Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 30


__ADS_3

"Dia sangat peduli padamu," kata Aldo saat sudah masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Ya, dia sudah ku anggap sebagai adikku," kata Via sembari menatap ke layar laptopnya.


"Adik? Tapi kalian gak ada hubungan saudara, kan?"


"Gak. Hanya saja dia suka main ke rumah dan dia sudah akrab dengan kami."


"Ooo... Apa desain jewerly buat mamiku sudah selesai?"


"Sudah. Aku akan memperlihatkannya di sana saja ya."


"Dia pasti puas dengan hasil rancanganmu."


"Semoga saja!"


Dua orang asisten yang baru datang, mereka duduk di bagian kursi pengemudi dan kursi penumpang depan. Salah satu dari mereka mengemudikan mobil dan melaju ke arah rumah Aldo.


Di ruangan kantor, Darren duduk terpaku di kursinya dengan mengepalkan kedua tangannya di meja. Ia seperti menahan malu, amarah, dan rasa gelisah yang campur aduk jadi satu dalam hatinya.


Pak Jil datang membawa teh hangat untuknya. Teh yang beraroma jasmine sudah ada di atas meja Darren. Pak Jil menatap Darren yang kini posisinya bersandaran di kursinya tapi seperti sedang banyak pikiran.


"Den, ada masalah apa lagi yang aden pikirkan? Lagi marah dengan seseorang?" terka Pak Jil.


Darren menatap Pak Jil, kemudian dia menggelengkan kepalanya pelan.


"Sudah sore, apa aden gak siap-siap untuk pulang?"


Setelah melihat jarum jam tangan sudah pukul 16.20, Darren bergegas bangkit dari kursinya. Dia membuka dasi dan jasnya yang kemudian menyerahkannya pada Pak Jil begitu saja. Pak Jil hanya menerima dan menatap Darren dengan wajah bingungnya. Pak Jil tidak berani bicara apapun dan hanya menatap punggung Darren yang sudah jalan meninggalkan ruangan kantor.


'Drrrtt...drrttt...' getaran ponsel Darren dari sebuah notifikasi pesan singkat yang masuk.


Darren membuka pesan singkat dari Ferdy yang baru saja masuk. Dalam pesannya, Ferdy meminta maaf karena tadi ia sedang kuliah dan tidak tahu kalau Darren meneleponnya. Karena sudah berlalu, Darren hanya memberitahu kalau tadi hanya ingin telepon saja. Kemudian percakapan sederhana lainnya tetap mereka lanjutkan.


*****


🌺Darren Pov🌺


Setelah seharian chat sama Ferdy kemarin, aku baru tahu kalau mereka nanti berencana mau liburan ke Semarang minggu ini, tempat adik Via nomor dua. Aku harus segera konfirmasi jadwal kantor dengan Pak Eko agar bisa ikutan liburan bareng dengan mereka. Kesempatan bagus biar aku makin bisa deketin Via.


"Siang, den! Ini teh angetnya sudah bapak siapkan dari tadi," kata Pak Jil yang tiba-tiba sudah ada di dalam ruang kantorku.

__ADS_1


"Sejak kapan pak Jil masuk sini? Kok aku gak tau?"


"Sejak aden diam di sana sambil senyam-senyum sendiri, gak tau mikirin apa," jawabnya sambil menunjukkan jempol tangan kanannya yang mengarahiku yang sedang duduk termenung di kursiku. "Lagi seneng ya, den?" tanyanya sambil melempar senyum penasarannya.


"Hehe..." tawaku cengengesan.


'Bukkk...!!!' suara bantingan pintu ruanganku.


Aku dan Pak Jil spontan kaget mendengar suara itu. Pak Jil sampai memegang bagian dadanya, mungkin takut jantungnya berhenti berdetak. Kalau aku sudah pasti ingin memukul orang yang dengan sengaja membuka pintuku dengan paksa.


"Bella!" sapaku setelah aku mengenal orang yang hampir ku pukul.


Bella masuk ke ruanganku dengan membawa kopernya. Kemudian dia menatapku dengan sorotan matanya yang tajam sambil duduk di sofa dengan kedua tangan dilipat (bossy style).


'Wah... bencana ini,' lirihku.


"Den, bapak izin keluar dulu," pamit Pak Jil yang gak enak hati dengan adanya Bella.


"Ya, pak," jawabku singkat sambil berdiri dari tempat dudukku.


Aku berjalan sedikit dan berdiri bersender pada meja kerjaku, tepatnya posisiku sekarang berhadapan dengan Bella.


"Kenapa lu gak jemput gue, Der?" tanyanya kesal.


"Kerja apa? Buktinya, lu lagi gak ngapa-ngapain," tuduhnya seenak perut dia.


"Lu tau darimana gue gak ngapa-ngapain? Emang apa yang gue lakuin semua harus laporan ama elu?"


