
"Kok cepet makannya, Der? Kamu gak coba lobsternya?" tanya si papi yang masih menikmati makanannya.
"Saya makan pake ikan aja, om. Kalo selain ikan, saya kurang suka."
"Padahal lobsternya seger lo."
"Pi, abis ini minum obat yang Ferdy siapin ya!" suruh Ferdy yang membantu menjaga kesehatan papinya.
"Ya, dok," jawab papinya nurut.
"Hahaha...." gelak tawa mereka yang terdengar kompak.
Manda si gadis kecil masih duduk senang di atas pangkuan Darren. Karena tidak ingin mengganggu acara makan yang lain, Darren mengajak Manda ke ruang bermain. Di sana Manda bermain masak-masakkan dengan Darren. Tidak lama kemudian, Via dan Julia menghampiri mereka.
"Manda lagi jadi apa?" tanya Via yang sedang melihat Manda yang pura-pura masak dengan kompor mainannya.
"Lagi jadi chef tante. Lagi macak buat om Elen," jawabnya dengan gaya bahasa balitanya.
"Oooo lagi masak buat om Darren. Kalo gitu tante juga mau dong cobain masakan Manda."
"Oke, tante. Nda uwatin ya ental."
Melihat tingkah Manda yang menggemaskan, membuat Via tidak segan mencium pipi chubby ponakannya itu.
"Kalo om boleh cium pipi Manda, gak?" izin Darren dengan memasang senyum imutnya agar bisa cium pipi chubby Manda juga.
*Darren
Manda menoleh ke Darren, lalu mengganggukkan kepalanya seraya mengizinkan Darren mencium pipinya.
'Cup,' kecupan lembut dari Darren ke pipi kanan Manda.
Mandanya sendiri setelah di kecup masih tengah sibuk bermain dan cuek. Melihat aksi lucu Manda, Ferdy yang baru tiba di ruang bermain juga ikutan nimbrung.
"Manda, kalo om Ferdy boleh cium pipinya juga gak?" izin Ferdy yang gak mau kalah.
Manda menoleh ke Ferdy sebentar lalu buang muka kembali. "Gak boyeh," jawabnya cuek.
__ADS_1
"Kenapa gak boleh sih? Om Darren aja boleh cium Manda. Kan om Ferdy juga omnya Manda."
"Om nakal."
"Hah? Nakal? Kapan om nakalin Manda?" tanya Ferdy.
"Om suka ucilin Nda."
"Hahahaha...." tawa yang lainnya kompak mendengar perdebatan kecil Manda dengan Ferdy.
"Makanya jangan usil!" ujar Via.
Ferdy yang tampak kesal tidak bisa berbuat apa-apa. Kelihatannya cuma Darren yang bisa ngerebut hati Manda saat ini.
Beberapa menit kemudian
"Nda, kita pulang yuk!" ajak Julia yang sudah melihat ke arah jam dinding pukul 21.00.
"Tapi Nda macih mo main, mi," katanya dengan wajah cemberut.
"Kasian opa tuh!" tunjuk Julia ke arah papinya yang sendirian duduk di sofa luar sambil tertidur. "Besok-besok kita kesini lagi main bareng om Darren dan tante Via," bujuk Julia.
Manda yang terlihat masih ingin bermain terlihat berpangku tangan dan memanyunkan bibir imutnya. Julia mulai bingung bagaimana cara membujuk anaknya agar mau pulang.
Akhirnya Manda berdiri dari tempatnya, lalu ia memeluk Darren. Melihat sikap manja Manda, akhirnya Darren mengisyaratkan pada Julia agar ia saja yang menggendongnya sampai ke mobil. Julia hanya bisa pasrah dengan sifat manja Manda. Akhirnya papinya Via dibangunin oleh Ferdy dan mereka langsung ke tempat parkiran. Manda yang digendong oleh Darren pun sudah tertidur lelap dan dipindahkan perlahan ke tangan pengasuhnya.
"Makasih ya, Der. Sorry repotin kamu," kata Julia sungkan.
"Gak ngerepotin sama sekali kok."
Julia menstarter mobilnya dan berpamitan pulang pada mereka. Setelah melihat kepergian mobil Julia, mereka kembali lagi ke villa untuk membilas badan dan istirahat di kamar masing-masing.
