Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 83


__ADS_3

"Ada yang bisa dibantu, kak?" tanya salah satu karyawan perempuan pada sih cewek.


"Aku sedang cari hair ring, kalian ada pilihan model yang unik-unik?"


"Ada, kak. Sebelah sini!" antar si karyawan menuju tempat pajang hair ring.


"Oke!" jawab sih cewek cantik itu sambil mengikuti karyawan yang bawa jalan tadi.


Darren menyusul ke ruangan Via. Dia menaiki anak tangga satu persatu dengan langkah malasnya. Sih cewek itu masih mengintip-intip memperhatikan Darren dari jauh sambil berpura-pura melihat aksesoris hair ringnya.


"Mba, itu bos kalian?" tanya sih cewek pada karyawan sambil menunjuk ke Darren yang masih menaiki anak tangga.


"Iya, kak. Itu suami bos kami pemilik toko ini."


"Ooo... sudah beristri ya?" tanyanya dengan nada kecewa.


"Ya, kak. Silahkan dipilih kak!"


"Aku mau model ini," katanya setelah menentukan pilihannya. "Tapi aku masih mau liat-liat yang lain juga."


"Baik, kak!"


Darren melihat Via yang masih sibuk memeriksa desain-desain di mejanya sambil memutar-mutarkan pensil 2bnya. Darren masuk begitu saja lalu merangkul Via dari belakang yang tengah duduk. Darren yang tampak ingin bermanja, hanya terus merangkul dan sesekali mengecup jenjang leher Via.


"Der, nanti diliat orang," kata Via yang merasa gak enak takut ketahuan orang lain.


"Emangnya salah suami manja ke istri sendiri?" protesnya.


"Gak salah. Hanya harus pada tempatnya."


"Iya deh..."


Akhirnya Darren menyerah dan hanya duduk di kursi yang ada di ruangan Via sambil menunggu Via. Darren memasang wajah cemberutnya untuk mencuri perhatian Via.


Via yang menyadari kejenuhan Darren hanya bisa memberikan senyum manisnya. "Sabar ya! Aku udah mau selesai kok. Tinggal matiin laptopku doang," kata Via sambil merapikan kertas-kertasnya di atas meja dan mematikan daya laptopnya.


"Aku laper nih. Kita makan di restoran Jepang ya. Aku kangen pengen makan sushi," kata Darren sambil memegang perutnya.


"Oke! Aku ikut aja," kata Via setuju.


Mereka berdua turun ke bawah. Darren yang terlebih dulu jalan didepan baru disusul oleh Via dibelakangnya. Sih cewek tadi ternyata belum pergi juga dan masih pilih-pilih aksesoris yang mau dibelinya. Lagi-lagi perhatian sih cewek ke Darren terulang lagi.


"Bos, kalo aku beli banyak gini, dikasih diskon gak?" tanya sih cewek itu sambil menghampiri Darren.


Darren merasa heran dengan cewek satu ini. Kemudian ia menarik lengan tangan Via agar berdiri di depannya. "Dia yang berhak menentukan bisa dapat diskon apa gak," kata Darren sambil memegang pundak Via dari belakang.

__ADS_1


Via memasang wajah manisnya. "Iya, kenapa?" tanyanya lembut pada sih cewek itu.


"Aku tadi minta diskon karena telah belanja sebanyak ini," katanya sambil memperlihatkan hasil shoppingnya. "Aku pikir, dia bosnya. Makanya mau minta diskon langsung."


"Sebentar ya! Andien!" panggil Via pada asistennya.


"Ya, bu. Ada apa?" jawab Andien yang segera datang.


"Tolong kasih potongan harga yang sesuai buat nona cantik ini!" pinta Via sambil tersenyum manis.


Serasa puas mendengar dapat potongan harga, sih cewek tadi langsung mengeluarkan kartu kreditnya untuk segera melakukan transaksi pembayaran.


"Terima kasih ya, kak," kata cewek tersebut sambil tersenyum ramah ke Via.


"Sama-sama," jawab balik Via. "Lain kali mampir lagi ya!"


"Pasti, kak."


"Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Darren sambil menarik pergelangan tangan Via.


"Ditinggal dulu ya!" seru Via pada cewek itu.


Mereka pun pergi meninggalkan toko. Darren yang emang sedari tadi sudah tidak bisa menahan lapar, hanya bisa memburui Via agar segera masuk ke dalam mobil.


*****


Darren suka membeli makan dari kantin kantornya karena pilihan menu lebih banyak dan tempatnya lebih bersih lalu dibawa ke tempat kerja Via yang baru.


"Der, aku mungkin malam ini gak bisa tidur awal. Aku mesti periksa keuangan di toko lamaku. Jadi aku mohon pengertianmu malam ini, oke?"


"Cuma malam ini aja, kan?" tanya Darren memastikan.


"Ya.... Belum tau juga, tapi aku usahakan malam ini selesai."


"Ya udah. Aku terpaksa tidur dengan guling dulu."


