
Dengan sedikit ngebut, Darren berusaha menghindari mobil sedan putih itu. Hingga ia berhasil dan sampai ke tempat Via. Via yang sudah sedari tadi menunggunya sudah tidak sabar ingin pergi sekarang juga.
"Der, ayo brangkat!" seru Via senang saat melihat kedatangan Darren.
Darren turun dari motornya dan langsung menarik Via masuk ke dalam. "Kita pergi bawa mobil aja hari ini. Gak bisa dengan motorku."
"Kenapa?"
"Aku tunggu kamu. Kamu siapin dulu kunci mobilnya, nanti aku yang nyupir."
Via mendengarkan kemauan Darren yang menyuruhnya mengambil kunci mobilnya. Dengan cepat, Via segera mengambil kunci mobil di kamar apartemennya.
Setelah beberapa menit kemudian, ia menyerahkan kunci mobilnya pada Darren. Dengan sigap, Darren menyalakan mesin mobil dan mereka segera berangkat.
"Kok tiba-tiba mau bawa mobil?" tanya Via penasaran.
"Tadi ada mobil sedan putih ngikutin aku dari awal aku berangkat. Cuma aku sempat menghindar, tapi sekarang aku gak tau mobil itu kemana."
"Ooo.." kata Via sambil melihat-lihat sekitar dan belakang mobilnya, mengecek apakah ada mobil yang dimaksud Darren tadi menguntitnya.
"Sepertinya dia gak ikutin kita. Apalagi kita sekarang kan di dalam mobil," kata Darren yang sengaja tidak ingin membuat Via panik.
"Kamu kenal ama si supir sedan itu?"
"Gak sih."
"Kamu pulangnya tar gimana?" tanya Via yang makin kelihatan khawatir. "Bukannya dia uda tau letak apartemen kamu?"
"Aku pulang ke rumah ortu aja sementara ini. Besok aku suruh orang bantu cek masalah hari ini."
Mereka jalan-jalan berdua dan mengesampingkan masalah untit menguntit itu. Tapi karena rasa khawatir Via masih ada, mereka tidak bisa pergi lama-lama dan segera kembali ke apartemen.
Darren pulang dengan motornya setelah mengantar Via kembali ke apartemennya. Via sengaja menyuruh Darren cepat kembali mumpung belum malam, karena takut bahaya kalau Darren pulang terlalu malam.
*****
πΊVia PovπΊ
"Kok dari kemaren, Darren gak balas chat aku ya? Sampe sekarang juga gak dibaca sama sekali," kataku sambil sibuk memperhatikan chat-chat yang telah ku kirim untuk Darren.
"Kenapa kamu ngomong sendiri?" tanya Ferdy yang mulai mendekatiku.
"Apa terjadi sesuatu ama dia ya, Fer? Soalnya kemaren tuh ada yang niat ngikutin dia. Aku takut dia kenapa-kenapa," ucapku cemas.
__ADS_1
Tiba-tiba ada telepon masuk dari nomor ponsel yang belum pernah ku simpan di ponselku.
π"Halo!"
π"Halo, dengan nak Via ya?"
Seperti suara maminya Darren.
π"Ya, tan. Ada apa?"
π"Darren gak masuk kerja hari ini. Apa dia sedang di tempat kamu?"
Aku menatap cemas ke arah Ferdy, sehingga Ferdy seperti orang bingung.
π"Dia lagi gak disini, tan. Kemaren dia bilang mau pulang ke rumah tante, dia belum nyampe rumah juga?"
π"Dia gak pulang, Vi. Hpnya juga gak bisa di hubungi dari tadi."
π"Kemaren ada yang ngikutin dia, tan. Mobil sedan putih katanya. Apa kita lapor polisi aja?"
π"Tante akan beritahu daddynya dulu. Agar cepat ketemu si Darrennya."
π"Nanti aku sama Ferdy akan bantu cek ke apartemen dia ya, tan."
π"Tadi uda suruh Pak Jil ke sana, tapi dia gak ada. Aduh... Tante khawatir terjadi apa-apa sama dia."
π"Ya, Vi. Udah dulu ya! Tar kalo ada informasi lanjut, kita saling berkabar aja."
