
8 bulan kemudian..
Nelam sedang menyuapi Raka. Dia mengelus perutnya, lalu tersenyum saat bayi di dalam perutnya menendang dengan kencang. Setelah melakukan USG, dokter bilang mereka akan mempunyai anak perempuan. Aksa dan Nelam bahkan sudah membeli pakaian untuk bayi perempuan mereka.
"Mama... Dede bayi kapan lahir? Kok gak keluar-keluar. Kan di dalem perut sempit, nanti dede bayi gak bisa napas," ucap Raka.
Aksa hanya tersenyum mendengar anaknya sudah pandai bicara. Sambil bermain robot-robotan, Raka mengunyah makanan. Aksa mengusap-usap puncak kepala Raka.
"Nanti Raka jagain dede bayi, ya."
"Iya, Raka kan cita-citanya pengen jadi batman."
Aksa dan Nelam tertawa bersama. Aksa memeluk Nelam dari belakang dan mengusap perutnya.
Nelam menatap Aksa dengan penuh kekaguaman. "Dia menganggap Raka sudah seperti anaknya sendiri. Dia sangat baik dan bertanggung jawab," batin Nelam.
***
Nelam memegang perutnya sambil berjalan ke arah ruangan Aksa. Senyumnya mengembang, lalu Raka mengambil robotnya yang terdampar di depan pintu ruang kerja Aksa. Nelam berjongkok mengelus kepala Raka.
"Raka ke kamar gih, udah malem, Raka tidur ya."
__ADS_1
"Iya.. Tapi belum mau tidul Aka nungguin Papa sama Mama."
"Yaudah, nanti tidur ya."
Raka masih duduk memegang kedua robotnya di dekat lawang pintu.
***
Aksa mengambil laptop dan file-file di atas meja, namun sesuatu jatuh begitu saja. Aksa menaruh laptopnya kembali, dia malah memungut benda kecil. Eye-mask seperti di pesta hellowen itu dipandanginya sejenak.
"Aku harus membuangnya sebelum Nelam tahu, kalau aku pria yang menidurinya dulu," gumamnya.
Aksa mulai memutar tubuhnya, namun dia tertegun kaget melihat siapa yang sedari tadi ada di belakangnya.
"Jadi... selama ini.. ka--kamu.." ucap Nelam terbata-bata sambil menggelengkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca, mengingat siapa yang telah membuatnya hancur dan menderita. Orang yang dia cinta ternyata musuh yang sebenarnya.
Topeng itu terjatuh, Aksa memegang tangan Nelam yang gemetar. Nelam masih belum bisa mengatakan hal lain lagi. Ini terlalu sakit.
"Aku bisa jelasin.. ini gak --"
Plakk!
__ADS_1
"Sudah cukup!" Teriak Nelam, menepis tangan Aksa lalu menamparnya dengan kencang. Aksa mendesis pelan.
"Kamu yang sudah membuatku menderita! Aku dicaci dan dimaki orang-orang! Aku hamil sedangkan aku tidak tahu siapa yang menghamiliku!" Ucapnya membentak dengan suara nada tinggi. "SEDANGKAN KAMU! BERSEMBUNYI DIBALIK KEBOHONGANMU!"
Nelam tidak sanggup melihat wajah Aksa. Terlalu perih bagi Nelam untuk mengingat kejadian pahit itu. Apalagi tahu kalau orang yang dia cinta adalah orang yang telah menghancurkannya. Nelam mendapat sakit yang luar biasa karena Aksa. Dia yakin, kalau Aksa bukanlah pria yang baik.
"Tampar aku lagi, aku menyesal," Aksa menunduk kalah.
"Semua kepahitan ini gara-gara kamu! Kamu gak pernah jujur padaku. Bahkan kamu nyembunyiin semuanya! Hiks.. hiks.." Nelam menepis tangan Aksa, lalu menyeka air matanya. Aksa masih dengan perasaan bersalah dan rasa takut. Aksa hanya perlu berpikir positif bahwa Nelam tidak akan meninggalkannya.
"AKU MEMBENCI PRIA BRENGSEK SEPERTIMU!" Teriak Nelam sambil mendorong tubuh Aksa.
Raka yang mendengar itu memasuki ruangan dengan mata polosnya. Raka menangis melihat mamanya menangis.
Nelam lari untuk menjauh dari hadapan Aksa. Dia menyeka air matanya sambil memegang perutnya yang besar. Nelam menuju kamarnya, Raka memanggilnya sambil menangis.
"Mama.. Hiks.. Hiks.. "
Aksa berlari menemui Nelam yang sudah mengunci kamarnya. Aksa berusaha membuka pintu kamar.
"DENGARKAN PENJELASANKU!" Aksa mendekatkan mulutnya pada badan pintu berharap Nelam akan mendengarkannya. "AKU AKAN MENDOBRAK PINTU INI KALAU KAU TIDAK KELUAR! AKU KHAWATIR PADAMU!"
__ADS_1
***
Vote dan komennya ya