
"Hah? Kamu ngerasa gak kalo kamu ada buat salah?"
"Emang aku salah apa sih, kak?"
"Kamu ingat gak, kamu pernah hampir nyelakain aku dengan minuman yang udah kamu campur dengan obat?"
Dia tercengang dengan pertanyaanku barusan yang mengingatkannya akan memory waktu di pesta wedding anniversary kedua orangtuanya.
"Kok kakak tau?" tanyanya yang masih sok polos.
Aku hanya tersenyum smirk dan ingin langsung meninggalkannya, tapi saat mau melangkah lagi, dia menghalangiku dengan merentangkan kedua tangannya.
"Kak, maafin aku! Aku... aku bener-bener minta maaf atas ulahku waktu itu. Tolong jangan memusuhiku seperti ini!" pintanya dengan nada bicara manjanya.
Aku sudah kesal dengan ulahnya. Aku menghiraukannya tapi dia malah makin jadi. Kali ini dia malah tiba-tiba memelukku dengan erat. Aku sudah berusaha mendorongnya, tapi dia tetap gak mau lepasin.
"Kamu gila ya? Ngapain sih pake peluk-peluk segala?" tanyaku sambil berusaha melepaskannya.
Aduh, gawat!!! Via lagi menuju ke sini. Via ngeliat aku dipeluk cewek lain, apa jadinya nanti?
"Lepasin, gak?" tanyaku sekali lagi.
"Maafin dulu!"
"Hei!" sapa Via yang baru datang sambil menepuk pundak Aeri.
"Ya!" jawab Aeri melepaskan pelukkannya sambil menoleh ke Via.
Setelah pelukkannya lepas, Via langsung menggandeng tangan kiriku didepan Aeri. "Kamu ngapain peluk-peluk cowok aku?" tanya Via.
"Nnggg... Itu gak seperti yang kakak pikirkan kok. Aku tadi refleks aja karena kak Darren sudah maafin aku. Aku seneng, makanya aku peluk dia."
Via maju dan membelakangiku. "Refleks? Ampe pelukkan dimuka umum?"
"Nnnggg.. I.. iya kak," jawabnya gugup.
"Siapapun cowok itu, kamu sebagai cewek tetap salah melakukan hal itu. Tolong jaga perilakumu!" peringatan dari Via yang sontak membuat wajah Aeri kesal setengah mati, tapi membuatku tersenyum bangga.
Aeri akhirnya pergi meninggalkan kami berdua. Aku melihat bola mata Via tampak berbinar senang karena telah memperingatkan Aeri barusan.
"Hei cantik, terima kasih atas bantuanmu," bisikku di telinganya.
"Bukannya asyik dipeluk ama cewek?" ledeknya.
"Ya... gak lah. Emang aku cowok apaan?"
"Hahaha..." tawa kami berdua.
"Ayo, kita ke mami!" ajakku.
__ADS_1
Kami berdua menemui mami yang masih asyik berbincang dengan sanak saudara yang lain. Maklum ibu-ibu, jadi wajar kalau ketemuan pasti bincang-bincang berbuntut panjang.
"Darren, kata mami kamu, kalian gak lama lagi akan nikah juga ya?" tanya salah satu tante padaku.
Aku menatap Via, begitu juga sebaliknya.
"Mereka masih rencana, kak. Nanti kalo jadi juga bakal diundang kok," jawab mami mewakili.
"Helo, sis Yanti!" sapa om Tio yang datang bareng daddy.
"Ooo... Tio!" sapa mami balik. "Apa kabar?"
"Kabar baik. Hei, Darren!" sapanya padaku juga.
"Ya, om," jawabku singkat.
"Ini... pacarnya kamu?" tanya om Tio saat melihat Via.
*Via
"Ya, om. Kenalkan, namanya Via om! Via, ini om Tio temen daddyku," jelasku saat memperkenalkan mereka berdua.
"Via, om," jawab Via sambil tersenyum manis.
"Pacarnya cantik. Beruntung kamu, Der. Semoga langgeng ya," doa om Tio yang patut kusyukuri.
"Papi, ternyata disini?" tanya Aeri yang tiba-tiba datang sambil merangkul tangan papinya layaknya anak kecil yang baru menemukan papinya.
"Dia, papinya Aeri," bisikku ditelinga Via dan Via hanya mengangguk.
"Aeri, liat si Darren sudah punya pacar. Makanya waktu itu dia menolak perjodohan papi, ternyata pacarnya cantik gini."
