
"Kalo menurut aku ya pi, biar mereka jalanin dulu aja. Rencana ke depannya kan gak ada yang tau. Kalo emang Darrennya serius ya pasti bisa dong mikirin hubungannya. Sebagai laki-laki yang peka pasti akan mengerti situasi Via," saran Julia ke papi.
Apa Darren bisa sepeka itu?
🌺Author Pov🌺
Darren dan Ferdy turun berbarengan menuju ke ruang keluarga di mana papinya Via berada. Via dan Julia masih duduk manis di sana.
"Duduk, Der!" ajak Ferdy mempersilahkan Darren duduk di sebelahnya. "Tumben papi datang jam segini? Emang mau mancing jam berapa pi?"
"Sengaja datang lebih awal, karena pengen liat kalian. Mancing agak siangan aja. Itu kapal juga lagi diperiksa dulu bahan bakarnya sama si mamang yang biasa papi suruh."
"Asyikkk... Udah lama gak mancing, jadi gak sabaran," aku Ferdy senang.
"Ada yang pengen papi bicarakan dengan nak Darren sebentar. Kami hanya ingin bicara empat mata," kata papi tegas.
Menyadari perkataan papinya barusan, anak-anaknya mengangkat kaki mereka dari sana dan memutuskan untuk ke ruang bermain menemui Manda. Tinggallah Darren yang tengah duduk berdua dengan papinya Via. Walaupun begitu, Darren mencoba bersikap tenang.
"Gugup?" tanya papinya Via.
"Nnggg... Ya om, dikit."
"Ada yang ingin om tanyakan tentang hubunganmu dengan Via. Sini! Duduk lebih dekat lagi!" pinta papinya Via sambil menepuk-nepuk kursi yang tepat di sebelahnya.
"Baik, om," jawab Darren nurut sambil bergeser tempat duduk sesuai permintaan papinya Via.
"Kamu suka sama Via dari segi apa?"
Darren berpikir sejenak sebelum menjawab, takut ada salah kata yang menyinggung papinya Via. "Dari segi dewasanya, om. Trus, orangnya baik dan perhatian."
"Itu saja?" tanya papinya yang masih penasaran.
"Nnggg.... iya, om," jawab Darren sambil mengangguk pelan.
"Kalian beda umur yang cukup jauh. Kenapa kamu gak cari saja cewek yang seumuran ato yang gak terlalu jauh dari umur kamu?"
"Aku rasa.... jika sudah cocok dan yakin sama orang itu, kita pasti gak mandang ke umur. Aku juga suka sama Via pas pandangan pertama bertemu di pesta ulang tahun temen om."
"Tapi nak Darren... Via itu adalah wanita dewasa. Om dan tante sebagai orang tuanya mengharapkan Via dapat pasangan hidup yang bisa membimbingnya dan menjaganya serta mencintainya seperti yang kami berikan padanya. Dia anak kami. Kami tentu mau hidupnya baik-baik saja ke depannya dan dapat suami yang bertanggung jawab."
Darren mengubah postur tubuhnya duduk lebih tegap. "Om, boleh saya bicara?" izinnya sopan.
"Silahkan!"
"Mengenai hubungan aku dan Via... Aku serius om. Untuk masa depan hubungan kami, aku sudah pikirkan dengan matang. Aku sudah tau langkah apa saja yang harus aku jalankan nanti ke depannya dengan Via. Dari segi materi, dia tidak akan kekurangan. Dari segi cinta, aku akan berusaha om agar Via selalu menjadi yang nomor spesial di hati aku."
__ADS_1
Papinya Via mengangguk pelan. Ia seperti masih kurang yakin dengan ucapan Darren.
"Berarti dari ucapanmu barusan, om bisa simpulkan kalo kamu tidak kekurangan apapun untuk membahagiakan anak om. Itu bagus! Kalo boleh tau, emang kamu sudah punya kerjaan tetap?"
"Sudah, om. Tapi saya masih kuliah juga dan dalam tahap menyusun skripsi," jawab Darren dengan mantap.
"Ooo... Kerja sambil kuliah?"
"Ya, om."
"Anak seumur kamu bisa punya kerjaan tetap dan bahkan bisa sambil kuliah. Itu berarti kamu punya orang yang mendukung usaha kamu?"
"Ya, om. Orang tua saya yang dukung. Saya anak tunggal, om. Jadi saya yang meneruskan bisnis orang tua saya."
"Kalau boleh om tau, siapa nama papa kamu?"
"Namanya Anton Jonathan, om."
"Aaaa.... Anton Jonathan.... Berarti mama kamu itu Hanny Florensia, bukan?" terka papinya Via yang seperti sudah kenal dengan orang tua Darren.
