
Note : Harap bijak dalam membaca ya, karena episode kali ini ada unsur dewasanya, tapi author meminimkan kalimat vulgarnya. Jadi jika kalian gak suka, bisa langsung skip aja (tunggu eps selanjutnya). Terima kasih atas pengertiannya🙏😁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tiba di hotel
Darren membukakan pintu untuk Via dan mami Via yang sudah berhenti didepan parkiran lobby pintu utama masuk hotel. Sisanya Darren serahkan pada valet. Setelah pulang dari tempat Hendra, Darren hanya diam.
"Vi, mami masuk dulu ya!" kata maminya yang pengertian.
"Oke, mi."
Via dan Darren jalan berdua setelahnya. Darren menarik pelan pergelangan tangan Via dan diam seribu kata membuat Via merasa tidak nyaman. Didepan pintu lift, mereka menunggu giliran.
"Kok kamu diam aja?" tanya Via yang mulai komunikasi terlebih dulu.
Pintu lift terbuka dan mereka berdua segera masuk ke dalam tanpa ada orang lain disana. Darren menekan tombol lift yang menuju ke lantai kamar hotel mereka.
"Kamu marah, Der?"
Darren masih diam termangu sambil menyender di tepian lift dan memainkan kakinya. Tidak lama kemudian pintu lift terbuka, Darren mengajak Via untuk keluar bersama.
"Aku mau kamu mampir sebentar memberi penjelasan yang terjadi tadi," jawab Darren sambil membuka pintu kamar hotel.
Setelah mereka berdua masuk, Darren membuka jaket dan dua kancing kemejanya lalu menghempaskan dirinya di atas sofa. Dia menutup kedua matanya dan menyenderkan kepalanya di sandaran sofa yang empuk.
Via mengambil posisi duduk disebelah Darren. Ia sangat canggung karena takut Darren akan marah padanya.
"Der, yang tadi kamu liat antara aku dan Hendra itu bukan sengaja. Heelsku agak licin waktu jalan, trus aku hampir jatuh tapi Hendra langsung bantu aku," jelas Via yang mencoba memberitahu.
Darren membuka kedua matanya dan menatap Via. "Bisa gak, kamu gak usah terlalu dekat sama dia?"
"Aku biasa aja kok sama dia."
"Iya... Kamunya biasa aja ke dia, tapi dianya gak gitu. Dia suka ama kamu kan?"
"Kamu tau darimana?"
"Dua hari lalu, dia meneleponku dan berterus terang padaku kalo dia ingin merebutmu dariku," jawab Darren sambil membenarkan posisi duduknya dan sedikit mencondongkan badannya mendekati Via. "Via, kamu harus mantapkan hatimu! Aku gak mungkin rela membiarkan dia merebutmu begitu saja," kata Darren sambil memegang dagu Via dan memperhatikan bibir merahnya.
__ADS_1
"Kamu kan tau, aku gak mungkin berpaling darimu. Tapi aku gak bisa nolak jika dia ingin berteman denganku."
Darren masih menatap bibir Via yang berkomat-kamit disana. "Tapi aku gak suka liat kalian terlalu dekat," kata Darren yang kali ini menatap kedua mata Via lekat-lekat. "Aku cemburu. Kamu tau gak, kalo aku itu bukan pria baik?" bisik Darren di telinga Via.
Via menghindar sedikit dari Darren lalu mencerna perkataan Darren barusan. "Kalo begitu... Aku senang kalo kamu cemburu. Tapi... tolong cemburu pada waktunya!" kata Via sambil tersenyum tipis.
Darren tersenyum smirk dan masih menempatkan jari tangannya menopang dagu Via. Lalu ia memainkan jempol jari tangannya mengusap pelan bibir merah Via.
"Aku takut tidak bisa mengontrol diriku," kata Darren sambil melihat bibir ranum Via. Dia mendekatkan wajahnya dan bibirnya hanya bertaut setengah sentimeter dari bibir Via. "Aku gak peduli dengan apa yang kuliat. Aku butuh penjelasan yang masuk akal. Tapi... aku gak bisa terima ada cowok-cowok lain disekelilingmu. Dan.... kau harus dihukum karena hari ini telah membuatku kesal," lanjutnya sambil mengecup bibir ranum Via.
Via yang hanya diam, ia tampak menikmati kecupan-kecupan ringan Darren beberapa kali di bibir lembutnya sambil menutup matanya. Hembusan nafas mereka jadi tidak beraturan. Jantung mereka pun balapan berdegup kencang, karena situasi romantis malam ini. Darren yang sedari tadi mengecup bibir Via yang entah keberapa kali, sekarang dialihkannya ke jenjang leher Via. Ia mengecup lembut dengan bibirnya hingga turun ke pundak Via.