Via hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya yang menurutnya sangat manis. Sikap Darren dari awal nikah malah membuatnya semakin manja dengan Via. Tapi disamping itu, dia sangat posesif melindungi Via. Oleh karena itu, tadi Via seperti harus minta izin agar dapat waktu untuk jam lemburnya. Biasanya mah sudah langsung diajak tidur tanpa harus dibantah.



Ditengah kesibukkan Via, Darren hanya bisa baring di ranjang sendiri. Tapi ia belum juga bisa tidur dan hanya bisa membolak-balikkan badannya.


"Vi, aku gak bisa tidur nih," keluh Darren.


"Coba merem aja, tar lama-lama juga ketiduran!" usul Via.

__ADS_1


"Kamu masih lama ya?"


"Ya."


"Gak ada kamu disini, jadi susah tidur."


"Kan kamu juga udah terbiasa tidur sendiri waktu kamu belum nikah."


"Itu kan beda ceritanya. Sekarang semenjak udah ada kamu, malah pengennya nempel terus. Besok aku pasti kesiangan deh ke kantornya, karena jam segini aja belum bisa tidur. Gak ditemenin sih sama istri sendiri," keluhnya lagi yang akhirnya membuat Via menyerah.


Via meninggalkan pekerjaannya lalu menghampiri Darren. "Ayo, tidur!" ajaknya sambil membaringkan dirinya disamping Darren dan menutupi badannya dengan selimut.


"Nah... Gitu dong. Aku jadi seger besok pagi," kata Darren dengan wajah puasnya karena merasa menang.


Dengan tingkah laku Darren yang sedikit kekanakkan, Via hanya bisa pasrah dan mengalah. Ini semata untuk menjaga hubungan mereka. Darren memeluk Via seperti memeluk sebuah guling sampai akhirnya ia ketiduran terlebih dulu. Via yang sempat tidur sebentar, terbangun lagi dan langsung menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi di jam satu dini hari. Ia menyelimuti tubuh Darren dan menggantikan dirinya dengan sebuah guling agar Darren merasa nyaman.


Tidak lupa secangkir kopi menemaninya saat bekerja. Walaupun masih ngantuk, tapi ia harus usahakan agar cepat selesai.


*****


🌺Darren Pov🌺


Alarm jam tiba-tiba berbunyi. Gak seperti biasanya ada bunyi alarm, karena Via yang biasa membangunkanku. Mungin Via takut aku telat ngantor, makanya ia sengaja memasang alarm untukku.


Aku bangun dan melihat dia sedang tidur di atas meja dengan mulut sedikit menganga. Sungguh lucu sekali. Aku menggendongnya perlahan agar ia gak bangun. Ternyata memang tidurnya sangat lelap. Ia merasa tidak terganggu sama sekali. Aku membaringkannya di atas ranjang dan menyelimuti badannya. Melihatnya tidur nyenyak seperti ini sangat tidak tega untuk mengganggunya. Aku mengusap rambutnya perlahan yang sempat menutupi wajahnya. Lalu aku mencium keningnya yang sudah menjadi kebiasaanku. Setelah itu, aku menyiapkan sarapan pagi untuk kami berdua. Pagi ini aku terpaksa sarapan terlebih dulu. Barulah aku mandi dan pergi ngantor.


Hari ini aku ada rapat dengan Aldo. Untuk membahas masalah bisnis perkayuan yang masih mau dilanjutkan atau gak. Karena dengar-dengar sih Aldo sudah mau menikah dan mau mewarisi bisnis furniturenya ke adiknya. Sedangkan ia akan pindah ke luar negeri untuk bisnis properti yang baru mau dijalaninya sesuai bisnis keluarga calon istrinya.


Sesampainya di kantor


Aku sudah siap menanti kedatangan Aldo. Kali ini kita sengaja memilih waktu rapat pagi. Tidak lama kemudian, Aldo datang dengan seorang wanita cantik disampingnya. Walaupun hanya berjalan berdampingan, tapi mereka terkesan punya hubungan spesial.


"Selamat pagi, pak Aldo!" sapa pak Eko setelah melihat kedatangannya.


"Pagi!" jawab Aldo singkat.


"Silahkan masuk, pak. Pak Darren sudah menunggu didalam," kata pak Eko sambil mempersilahkan Aldo dan wanita tersebut masuk ke ruangan rapat Darren.


"Pagi, pak Aldo!" sapaku saat melihat Aldo yang baru memasuki ruangan.


"Pagi juga, pak Darren! Wah... pengantin baru masih seger aja nih," ledeknya sambil tersenyum. "Oh ya, pagi ini saya membawa calon istri saya juga, karena abis ini kami masih ada urusan lain. Kenalin, namanya Wanda!" lanjut Aldo sambil memperkenalkan calon istrinya.


'Cewek ini yang di toko Via waktu itu.'


"Halo, saya Wanda!" serunya sambil mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.

__ADS_1


"Darren," jawabku sambil bersalaman tapi tidak terlalu mencengkeram tangannya.


__ADS_2