.
Setelah ku lewati masa-masa pemulihanku, aku langsung minta izin pada kedua orangtuaku untuk menjenguk Victor. Aku sudah kangen tidak bertemu dengannya selama lima hari ini. Aku harap, dia ada perkembangan setelah bertemu denganku. Karena cemas aku berpergian sendiri, kedua orangtuaku menemaniku untuk menemui Victor. Selama perjalanan, aku merasa jalan yang harus kami lalui ke rumah sakit sangat beda jalur dari sebelumnya. Tapi aku pikir kalau sang sopir hanya mengambil arah jalur lain agar cepat tiba di rumah sakit.
__ADS_1
Tebakanku lagi-lagi salah. Aku melihat tempat lahan para makam-makam yang sedang kami lalui. 'Semoga salah! Semoga dugaanku salah!' Kata-kata itu yang terus terlintas dalam benakku. Sesampainya di suatu tempat yang tidak jauh jaraknya dengan pintu masuk lahan makam-makam ini, aku sudah di tunggu oleh kedua orangtua Victor dengan pakaian serba hitam.
'Apa-apaan ini?' hatiku bertanya tak menerima situasi yang tidak bisa kubayangkan.
Aku turun dari mobil dan menghampiri kedua orangtua Victor. Mereka tampak tersenyum lebar dan menyambut kedatanganku dengan hangat. Mereka menanyakan kabarku dan memastikan kalau aku memang sudah sehat. Lalu aku bertanya pada mereka tentang keberadaan Victor. Mereka mengajakku ke sebuah makam yang sudah ada batu nisan dengan nama 'Victor Joe in memoriam'. Makam yang sudah di rapikan sedemikian rupa dengan banyak bunga indah di sana. Aku tidak bisa menangis. Air mataku tidak bisa keluar. Jantungku serasa mau copot. Nafasku juga tidak beraturan. Entah kemana air mataku? Aku hanya menatap bisu makam yang bertuliskan 'Victor Joe in memoriam' itu sambil mengelus batu nisan itu.
"Kamu sudah di sini?" tanyaku dalam kesunyian. "Kenapa tidak mengabariku tentang kondisimu? Apakah kamu beneran tidak sayang denganku lagi?" Aku bertanya tanpa ada jawaban. "Kamu janji akan merayakan anniversary kita. Tapi kenapa kamu malah di sini? Kenapa kamu memilih meninggalkan aku? Apa sekarang kamu sudah bahagia? Apakah kamu sudah tidak sakit lagi?" Aku menatap langit-langit yang awannya mulai mendung.
'Aku janji padamu, aku akan menjaga diriku dengan baik. Aku tidak akan melupakanmu. Rasanya berat tanpa dirimu. Entah apakah aku bisa melewati hari-hariku tanpa kamu? Sekarang aku ikhlas, kamu istirahatlah dengan tenang di sana. Terima kasih atas semua kenangan indah yang telah kau berikan untukku. Aku sayang kamu, Victorku.'
Kedua orangtua kami sama-sama berdoa dan menenangkanku. Aku pun memeluk maminya Victor yang masih menangis setelah melihat pertemuanku dengan Victor. Namun ia sudah ikhlas atas kepergian anak semata wayangnya. Setelah pertemuan terakhirku dengan Victor, kami pulang ke tempat kami masing-masing. Aku ingat kala itu aku kehilangan alam sadarku. Aku ingat kala itu aku tidak melakukan aktivitas apapun. Hingga akhirnya kedua orangtuaku cemas dan membawaku untuk terapi. Aku melakukan terapi untuk kesembuhkan diriku sendiri yang akhirnya setelah beberapa kali terapi aku sadar penuh hingga bisa menangis sejadi-jadinya meluapkan perasaan kehilangan Victor yang sangat mendalam. Dari efek terapi itu, aku sembuh dari rasa cemasku sampai sekarang.
Tanpa terasa sedari tadi motor yang kami tunggangi diam tak bergerak. Posisiku saat ini memeluk Darren dari belakang dengan erat dan aku tadi tertidur selama perjalanan. Aku merasa nyaman dengan posisi sekarang ini, hingga rasanya aku merindukan sosok Victor yang dulu telah kembali.
"Vi, sudah bangun?" tanya Darren yang sudah merasakan pergerakan tubuhku.
"Ya," jawabku sambil melepaskan pelukanku darinya.
Jujur aku malu. Aku juga lihat, ini masih di sebuah taman yang adem karena banyak pohon rindang yang memberikan kami perlindungan dari panasnya matahari.
__ADS_1
"Maaf, aku ketiduran."
"Pantesan aja badanku berat. Gak taunya kamu sedang tidur. Untung kamu gak jatuh. Bahaya tau kalo kamu seperti ini saat di bonceng dengan motor," katanya sambil memperhatikanku dengan memutar sedikit posisi tubuhnya sambil membuka kaca helmnya.
"Mallnya masih jauh?" tanyaku memeriksa keadaan sekitar.
"Gak juga sih. Tuh, di sana!" tunjuknya yang sudah kelihatan gedung mallnya dari kejauhan.
"Ayo jalan!"
"Yakin?"
"Iya. Ayo!"
"Jangan tidur lagi ya!"
"Iya!"
Darren menstarter lagi motornya dan mulai melaju lagi hingga ke tujuan. Aku tidak berani memeluknya lagi dan aku memastikan posisiku agar tidak terlalu intim dengannya.
__ADS_1