Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 73


__ADS_3

Aku masih berjalan hingga ke pintu keluar para penumpang. Aku sudah melihat sosok yang tidak asing sedang menungguku sambil membawa sebuah bucket bunga. Tapi dia belum melihatku.


Darren, akhirnya kita bertemu lagi.



*Via dan Darren


"Via!!" serunya lantang sambil tersenyum padaku.


Aku sengaja berhenti ditempatku berdiri sekarang, menunggunya datang menjemputku. Dia berjalan dengan cepat ke arahku sambil membawa sebuah bucket bunga ditangannya.


"Akhirnya aku bertemu denganmu," katanya sambil memelukku di depan umum. "Ini, buat kamu!" Ia menyerahkan bucket bunga tersebut padaku.


"Terima kasih," kataku sambil menerimanya.


"Ayo, kita ke mobil!" ajaknya sambil membantuku menarik koperku.


Aku tidak ingin langsung bertanya padanya tentang hotel dan wanita. Aku hanya ingin melihat kejujuran darinya saja tanpa aku bertanya sekalipun. Aku dan dia berjalan di parkiran mobil. Dia memang sengaja datang menjemputku hari ini. Aku tidak menyangka kalau dia membaca chat dariku.


"Via, kenapa hpmu tidak bisa dihubungi dari kemaren?" tanyanya sambil menyetir.


"Kemaren batre hpku abis dan aku udah hampir ketinggalan pesawat, jadi gak keburu ngecas."


"Hpku di retas orang. Jadi orang yang menghubungiku atau chat denganku, tidak bisa. Tapi untungnya aku menerima chat darimu yang mengabarkan kepulanganmu hari ini. Jadi aku langsung menjemputmu."


"Jadi chat yang kamu terima dariku cuma itu? Gak ada terima foto yang ku kirim ke kamu?" tanyaku memastikan.


"Foto apa? Aku sama sekali gak tau," katanya dengan wajah penasaran.


"Foto orang yang mirip denganmu dengan seorang cewek di hotel," jawabku.


"Hah? Fotoku dengan cewek lain di hotel?"


"Iya. Fotonya masih ada di hpku, hanya saja aku belum bisa memperlihatkannya ke kamu karena mati."


"Coba kamu pake colokkan kabel ini!" suruhnya sambil menunjukkan kabel charger ponsel yang sudah terhubung dengan kepala charger khusus mobil.


Aku mengambilnya dan kemudian mengecasnya ke ponselku. Setelah menunggu kisaran semenitan, aku dapat menyalakan ponselku. Begitu banyak panggilan masuk dan notifikasi chat yang masuk juga. Tapi aku membuka bukti percakapan chatku dengan Darren kemarin.


Aku memperlihatkan foto yang kemarin ku kirim ke ruang chat kami. "Ini!"


Sambil menyetir, dia sekilas melihat foto tersebut dan responnya hanya mengangkat sebelah alisnya.


"Kamu yakin itu adalah aku?"

__ADS_1


"Cowok ini emang mirip banget sama kamu."


"Via, aku gak mungkin ngelakuin itu. Lagian setelah kepulanganku, aku kerja seperti biasa dan pulang ke rumah ortu karena bahas masalah kerjaan yang di Milan tempo hari sama daddy aku," jelasnya dengan wajah serius. "Bentar! Aku akan telepon daddy aku agar kamu gak salah paham sama aku," lanjutnya sambil menekan panggilan keluar ke nomor ponsel daddynya.


"Iya, aku percaya. Kamu gak usah telepon daddy kamu lagi," larangku yang merasa gak enak hati ngengganggu jam istirahat papinya nanti.


"Aku gak bisa, Vi. Aku harus buktiin kalo aku bukan cowok seperti itu," tegasnya lagi.


πŸ“ž"Halo, ded!"


Darren langsung menekan gambar loudspeaker pada layar ponselnya.


πŸ“ž"Ya, Der! Ada apa cari daddy?"


πŸ“ž"Via baru saja dapat foto yang mirip denganku sedang berduaan dengan cewek lain di sebuah hotel dari orang yang tidak dikenal. Padahal aku selalu di rumah kan semenjak kepulanganku kemaren dari Italy?"


πŸ“ž"Oooo... ternyata begitu. Apa sekarang Via ada disampingmu?"


πŸ“ž"Ya, ded. Aku sengaja membuka loudspeaker agar ia tau kebenarannya."


πŸ“ž"Via, Darren tidak mungkin macem-macem diluar. Ia adalah anak yang baik. Om juga bukan ingin membela anak sendiri, tapi Darren memang bukanlah pria seperti yang di foto itu. Apa kabarmu, Via? Kapan bisa main ke rumah kami lagi?"


