
πΊDarren PovπΊ
"Apa Hendra masih suka ngejar kamu?"
"Ya," jawabnya singkat.
"Sudah kuduga," kataku sambil mengepalkan jemari tanganku sambil menahan amarah. "Aku dengar dari Yuda kalo dia pulang ke Indonesia kemarin. Aku kira, kamu bakalan satu pesawat dengan dia."
"Dia ke Indo juga? Kok aku gak tau ya?"
"Yuda sudah mau menikah dua minggu lagi, mungkin itu alasan dia pulang ke Indo."
"Ooooo...."
"Vi, aku mau kamu buka cabang toko jewerly kamu di dekat kantorku. Aku mau, kamu gak jauh dariku."
"Ide bagus. Kebetulan tempat lamaku juga sudah sumpek dan aku udah lama berencana untuk cari tempat baru, tapi kebetulan hari ini kamu mengeluarkan usulmu jadi aku gak nolak."
"Kalo gitu nanti aku akan utus orang cari lokasinya. Setelah itu baru kamu putuskan mau buka dimana." Aku memeluknya dan mencium keningnya seperti biasanya kulakukan. "Pokoknya aku gak akan biarin Hendra ato siapapun itu mengganggu hubungan kita lagi."
Dia tersenyum manis. Senyum yang kurindukan hadir didepanku kembali.
*****
Aku dan Via sudah menjalankan aktivitas kami seperti biasanya sepulang dari Italy. Ahli IT yang kusuruh untuk menyelidiki kasus nomor ponselku yang diretas juga sudah ada hasilnya.
"Terima kasih atas kerjasamanya. Untuk imbalannya, aku akan minta Pak Eko segera mengurusnya," ucapku sambil bersalaman dengan si ahli IT itu atas keberhasilannya.
"Sama-sama, pak. Kalo gitu saya pamit dulu."
Setelah kepergian ahli IT, masuklah Lukas sambil membawa hasil laporannya. Aku menyuruhnya mengecek CCTV sekitaran kantor untuk mengetahui orang dalam mana yang terlibat dalam aksi ini. Tidak mungkin nomor ponselku bisa diretas begitu saja, karena aku hanya disekitaran kantor dan rumah orangtuaku saja.
"Pak, ini flashdisk yang berisi hasil pemeriksaanku!" katanya sambil menyerahkan sebuah flashdisk kecil padaku.
"Tolong kamu bantu saya untuk membukanya!"
Dia segera menyolokkan flashdisk tersebut ke tempat usb hub di laptopku. Setelah flashdisk sudah terbaca, dia langsung mengklik file yang sudah disimpannya. Kami berdua yang hanya dalam satu ruangan saat ini, menyaksikkannya dengan seksama.
__ADS_1
"Kenapa dia bisa masuk ke kantor?" tanyaku pada Lukas saat menemukan seorang cewek bisa masuk begitu saja ke dalam kantorku padahal dia orang luar.
"Saya buka file sebelum ini ya pak. Sebentar!" serunya sambil sibuk mencari rekaman video sebelum ini. "Ini, pak!" lanjutnya sambil memperlihatkan padaku.
"Ooo... Hebat sekali!" pujiku sinis sambil menahan amarah. "Lukas, terima kasih atas kerjamu yang memuaskan. Gaji bulan ini akan saya kasih plus bonus."
"Terima kasih, pak!" serunya senang dengan mata berbinar.
"Kamu bisa kembali ke tempat kerjamu. Aku ingin menyelesaikan masalah ini."
"Permisi, pak!" pamitnya seraya keluar sari ruanganku.
Aku juga keluar dari ruanganku dan mencari keberadaan sekretarisku. Dia baru saja kembali entah dari mana dan sambil tersenyum padaku ketika kami saling berpas-pasan.
"Kamu, masuk sekarang!" suruhku tanpa basa-basi sambil menunjukknya.
Aku masuk kedalam ruanganku dan duduk di kursi bossyku sambil menunggunya yang kemudian menyusul masuk.
"Permisi, pak bos! Ada apa pak bos panggil saya?" tanyanya dengan gaya centilnya yang gak bisa diam.
