Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 22


__ADS_3

Setelah melewati bunderan yang tidak jauh dari taman tadi, kita sudah berada di jalan bawah tanah masuk mallnya untuk menuju ke parkiran khusus kendaraan motor. Dengan posisi yang masih mencari ruang parkir, aku membantunya melihat tempat kosong untuk parkir.


"Di sana!" tepukku pada pundaknya untuk memberitahunya kalau ada ruang kosong untuk parkir.


Darren langsung memarkirkan motor di tempat yang ku tunjuk. Ternyata ramai juga ya suasana di weekend sekarang ini. Rata-rata kendaraan motor sudah banyak yang berjejer rapi sesuai garisan parkir yang tersedia. Aku sudah turun dari jok motor dan membuka helmku. Darren juga sudah parkir dan mengunci stang motornya.


"Vi, kita titipin helm bentar di sana. Kalo kita taro di sini takutnya helm-helm bisa jatuh dan hancur," katanya sambil mengajakku ke tempat penitipan helm.


Sambil jalan menuju ke tempat penitipan helm, dia membenarkan posisi tasnya terlebih dahulu. Sedangkan aku berjalan sedikit lambat darinya karena kalah dengan langkah kakinya yang lebar.



*Darren


Bagaikan kakak yang berjalan dengan sang adik. Ckck.... lihat dia berjalan dengan kerennya sudah membuat banyak pasang mata yang melihatnya. Apakah dia suka jadi pusat perhatian ya? Pasalnya, dia emang punya aura yang menggoda lawan jenisnya. Tapi dia tetap adik yang cool buatku.


Kami menitipkan helm kami berdua di tempat penitipan helm dan di tukar dengan kartu yang sudah ada nomornya masing-masing sesuai dengan rak tempat taruh helmnya.


"Der, kamu penampilannya bukan seperti orang yang mau ngemall, tapi seperti anak kuliahan yang mau magang. Hahaha...," ejekku yang membuatnya tersenyum smirk.


Setelah masuk ke dalam gedung mallnya, kami berjalan menemukan lift yang tidak begitu ramai. Hanya menunggu kisaran tiga menitan saja, pintu lift sudah terbuka lebar. Lagi-lagi kami di sambut dengan beberapa pasang mata gadis-gadis yang berbinar ria. Yang pasti tatapannya bukan buat aku ya. Darren sudah tau lokasi lantai letak gedung bioskopnya. Ia menekan tombol hingga sampailah kita ke lantai tersebut.


"Wah... ramai juga yang nonton. Emang ada film seru apa minggu ini? Aku mau liat dulu bentar," kataku sambil menuju ke dinding pemajangan poster beberapa film yang baru launching.


Aku meninggalkan dia, karena aku lebih suka kalau kami masing-masing saling mencari tau tentang film apa yang akan kami tonton nanti. Sebenarnya aku lebih respect ke horor.


"Kamu suka nonton apa? Aku ikut aja," katanya tiba-tiba yang sudah ada di belakangku.


"Yakin kamu mau aku yang pilih filmnya?"


Dia hanya mengangguk menyetujui saja sambil memperhatikan keadaan sekitar yang ramai.


"Aku sih udah ada film yang aku mau nonton, cuma gak yakin kalo kamu beneran mau nonton."

__ADS_1


"Emang film apaan?"


"Pee Mak," jawabku sambil menunjuk ke arah poster Pee Mak nama film yang berasal dari Thailand.


"Horor?"


"Iya. Takut?"


Awalnya aku sudah liat kalau alisnya mengernyit gak yakin. Tapi seketika berubah aja jadi sok cool lagi. "Gak lah. Masa aku takut ama film beginian. Kalo gitu, kamu tunggu aku sebentar. Aku beli tiket dulu."


"Oke. Aku sekalian beli popcorn dan minuman ya."


"Mm.." jawabnya singkat sambil pergi mengantri ke antrian loket.


🌺Darren Pov🌺


Aku gak nyangka kalau dia hobby nonton film horor. Semoga aja dia bisa meluk aku pas ada adegan yang menegangkan. Hehehe....