Aku jadi canggung setelah mendengar perkataan dari papinya Darren.


πŸ“ž"Hai, om. Kabarku baik. Gimana kabar om dan tante juga?"


πŸ“ž"Iya, ded. Kami lagi dalam perjalanan menuju ke sana. Suruh mami masak yang enak buat Via ya, ded," sela Darren.


πŸ“ž"Kalo gitu, kami tunggu ya. Kalian ati-ati dijalan. Jangan ngebut, Der!"


πŸ“ž"Beres, ded. Udah dulu ya, ded."


πŸ“ž"Ya."


Panggilan berakhir dan Darren senyum-senyum sendiri.


"Udah percaya, kan?"


"Iya, aku percaya! Tapi kenapa orang itu sengaja kirim foto itu ke nomor aku ya?"


"Selama hpku diretas, aku sudah mengutus salah satu ahli IT untuk memeriksanya. Kita tunggu infonya saja. Dia akan mengabariku setelah ia menemukan si hacker ini."


"Maafin aku ya karena sempat meragukanmu!"


"Tidak ada maaf sebelum aku menghukummu," katanya dengan senyum smirknya yang sudah beberapa hari ini kurindukan.

__ADS_1


"Tapi kenapa kamu bawa aku ke rumah orangtuamu? Padahal aku gak ngomong gitu," protesku.


"Mantu yang baik itu ketika pulang harus langsung menemui mertua. Apalagi mertua udah kangen sama kamu," canda Darren yang bisa membuatku tersenyum.


Hari ini dijemput oleh Darren, ia langsung membawaku ke rumah orangtuanya. Kedua orangtuanya menyambutku dengan baik. Lalu kami berbincang seputaran pagelaran fashion show yang berjalan dengan lancar serta keikutsertaan Darren sebagai salah satu model mami Via.


Setelah itu, aku izin istirahat sebentar karena lelah dengan perjalanan yang begitu lama. Aku berada di dalam kamar tamu yang pernah kutempati sebelumnya. Dengan hawa sejuk dari AC kamar yang menyala, aku tertidur pulas di atas ranjang besar dan empuk.


Pukul 19.00


"Via!"


"Mm.." jawabku cuek tapi belum membuka kedua mataku.


"Via, ayo bangun! Ini sudah jam 7 malam," kata Darren yang berupaya membangunkanku.


Aku langsung membuka lebar kedua mataku dan melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan jam 7 malam.


"Kok kamu baru bangunin aku sekarang? Kan tadi aku bilang, bangunin aku pas jam 5 sore."


"Aku gak tega bangunin kamu. Kamu tidurnya pulas banget. Apalagi sampe ngileran gitu," ledeknya yang tampak sungguhan.


Karena malu ngerasa aku ileran, aku langsung bergegas ke kamar mandi dan segera membasuh wajahku dengan air serta kumur-kumur dengan mouth wash.


"Ayo, kita turun!" ajakku yang melihat Darren masih santai duduk dipinggiran ranjang.


"Sini!" serunya sambil menyuruhku mendekatinya.


Aku berjalan maju mendekatinya. Lalu duduk disampingnya. Ia membelai wajahku dan kami berciuman melepas kerinduan kami.


"Ini, hukuman dari kamu?" tanyaku sembari meneruskan tiap kecupan diantara bibir kami.


"Ya! Hukuman ini apa terlalu ringan buatmu?" tanyanya balik sambil sibuk mengecup di jenjang leherku.


Aku mendorong dadanya agar ia berhenti mengecupku. Aku takut kita berdua akan kelepasan tidak bisa menahan nafsu kami.


"Der!" panggilku pelan sambil mengatur nafasku yang menggebu akibat terpancing ciuman darinya.


"Mm..." jawabnya sambil menatapku dengan mata sayunya.


"Jangan lakuin lebih dari ini!"


Darren yang sudah sadar, kedua matanya pun lebih terlihat bersinar. "Maaf, Via! Kadang di dekat kamu, sulit rasanya menahan godaan. Aku sudah bicara mengenai hubungan kita lebih lanjut. Kedua orangtuaku akan menemui orangtuamu di Singapore. Tolong kamu atur jadwal pertemuan mereka!" pinta Darren dengan mimik seriusnya.


"Aku akan segera mengabari kedua orangtuaku besok."

__ADS_1


"Secepatnya, karena aku sudah tidak tahan berduaan denganmu lebih lama," bisik Darren yang berhasil membuatku merona.


__ADS_2