Dia berhenti bicara. Aku sengaja skak dia agar dia gak banyak bicara. Kemudian dia bangkit dari tempatnya dan maju menghampiriku. Saat posisinya sudah tepat di depanku, dasiku ditarik olehnya sehingga wajahku dekat dengan wajahnya dan posisi badanku sedikit membungkuk karena perbedaan tinggi badan kami.


"Mulai sekarang, gue gak akan lepasin elu. Gue kembali untuk lu dan gue akan kerja di kantor bokap gue. Jadi kita punya waktu bersama pas weekend," katanya setengah berbisik.


Aroma cherry blossom dari parfum favoritnya sangat nyengat di indra penciumanku. Aku memegang jemari tangannya yang masih memegang dasiku. Perlakuanku seperti ini membuat pipinya merah merona. Bukan merah karena blush on yang dipakainya, tapi merah karena dikirinya aku menggodanya.


"Lepasin!" suruhku dengan menepiskan tangannya agar melepaskan dasiku.


Dia kaget dengan perlakuanku. Dia mundur dua langkah ke belakang. Aku langsung membenarkan posisi dasiku kembali.


"Elu..." ucapnya yang belum selesai dengan membelakakkan matanya.


"Apa?" tanyaku dengan nada songong.

__ADS_1


"Der, elu kok tega sih ama gue?" tanyanya dengan gaya manja. Tangannya berani merangkul tangan kiriku. "Gue laper nih dari tadi belom makan. Ajak gue makan kek! Lu tega liat cewek secakep gue berkeliaran di jalan sendirian? Ayolah Der, ajak gue makan!" lanjutnya sambil menggoyang-goyangkan badannya dengan gaya manjanya.


"Oke! Oke!" jawabku menyetujui dan melepaskan diri dari rangkulan tangannya.


"Yeayyy!!!" serunya senang sambil mengambil kopernya.


Aku segera mengajaknya keluar makan daripada kepalaku pusing dengan segala gaya manjanya. Aku berjalan terlebih dulu untuk membukakan pintu untuknya. Kemudian disusul olehnya yang ikut keluar dari ruanganku sambil menarik kopernya.


"Santi, tolong kasih tau Pak Eko kalau aku sudah off!" perintahku pada sekretarisku.


"Baik, pak bos!" jawabnya sambil tersenyum genit ke arahku dan berubah sinis saat melihat ke Bella.


Untung saja Bella gak lihat kelakuan Santi. Bisa-bisa nanti mereka pada adu jotos di kantorku. Aku sengaja jalan lebih cepat dari Bella karena aku gak mau ada gosip apapun di kantor. Sedangkan Bella mengejar langkah kakiku dengan setengah berlari. Bayangkan saja betapa repotnya ia yang berlari kecil dengan sepatu heelsnya. Hehe...


Aku mengemudikan mobilku menuju restoran terdekat, karena malas mencari restoran lain lagi. Restoran western menjadi pilihanku. Masing-masing dari kami memesan makanan yang sesuai dengan selera kami. Di restoran itu, aku hanya menjadi pendengar dengan segala cerita keluhannya semasa ia kuliah di Jerman. Aku bukan pendengar yang baik. Dia bercerita, aku asyik dengan game diponselku. Setidaknya ada aktivitas yang gak menjenuhkan suasana.


"Darrennnnn!!!!!" teriaknya kencang yang mengalihkan banyak pandangan orang sekitar.


Aku tercengang kenapa dia teriak seperti itu. "Bella, lu ngapain sih teriak-teriak?" tanyaku dengan nada marah tapi volume suaraku masih wajar.


"Abisnya dari tadi gue cerita, lu malah sibuk main hp. Lu sebenernya denger gak sih? Kok gue jadi bete ya ketemu elu yang uda berubah gini?"


Aku memandang ke arah jarum jam tanganku yang tak terasa sudah pukul 18.00. What??? Dia cerita apaan sampai tiga jam? Kenapa aku juga baru sadar sudah tiga jam duduk bareng dia?


"Ayo, pulang! Gue capek, mo istirahat," kataku cuek dan langsung bangkit dari tempat dudukku.


Aku tidak peduli dia mau marah atau gimana. Aku tetap bersikeras untuk mengantarnya pulang secepat mungkin. Di dalam mobil sepanjang arah jalan pulang ke rumahnya, kami berdua hanya diam.


"Turunin gue disini!" pintanya tiba-tiba. Padahal ini masih setengah perjalanan lagi menuju ke rumahnya.


"Yakin?" tanyaku memastikan.


"Iya. Turunin gue sekarang juga!" jawabnya yakin.


Aku memberhentikan mobilku ke pinggir jalan dan membuka kunci pintu otomatis mobil untuknya. "Silahkan!"


Dia memandangku dengan kesal yang mungkin sudah sampai ke ubun-ubunya. Lalu ia keluar dari mobilku dan menutup kembali pintu mobilku dengan kasar.


"Dasar Darren br*ngsek!!!" makinya dengan lantang di pinggir jalan.


__ADS_1


*Bella Tsania


__ADS_2