Aku membalikkan laptopku ke arahnya agar ia bisa melihat bukti rekaman yang melibatkannya. Dia terperangah dan menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangannya setelah melihat isi rekaman videonya. Aku langsung mengepause video tersebut dan mulai mengeksekusinya.
"Ampun, pak bos!" serunya sambil memohon-mohon dengan tangannya. "Dia bilang, kalo dia adalah sepupu pak bos. Kalo gak dikasih masuk, maka dia akan mengadu pada pak bos untuk segera memecatku. Dia pura-pura mengeluarkan ponselnya dan katanya mau menelepon pak bos saat itu juga. Jadi.... aku membiarkan dia masuk ke ruangan pak bos saat pak bos rapat," jelasnya dengan wajah menyesal dan takut. "Tapi aku beneran gak tau apa yang dilakukannya di ruangan pak bos, karena gak lama dia masuk, dia keluar lagi," lanjutnya.
"Tetap saja ini kesalahanmu. Kamu, dipecat!" ucapku tegas.
"Pak bos, maafkan saya! Saya gak akan mengulanginya lagi. Mohon pak bos jangan pecat saya, saya lagi butuh uang buat mencukupi kebutuhan saya!" katanya memelas.
"Pak Ekooooo!!" panggilku lantang.
Pak Eko langsung masuk ke dalam ruangan setelah mendengar panggilanku. "Ya, den. Ada apa?"
"Dia, dipecat. Tolong urus dia, pak! Saya gak mau liat dia di kantor ini lagi," tegasku sambil menunjuk ke Santi sekretarisku.
"Baik, den!" jawab pak Eko. "Ayo, keluar sekarang!" ajaknya agar tidak berlama-lama.
Aku tidak peduli dengan hilangnya satu sekretarisku. Toh sudah sejak lama aku ingin memberhentikannya karena tingkah lakunya yang aneh. Hanya saja aku harus menemukan alasan yang tepat untuk memecatnya dan ternyata tibalah hari ini.
__ADS_1
"Ternyata aku anggap remeh kamu.... Aeri," kataku setelah melihat orang yang meretas ponselku.
*Aeri
Aku mengeluarkan ponselku dan menekan angka nomor ponsel Aeri yang ditemukan oleh ahli IT tadi.
π"Halo!"
π"Ya, halo. Ini siapa?"
π"Kamu pasti kenal sama aku."
Dia berhenti sejenak dan sepertinya ia mulai mengenali suaraku.
π"Kak Darren."
π"Tepat sekali! Kamu hebat dalam menerka suara! Dalam sekejap, apa yang kamu lakukan bisa segera terjadi."
π"Haha.. Bisa aja kak Darren. Aku gak sehebat itu kok. Kebetulan suara kak Darren sangat familliar aja di telingaku. Kakak tau nomor hpku dari siapa?"
π"Itu rahasia. Ada hal penting yang ingin kuberitau sekarang."
π"Apa, kak? Aku jadi gak sabaran."
π"Aku sudah pernah bilang sama kamu, kalo aku gak suka diganggu. Ternyata kamu masih saja mau mengusikku. Aku sudah tau kalo kamu adalah orang yang berani meretas ponselku dan berani menyebar fitnah kalo aku sedang bersama cewek lain di sebuah hotel. Aku bisa melaporkanmu dengan tuduhan penceraman nama baik."
π"Wahhh.... Kakak cepet juga taunya. Aku gak takut dengan ancaman kakak. Lebih baik kakak yang ati-ati, karena aku gak akan segan-segan setelah ini."
π"Apa alasan kamu?"
π"Gak ada yang boleh memiliki kak Darren selain aku."
π"Wah.. Gak waras kamu. Kamu salah pilih teman bermain."
π"Hahahaha... Sekarang kak Darren baru tau kalo aku gak waras? Sayang sekali.... anda telat. Aku... gak... akan... tinggal... diam."
__ADS_1
'Tut..tut..tut..tut...' nada panggil berakhir begitu saja.
Aku menatap kesal pada layar ponselku. Bisa-bisanya anak kecil ini tidak menganggapku, malah ingin mengancamku. Emang gak waras nih anak. Apa om Tio tahu akan keadaan putrinya yang seperti ini?