Tiba-tiba berasa ada yang nyolek-nyolek lengan tanganku dari belakang. Aku langsung menoleh ke belakang dan ternyata ada dua orang cewek yang tingkahnya malu-malu sedang tersenyum sambil salah tingkah padaku.


Awalnya aku kaget saat di colek dari belakang karena takut ada kaki yang keinjak olehku. Gak taunya dua orang cewek belia yang mau ngajak kenalan. Aku melihat dari kejauhan kalau Via masih sibuk membayar makanan dan minuman yang di belinya.


"Kak!" panggil mereka berbarengan yang memudarkan pandanganku dari Via.


Karena sudah tiba giliran untuk maju satu langkah setelah berkurangnya peserta antrian, aku melangkah terlebih dulu sebelum akhirnya aku melihat kedatangan Via yang sudah makin mendekat. Aku ingin menguji Via melihat tingkahnya apakah dia cemburu atau tidak jika aku berkenalan dengan cewek-cewek di belakangku.


"Sorry, kenapa?"


Cewek di belakangku menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan pelan yang entah itu karena grogi atau kecentilan. "Mau kenalan sama kakak. Boleh? Nama saya Indri, kak," katanya sambil menjulurkan tangannya mengajak salaman.


"Ooo.. Boleh. Aku, Darren," jawabku sambil tersenyum dan mencoba untuk bersalaman.


Belum sampai tanganku untuk bersalaman dengan cewek yang bernama Indri tadi, yang di belakangnya maju duluan sambil bersalaman dengan mempereratkan genggaman tangannya padaku.

__ADS_1


"Aku, Sophia," katanya dengan lantang.


"Aaa... Mmm... itu..." aku merasa gak nyaman dengan tingkahnya yang spontan. Aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya, tapi sepertinya dia berusaha banget buat makin mempereratnya lagi dan lagi hingga tanganku kesakitan. "Maaf, aku sudah punya pacar. Tolong hargai perasaan pacarku!"


"Maaf!" katanya. Mendengar ucapanku barusan, Sophia melepaskan tanganku dan mundur kembali ke tempatnya.


Gila, nih cewek menakutkan banget. Mau bikin Via cemburu, malah begini jadinya. Kapok! Setelah akhirnya giliranku sampai di depan loket, aku segera membeli dua tiket. Transaksi yang tidak memakan waktu lama membuatku segera kabur dan segera membawa Via masuk ke ruangan bioskop karena sudah pas dengan waktu pemutaran filmnya. Kami terlambat sepuluh menit dari jam yang sudah di jadwalkan.


Ruangan gelap, suara yang terlampau kencang, dan suasana yang ramai penghuninya menyisakan beberapa bangku kosong untuk kami sesuai dengan nomor tiket yang tertera. Kami duduk di deretan agak pertengahan. Samping kanan kiri kami sudah di huni oleh pasangan yang entah itu teman atau pacar atau suami istri.


"Akhirnya duduk juga," kata Via sambil menaruh minumannya ke pinggiran tempat duduk yang sudah di sediakan. "Ini minuman kamu," katanya sambil menyerahkan segelas minuman ke arahku.


"Apa ini?" tanyaku saat menerima gelas plastik tersebut.


"Ice latte."


"Thanks ya."


"Popcornnya!" serahnya sebuah kantong berisikan popcorn padaku.


"Kenapa gak beli satu aja? Aku gak gitu suka popcorn."


"Ooo... Aku pikir, kamu mau popcorn. Makanya aku beli dua bungkus."


"Kasih ke yang lain aja, boleh?"


"Boleh kok. Soalnya aku juga pasti gak habis kalo makan sendiri."


Atas izinnya, aku memberikan popcornku ke laki-laki di sebelahku.


"Maaf, kita kelebihan popcorn. Ini buat kamu saja, mau?"


"Boleh..boleh.. Kebetulan kami tadi lupa beli popcorn. Terima kasih ya, bro," kata laki-laki tadi sambil menerima popcorn yang telah kuberikan.

__ADS_1


Ternyata filmnya baru mulai juga. Di awal filmnya saja sudah agak tegang karena menceritakan kalau hantunya mulai gentayangan mencari mangsa untuk di bunuh.


__ADS_2