Aeri hanya tersenyum datar mendengar ucapan papinya barusan. Dari raut wajahnya sudah terbaca kalau dia tampak tidak senang dengan hubunganku dan Via.
*****
Beberapa minggu waktu telah terlewati. Tidak disangka kalau besok adalah hari keberangkatan Via ke Itali untuk bertemu dengan maminya yang akan mengadakan pagelaran fashion show disana.
Malam ini, aku sengaja menyuruh Via menginap di apartemenku. Aku menjemputnya selepas ia pulang dari tokonya. Sudah dua mingguan belakangan ini, dia sering lembur menyelesaikan karya-karyanya untuk di bawa ke Itali. Walaupun begitu, aku selalu menemaninya dan menjemputnya pulang saat aku sudah pulang kerja.
Sesampainya di apartemenku, dia menyiapkan makan malam yang tadi sudah kami beli sebelumnya dan kami makan bersama berdua. Setelah itu, dia mandi terlebih dulu dan aku akan gantian setelahnya nanti.
"Hei, ini sudah malam, masih liat apa?" tanyaku saat melihat dia masih sibuk di depan layar laptopku.
"Buka email dari Andien bentar," jawabnya yang sedang serius.
Aku menarik tangannya agar ia bangkit dari tempat duduknya. "Der, aku cek bentar aja!"
__ADS_1
"Ayo, istirahat!" ajakku sambil menariknya ke kamarku.
Aku mendudukkan ia di tepi ranjang empukku. Aku juga duduk disebelahnya. Kemudian, dia berdiri kembali.
"Aku mau liat email bentar! Aku belum matiin laptop," alasannya yang sudah mau berlalu pergi.
Aku menarik tangannya dengan kuat dan membuatnya terhempas ke atas ranjang. Kemudian posisi tubuhku di atas tubuhnya yang agak menekan bagian perut kebawah. Kedua tanganku juga mencengkeram kedua pergelangan tangannya dengan kuat.
"Der, jangan macem-macem ya! Kita belum nikah. Aku gak mau hamil diluar nikah."
"Kalo pun hamil juga gakpapa, kan? Bukankah kedua orangtua kita sudah sama-sama setuju?"
"Der, aku belum siap. Aku belum mau hamil."
Aku memicingkan mataku. "Apa segitu takutnya aku hamilin kamu?"
Dia hanya mengangguk dan terlihat sedih. Aku pun melepaskannya. Aku berbaring disebelah tubuhnya. Dia memelukku dari samping.
"Maaf! Aku beneran gak siap," katanya pelan.
"Gakpapa, kok. Kita bisa tidur seperti ini sampe esok pagi," kataku sambil mengusap pelan kepalanya dan mencium keningnya.
Walaupun emang ada niat untuk 'kesana', tapi aku urungkan karena permintaannya. Lebih baik bangun awal agar bisa mengantarnya esok ke bandara.
*****
🌺Author Pov🌺
Ditengah kesibukkan Via yang sedang mengecek kembali hasil bawaannya, Darren malah bermanja ria dengan memeluk Via dari belakang sedari tadi. Via yang awalnya risih, tapi akhirnya menyerah dan membiarkan saja Darren seperti itu.
Tepat pukul 10.00, Darren mengantarnya ke bandara. Sepanjang jalan menuju ke bandara, Darren dan Via saling bergandengan tangan. Rasanya berat berpisah walaupun hanya sementara.
"Kamu gak boleh lirik cowok lain di sana ya!"
"Lirik doang gak boleh? Kan aku punya mata. Lirik kan bukan berarti naksir. Udah deh, jangan terlalu pikir yang aneh-aneh!"
Darren menghela nafas panjang. "Bukan aneh-aneh, hanya saja aku khawatir kamu akan berpaling dariku."
"Hahahaha... Der, kamu itu udah menjadi orang penting dibagian hidupku. Masa kamu gak percaya ama aku?"
"Percaya..."
"Tapi ragu, kan?" sela Via cepat.
"Nnnggg..."
Via melepaskan tangannya dari genggaman tangan Darren karena kesal dengan sikap Darren yang dinilainya posesif.
"Vi, jangan marah! Aku kan cuma ngomong doang. Kok gitu aja marah?"
__ADS_1
"Please deh, jangan dikit-dikit kita ributin hal kek gini lagi!" pinta Via yang tampak stress.