π"Baik, tan."
Percakapan ponsel kami berakhir dengan wajah tegang diantara kami.
"Jadi, Darren gak pulang?" tanya Ferdy memastikan.
Aku hanya mengangguk sedih sambil memikirkan bagaimana caranya menemukan dia.
"Kamu punya temen yang bisa tau lokasi ponsel dia berada gak?" tanyaku yang mencoba cara ini dulu.
"Ada! Aku akan minta tolong ama temenku untuk bantu retas dari nomor hpnya."
"Kira-kira lama gak?" tanyaku yang gak sabaran.
"Kurang tau. Kita liat saja nanti! Aku segera hubungin dia dulu."
__ADS_1
Sementara menunggu kabar dari Ferdy, aku menyesali karena sudah menyuruhnya pulang kemaren. Tahu bakal gini kejadiannya, aku mungkin akan menyuruhnya inap saja di apartemenku.
'Kamu dimana, Der?' batinku yang sedari tadi hanya berkomat-kamit dengan pertanyaan itu.
Beberapa jam telah berlalu dan akhirnya Ferdy dapat menemukan lokasi Darren berada. Sesuai GPS tata letak ponsel Darren saat ini, aku dan Ferdy segera berangkat dengan mobil. Walaupun entah itu beneran tempatnya atau bukan, aku sudah sharing ke Pak Jil agar dibantu diberitahu ke polisi agar sama-sama menemukan jejak Darren.
*Ferdy dan Via
Entah kenapa firasatku jadi tidak enak selama kami di dalam mobil. Aku juga mengecek ada yang tidak beres. Ada salah satu motor dengan sangat kencang lajunya seperti ingin balapan dengan mobil kami.
Dan ternyata benar kalau motor yang kubilang tadi sangat ngebut dan sudah hampir menyamai kecepatan mobil kami. Tapi....
"Oh my God, dia bawa pistol," teriakku yang mulai panik melihat si pengendara motor itu mengeluarkan sebuah senapan dan diacungkannya ke arah mobil kami.
*Ilustrasi
"Via, nunduk!" suruh Ferdy sambil mencoba menambah kecepatan mobil.
Ferdy menambah kecepatan mobil, aku hanya bisa menunduk berlindung. Akhirnya suara letusan dari senapan itu berbunyi tiga kali tapi hanya mengenai pintu mobil. Ferdy pun segera menyerempetnya hingga si pemotor ini jatuh di jalan beserta motornya hingga terbakar sendiri karena ada ledakan kecil berasal dari motornya.
Kami memberhentikan mobil setelah agak jauh dari lokasi kebakaran motor itu. Polisi juga pada datang mengurus masalah ini. Kami sempat diinterogasi di TKP. Kami hanya bisa menyerahkan sisanya pada polisi, kemudian kami mulai mengikuti GPS kembali.
"Siapa ya yang nekat kirim orang buat celakai kita?" pertanyaanku yang membuatku bingung sendiri.
"Aku rasa dibalik ini semua pasti kerjaannya Aeri," terka Ferdy yang tampak meyakinkan dari wajahnya.
"Jangan sembarangan menuduh! Kalo ternyata bukan, gimana?"
"Kan dia itu ada gejala psyhco. Aku yakin dia terlibat dalam kasus ini."
"Maksud kamu, dia ngelakuin ini karena dia ingin memiliki Darren satu-satunya? Makanya kamu bilang dia pyscho?"
"Sesuai dengan karakternya yang pernah aku temui, dia tuh aneh dan nekat. Apalagi setelah dengar cerita dari Darren tempo hari, aku makin yakin kalo dia adalah otak dari semua ini."
"Dia gadis kecil tapi otaknya berandalan," kataku tidak senang. "Apa masih jauh?" tanyaku sambil memperhatikan maps ponsel Ferdy.
"Lumayan. Jika lelah, kamu tidur dulu aja. Aku akan membangunkanmu!"
"Aku gak bisa. Aku takut ada masalah yang akan terjadi lagi."
__ADS_1
"Apa tadi buat kamu jadi shock ?"
Aku hanya mengangguk membenarkan. Kejadian tembak menembak tadi sangat beresiko pada nyawa kami berdua.