
Mendengar perkataan Aldo barusan, membuat Darren berhenti minum. Ia mulai menguping karena Aldo menyebut nama Via walaupun itu sikap yang tidak sopan.
📞"Oke. Aku segera kembali. Kebetulan aku juga sudah selesai. Maaf telah membuatmu menunggu lama di mobil. Aku akan kesana sekarang."
Begitulah akhir dari percakapan mereka di ponsel. Aldo memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
"Via juga ke sini?" tanya Darren penasaran tapi ia tidak bisa bohong menahan untuk tidak bertanya.
"Ya. Dia ada di mobilku," jawab Aldo yang sudah beranjak dari kursinya. "Maaf, aku harus menemuinya sekarang," lanjutnya sambil melangkah ke arah menuju parkiran basement. Baru beberapa langkah berjalan, Aldo berhenti lalu berbalik ke arah Darren. "Kamu gak mau bertemu untuk menyapanya?" tanya Aldo yang entah itu sengaja memancing atau memang tulus mengajaknya bertemu Via.
Darren sempat berpikir tentang pertanyaan Aldo barusan. "Gak! Aku bisa bertemu dengannya kapanpun," jawab Darren tegas tapi membuat mata Aldo tersirat rasa penasaran yang tinggi.
"Oke," kata Aldo sambil berlalu pergi.
Darren mencoba bersikap tenang, walaupun memang hatinya sangat gelisah. Setelah punggung Aldo tidak begitu kelihatan, Darren menguntitnya dari belakang. Dia mengikuti Aldo tanpa sepengetahuannya. Aksinya pun mengundang kebingungan dari karyawan dan karyawatinya. Darren terus menguntit Aldo hingga sampai di tujuan. Ia melihat Aldo yang telah menghampiri sebuah mobil sedan berwarna hitam metalic dan Via duduk di kursi penumpang belakang. Darren berdiri di balik pilar besar yang cukup menutup tubuh jenjangnya.
"Sore, pak!" sapa salah satu satpam yang berpaspasan bertemu dengan Darren.
"Sssttt!!!" Darren menyuruh satpam tersebut untuk diam dengan menaruh jari telunjuk tangan kanannya ke bibirnya.
Awalnya sang satpam merasa heran dengan bosnya, tapi setelah melihat reaksi dari bosnya, ia pun langsung paham. Sang satpam pun berlalu pergi meninggalkan Darren. Darren yang masih mencoba mengintip, posisinya masih aman dan belum di ketahui oleh Aldo. Kini ia melihat Aldo sudah duduk di belakang kursi penumpang bersebelahan dengan Via sambil menelepon. Melihat penampakkan itu, Darren meninjukan tangan kirinya ke pilar yang menjadi tempat persembunyiannya. Hatinya sangat panas menggebu dan dasinya di longgarkan hingga sedikit tak berbentuk alias posisi dasinya miring akibat di tarik. Via masih tampak sibuk dengan laptopnya yang kemudian Aldo juga ikut melihat apa yang dikerjakan Via di laptopnya. Jarak mereka sangat dekat, bahkan pakaian yang mereka kenakan juga bersentuhan.
__ADS_1
"Sial!" maki Darren sambil meninju lagi ke pilar tembok itu.
Entah ia merasakan sakit atau tidak, tapi tangannya sudah memerah bahkan ada yang terluka. Darren segera menelepon Ferdy dari ponselnya, tapi sepertinya Ferdy sedang sibuk kuliah jadi tidak di jawab panggilannya. Dia pun mengintip lagi ke arah mereka yang berduaan di dalam mobil. Kali ini puncak emosi Darren terpancing saat melihat Aldo mendekatkan wajahnya ke Via. Tangan Aldo hampir menyentuh pipi Via. Secepat kilat Darren berlari kecil menghampiri mobil mereka. Ia pun mengetuk pintu kaca mobil dengan tidak sabar.
'Tok.tok.tok.tok.tok.....' ketukan demi ketukan tanpa putus Darren lakukan hingga Aldo kaget dan melihat ke arah Darren.
Aldo langsung membuka kunci pintu mobilnya dan keluar berdiri menemui Darren dengan wajah kebingungan.