"Ya, om. Apa om kenal sama kedua orang tua saya?" tanyanya shock tapi ada perasaan senang juga.
"Kenal," jawab papinya Via dengan senyum datar. "Tapi gak akrab," lanjutnya.
"Tapi kalian gak lagi.... musuhan kan, om?" tanya Darren yang berani coba menerka.
Darren mengucap syukur dari dalam hati sambil mengelus dadanya pelan, lalu menghembuskan nafas perlahan karena sempat kebawa suasana tegang.
"Kalo gitu... Om hanya bisa melihat keseriusan kamu terhadap Via saja. Jangan kecewakan anak om. Jika sampai itu terjadi, jangan salahkan om yang tidak memberimu kesempatan lagi untuk mendekatinya nanti!" kata papinya Via memperingatkan Darren.
"Baik, om. Terima kasih ya om. Saya akan berusaha agar tidak mengecewakan anak om. Saya akan buktikan ke om dan yang lainnya," kata Darren penuh syukur lagi dan menyalimi tangan papi Via sebagai ucapan terima kasih atas restu yang diberikan dan disambut hangat.
"Kamu mau ikut om mancing bareng Ferdy?"
"Boleh om kalo diizinin ikut," jawabnya dengan senyum manisnya.
"Wajah tampanmu ini... Jangan sembarangan tebar pesona!"
"Hah?"
"Jaga perasaan anak saya!"
"Baik! Baik om!"
"Kita berangkat sebentar lagi."
__ADS_1
"Kalau gitu, saya permisi nyusul mereka dulu ya om!" pamit Darren yang sudah dipersilahkan oleh papinya Via.
Darren menemui mereka yang sedang berkumpul di ruang bermain. Via yang sadar dengan kedatangan Darren langsung berdiri dari tempatnya dan menghampiri Darren.
"Kalian sudah selesai bicara?"
"Sudah," jawab Darren dengan mimik serius.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Urusan laki-laki," jawab Darren singkat.
"Kok gitu jawabnya?"
"Papi kamu gak bilang apa-apa. Cuma suruh aku jaga kamu dengan baik aja. Trus dia ajak aku mancing nanti."
"Oooo... Cuma gitu aja?" tanya Via yang masih penasaran lagi.
Darren memegang kedua pundak Via. "Iya. Emangnya kamu berharap gimana lagi?"
"Papi udah setuju kali, Vi," terka Ferdy. "Kalo gak, masa Darren di ajak mancing juga."
Manda kecil berlari tertatih-tatih dan tidak sengaja menabrak kaki jenjang Darren. Manda tidak jatuh, hanya terpental sedikit beberapa langkah.
"Kamu gakpapa?" tanya Darren yang mengkhawatirkan Manda.
Manda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja dan menatap Darren dengan gaya malu-malunya.
"Nama kamu siapa?" tanya Darren yang mencoba mendekati Manda sambil menggenggam jemari tangan kecil Manda.
"Enda," jawab Manda yang mau di pangku oleh Darren yang sudah duduk di lantai.
"Nda?" tanya Darren mengulang.
"Mm.." jawab Manda dengan anggukkan kecilnya.
"Eee... Kok bisa langsung akrab gitu sama om Darren? Kalo ama om Ferdy malah takut," kata Ferdy iri.
Ferdy berusaha merayu Manda agar bisa dekat dengannya, tapi Manda menolak. Ia malah merangkul leher Darren dan bersembunyi. Via dan Julia tersenyum melihat tingkah manja Manda pada Darren dan malah mengacuhkan Ferdy.
Darren yang membalas pelukkan Manda dan kemudian berdiri dengan posisi menggendong Manda sekarang. Manda tampak anteng menaruh kepalanya di pundak Darren. Darren juga menepuk pelan punggung Manda. Dalam hitungan detik, Manda sudah terlelap. Bibir kecilnya terbuka sedikit dan memperlihatkan gigi kelincinya karena kehimpit dengan pipi chubbynya yang tengah bersandar di pundak Darren.
"Dia udah tidur lo," kata Julia tertegun melihat anaknya yang sudah diam sedari tadi.
"Wah... Hebat lu, bro! Bisa nidurin Manda gitu aja," puji Ferdy yang membuat Darren tersenyum bangga.
__ADS_1
"Pantesan dari tadi dia agak rewel," timpal Via.
"Ya, karena hari ini dia bangun lebih awal dari biasanya. Mungkin sudah terlalu ngantuk. Sini, biar aku saja yang gendong!" kata Julia yang sudah siap mengambil Manda ke pelukkannya dengan hati-hati.