"Darren!" panggil Via dengan suara menggoda.
"Mm..." jawab Darren yang masih sibuk mengecup jenjang leher Via.
"Apa kamu pernah ngelakuin ini dengan cewek lain?" tanya Via tiba-tiba yang membuyarkan suasana.
Darren menghentikan aktivitasnya. "Ngelakuin ini dengan cewek lain? Ya gak lah. Walaupun aku pernah menyukai Bella dan bertepuk sebelah tangan, tapi aku gak pernah ngelakuin apapun dengan dia maupun cewek lain. Kenapa?"
"Karena... kamu kok keliatannya seperti udah berpengalaman," jawab Via menunduk malu.
Darren ikutan tersipu mendengarnya. "Aku... kadang suka liat video 18+."
"Bukan! Bukan!" Jawab Darren cepat.
"Trus?"
"Bukan tiap hari, tapi kadang-kadang. Hehehe...."
Via memukul bahu tangan Darren dengan kuat. "Dasar mesum!" makinya.
"Awww!!" kata Darren kesakitan sambil mengusap-usap bahunya yang terasa sedikit perih. "Aku kan cuma pengen...." Darren bingung bagaimana cara memberikan penjelasan pada Via.
"Pengen apa? Pengen praktekkin?" protes Via dengan nada kesal.
Darren langsung menerkam Via hingga posisi Via bersender pada sofa (tapi masih dalam posisi duduk). Mereka saling berciuman dengan hotnya. Kedua tangan Darren mengangkat pinggul Via dan menempatkannya di atas paha Darren. Dengan posisi intim sekarang ini, Via terlihat manis setelah berhenti ciuman. Darren menatapnya dengan mata sayu. Deru nafas mereka makin gak beraturan. Kedua tangan Via masih merangkul mesra di jenjang leher Darren dan posisinya duduk berhadapan di atas paha Darren.
"Boleh..... dipraktekkin?" izin Darren dengan tatapan menggodanya.
__ADS_1
Via membalas tatapan Darren tapi langsung ia alihkan pandangannya ke tempat lain. Karena Via tidak menjawab, Darren mulai mengecup kembali jenjang leher Via hingga Via menggeliat.
"Aahhh...." desah Via ketika Darren sedikit menjilat area belakang telinga Via.
Darren merasa berhasil merangsang Via. Ia tersenyum dibalik wajahnya. Via yang menggeliat setelah menerima rangsangan dari Darren, ia tidak bisa duduk diam. Tanpa ia sadari, ia telah membangunkan junior Darren akibat sedikit gesekkannya.
Darren langsung menghentikan aksi mereka. Ia melepaskan dirinya dan menyenderkan kepalanya di sofa. Darren mengepalkan kedua tangannya dengan kuat seolah-olah menahan hasrat laki-lakinya.
"Kamu, kenapa?" tanya Via khawatir dan masih dalam posisi intimnya.
Dengan wajah tegangnya, Darren memilih diam sejenak. Kemudian, ia menggeser pinggul Via agar Via dapat duduk dengan nyaman kembali di sofa.
"Kamu gakpapa, kan?" tanya Via yang masih mencemaskannya.
Darren menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Gakpapa," jawabnya dari balik telapak tangannya.
"Der!" panggil Via sambil menarik tangan Darren agar bisa melihat wajah Darren.
Darren memperlihatkan wajahnya yang tampan itu dengan ditutupi hasrat tersembunyi dibaliknya. Matanya masih tampak sayu seperti orang yang sedang mabuk.
"Kamu lebih baik pulang sekarang!" serunya.
"Tapi... kamu beneran gakpapa?"
"Aku gakpapa. Justru aku takut nyakitin kamu. Kamu pulang aja!" suruhnya lagi yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
Via juga bersiap diri untuk menuju pintu. "Besok kamu ada kegiatan?"
"Besok, gak ada. Aku mau nemenin kamu seharian."
"Kalo gitu, kamu bisa anterin aku dan mami ke sana jam setengah lima subuh dari sini?"
"Bisa!" jawab Darren sambil tersenyum.
"Oke! Aku pulang dulu ya!" pamit Via yang sudah diambang pintu.
"Iya!" jawab Darren singkat namun kesannya buru-buru mengusirnya.
'Cup!' kecupan ringan mendarat ke pipi Darren.
__ADS_1
"Night, Der!"
Darren hanya mengangguk sambil tersenyum untuk mewakili jawabannya. Setelah melihat kepergian Via hingga masuk ke kamar hotelnya, ia segera menutup pintu dan berlari ke kamar mandi secepatnya meneruskan hasratnya yang sudah dipendam sedari tadi.