"Ada apa, Darren?" tanya Aldo penasaran dengan adanya Darren di samping mobilnya yang tiba-tiba muncul.
Karena menahan amarah, Darren tidak menanggapi pertanyaan Aldo yang tadi dilontarkan. Ia hanya menatap Via yang masih duduk di dalam mobil Aldo.
"Aku..." Via bingung mau jawab apa. Ia melihat keadaan sekitarnya. Ia tidak tahu kalau ini basement perusahaan Darren.
Darren masuk ke dalam mobil lalu duduk di samping kanan Via. Ia menatap tajam Via, setajam ujung pisau yang sudah di asah. Sedangkan Aldo dengan sabar menunggu di luar dan melihat apa yang akan dilakukan Darren di dalam mobilnya.
"Kamu ngapain sih deketan ama dia?" tanya Darren dengan rasa tidak sukanya, tapi tidak terlihat oleh Aldo karena posisi tubuh Darren saat ini membelakangi Aldo.
"Aku? Deketan ama dia? Maksudnya?" Via bingung dengan pertanyaan Darren makanya ia melontarkan beberapa pertanyaan dengan spontan.
"Tadi aku liat kalian seperti..." Darren menahan kata-katanya dan amarahnya sampai wajahnya memerah.
__ADS_1
"Seperti apa?" tanya Via yang ingin tahu kalimat Darren berikutnya.
"Kalian sangat dekat, kalian mau melakukan apa di dalam mobil?" kali ini Darren bertanya dengan nada marah namun volume suaranya di kecilkan agar Aldo tidak mendengar.
"Ooo... itu?" Via baru mengerti maksud Darren. "Liat nih!" Dia menunjukkan antingnya yang tersangkut di bajunya dan sampai saat ini belum bisa dilepaskan. "Antingku nyangkut. Aku minta tolong dia buat benerin," lanjut Via sambil menatap Darren.
Mimik wajah Darren berubah seketika menjadi lebih tenang. Hatinya yang panas sudah berangsur adem. Penjelasan Via melebihi apapun. Darren memperhatikan anting panjang Via yang masih nyangkut di kain brukat pada bajunya.
"Hhmmm...." desah Darren setelah menghembuskan nafas karena ada kelegaan di hatinya.
Darren membantu Via melepaskan kaitan antingnya yang nyangkut tadi. Dengan pelan Darren mencoba membantu melepaskan kaitan tersebut dan akhirnya berhasil. Kaitannya berhasil lepas, namun kedekatan wajah mereka berdua masih dalam posisi yang sama dan tangan Darren sebelah kiri masih bertaut di kisaran leher Via. Tangan Darren perlahan memegang jenjang leher Via bagian belakang hingga mambuat Via diam tak berkutik. Wajah Darren semakin dekat dengan telinga Via.
"Aku gak mau liat kamu deket banget sama Aldo," bisik Darren di telinga Via yang sontak membuat sorot mata Via menatap tajam ke mata Darren. "Jangan terlalu dekat dengan dia!" bisiknya lagi sambil melepaskan jenjang leher Via. "Udah selesai. Kalian mau kemana?" interogasinya.
"Aku mau ketemu dengan maminya, karena maminya ada pesan jewerly sama aku. Aku harus siapin desain yang cocok buat maminya, makanya aku bawa laptopku. Aldo juga yang jemput aku tadi di toko, trus dia bilang mau mampir dulu ke tempat lain karena mau tekken kontrak. Jadi aku tunggu dia di mobilnya ampe ketiduran. Dan... aku gak tau kalo Aldo datang ke sini yang ternyata ini perusahaan kamu," jelas Via panjang lebar. Padahal Via juga bingung kenapa harus memberikan penjelasan kepada Darren.
"Kalo gitu, aku keluar dulu," kata Darren sambil keluar dari mobil Aldo.
"Udah selesai ngobrolnya?" tanya Aldo sambil tersenyum meledek.
Darren tidak mau ambil pusing. Ia hanya mengangguk sekali dan berlalu pergi meninggalkan lokasi. Saat bersamaan, Darren bertemu dengan dua asisten Aldo yang berlawanan arah. Mereka tetap membungkuk memberi hormat pada Darren, tapi Darren hanya senyum smirk dan berlalu pergi dengan cepat.
__ADS_1