Pukul 01.30
Dini hari membuat Darren tiba-tiba bangun dari tidurnya. Ia memutuskan untuk mengambil air minum di dapur. Dalam kondisi dapur yang gelap, ia berjalan pelan agar tidak menabrak barang sekitar. Setelah pintu kulkas terbuka, terlihat beberapa botol air mineral dingin yang berjejeran rapi di pintu kulkas. Diambilnya sebotol minuman tersebut dan ia bergegas cabut dari area dapur. Tapi setelah mau manaiki anak tangga kembali, dia mendengar suara dengkuran ringan dari area dapur. Karena penasaran, ia mencari sumber suara tersebut. Ternyata di balik sofa, ada seseorang yang sedang tidur berselimutan dari atas kepala hingga bawah kakinya. Ia mencolek badan orang itu dengan perlahan, tapi tidak direspon. Akhirnya dia mencoba membuka perlahan selimut dari bagian atas untuk melihat siapa yang ada di balik selimut ini.
"Via!" serunya kaget setelah mengenal orang dibalik selimut yang tengah asyik tidur. "Vi, kok kamu ada di sini?" tanyanya sambil mengguncang pelan tubuh Via.
"Mmm....." jawab Via yang sudah membuka matanya perlahan.
__ADS_1
"Kok kamu bisa tidur di sini?"
Via duduk di sofanya dan masih menutup setengah badannya dengan selimutnya. "Aku tadi nonton tv tapi karena ngantuk jadi tidur di sini," jawabnya yang masih setengah sadar.
"Ayo, tidur di kamar kamu!" ajak Darren sambil menarik lengan tangan Via.
"Ya.. ya..." jawab Via yang ogah-ogahan bangun dari sofa.
Karena melihat respon Via yang lama, Darren memutuskan untuk menggendong Via ala bridal style yang membuat Via sontak kaget.
"Kamu ngapain? Turunin aja! Aku bisa kok jalan sendiri," kata Via.
"Aku gendong aja. Aku kuat kok. Percaya deh!" kata Darren sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ta... tapi..."
"Gak usa tapi-tapian. Kamu diam aja!"
Darren berhasil menggendongnya hingga ke lantai dua dimana kamar Via berada. Tapi belum cukup sampai di sana.
"Buka pintunya!" suruh Darren yang masih dalam posisi yang sama.
"Turunin aja! Ini kan udah sampe," kata Via sedikit meronta agar diturunkan.
"Buka dulu pintunya! Nanti aku turunin."
Karena Darrennya bersikeras, Via akhirnya menuruti saja. Setelah pintu kamar terbuka, Darren membaringkan Via di tempat tidurnya perlahan. Lalu ia membantu Via membenarkan posisi bantal serta menutupi badan Via dengan selimutnya. Aksinya membuat Via tidak sanggup berkata-kata, di bawah lampu tidur yang remang-remang tampak suasana mereka yang terlihat sangat romantis.
Darren yang duduk di samping tempat tidurnya, membelai pelan rambut Via dan mengecup dahinya perlahan. "Selamat malam, Viaku!" bisik Darren dan bangkit dari sana.
Setelah hendak mau melangkahkan kaki, tangan kiri Darren di tahan oleh Via. Darren menolehnya seraya bertanya kenapa menahannya? Via menarik tangan Darren sekuat tenaga hingga tubuh Darren membungkuk dan wajahnya mendekat ke wajah Via. Dua pasang mata bertatapan di bawah sinar lampu kamar yang redup.
'Cup,' kecupan lembut dari bibir Via mendarat pelan ke bibir Darren.
Darren terprovokasi dengan aksi Via barusan, lalu ia membalasnya dengan sebuah ciuman. Ciuman yang lumayan lama dan membuat tubuh mereka berdua bergejolak. Tangan Via tak terkendali meraba ke arah tengkuk leher belakang Darren. Darren menjadi sedikit binal karena area sensitif di belakang telinganya teraba. Ciuman mereka semakin dahsyat dan akhirnya Via tersadar lalu mendorong badan Darren kebelakang agar mereka berhenti. Karena malu, Via menutup setengah wajahnya dengan selimutnya.
"Kalo gitu, aku kembali ke kamarku dulu," kata Darren sambil membelai kepala Via dan berlalu pergi.
*****
__ADS_1
Hari ke tiga ini Ferdy mengajak Darren untuk bermain skate board di suatu tempat yang belum tahu pasti mau bermain dimana. Mereka punya hobby yang sama. Jadi tidak heran kalau mereka selalu bicara yang tidak jauh dari kegemaran mereka. Karena ini rencananya dadakkan, maka mereka memutuskan untuk hunting papan skate boardnya dulu.
Mereka bertiga keluar jalan-jalan di sekitaran kota Semarang. Pergi ke beberapa tempat sambil kulineran.