SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Ciri-ciri pria itu


__ADS_3

Bu Bunga, Bu Eva, Vera dan Aisyah berbarengan untuk menjenguk Nelam dan anaknya. Bayi mungil itu bisa merebut perhatian banyak orang, anak itu terkesan tampan dan lucu. Mungkinkah ayahnya yang sangat dibenci Nelam itu sosok yang tampan rupawan juga?


Mereka menatap boks bayi yang terbuat dari bahan plastik keras berwarna transparan.


"Ganteng banget ya, Bu." Tutur Bu Eva membuat mereka tersenyum senang.


"Ibunya juga cantik. Jadi pengen nambah lagi." Celotehnya membuat Bu Eva menatap Bu Bunga geli.


Bu Bunga berdiri di dekat Nelam, "Ibu udah bayar biayanya, kalau kamu butuh apa-apa tinggal panggil Ibu, yak." Tuturnya membuat Nelam meraih jemari gemuknya, lagi-lagi dia menangis pilu. Merasa tidak enak karena Bu Bunga telah banyak membantunya.


"Makasih, Bu. Nelam berhutang budi sama Ibu."


Vera meraih tangan Nelam, menggenggamnya erat. Menatap manik matanya, malah membuatnya semakin merasa bersalah. Untuk menenangkan Vera yang terus menangis, dia beranjak dari tidurnya. Vera membantunya untuk bangkit dan duduk di ranjangnya.

__ADS_1


Nelam memeluk Vera, deru napasnya terasa hangat, sosok sahabat yang amat tulus itu menggenggam tangannya. Tidak pernah berhenti untuk memberinya motivasi dan selalu maafkannya, sebesar apapun dosa yang telah diperbuat. Realita naas yang dialaminya bukan semata-mata kesalahan Vera, ini adalah jalan yang telah ditakdirkan Tuhan.


"Setidaknya kamu menyadari kesalahan kamu. Cintai diri kamu dan jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri. Hidup lah dengan kebaikan dan tetap lah di jalan yang lurus." Nelam menasehati, semua orang yang ada di ruangan itu menatap Nelam kagum. Selain penyabar, Nelam juga sangat bijak dalam menghadapi masalahnya.


Milan menatap jam dinding berwarna biru. Jarum pendeknya menujuk angka tujuh. Administrasi udah diselesaikan oleh Bu Bunga. Selanjutnya, tinggal menunggu perintah dari Dokter.


Tak lama sepersekian menit, Dokter datang untuk memeriksa keadaan Nelam, membuat mereka beranjak pergi keluar ruangan.


Diluar Milan menatap Vera dingin, pria itu memang agak dingin dan pendendam. Tentang pria yang telah menghamili Nelam, dia akan menanyakannya pada Vera.


Milan berdiri di dekat ruang inap pasien. Dia menempelkan punggungnya ke tembok lalu melipat tangannya. "Ciri-ciri laki-laki itu dari atas sampe bawah." Intruksinya membuat Vera menghembuskan napasnya pelan dan mencoba mengingat.


"Dia tinggi kira-kira 180 cm lebih, menggunakan topeng mata, kulitnya putih, rahangnya tegas, potongan rambutnya rapi, memakai jas berwarna hitam, kayaknya dia pebisnis, kayaknya dia juga masih muda--"

__ADS_1


"Yang pasti dia ganteng, dia lebih ganteng dari gue gak sih? Terus kenapa dia pake topeng mata." Lirih Milan sedikit was-was.


Sosok sempurna seperti itu tidak mungkin ada yang menolak. Bagaimana jika nanti Nelam dipertemukan lagi dengan orang itu. Ah tidak, pikiran buruknya malah membuat Milan tambah khawatir. Sampai kapanpun, Milan tidak akan pernah melepaskan Nelam, karena dia lah hidup Milan.


"Tenang aja Mil, yang terpenting Nelam itu cuma buat kamu," Ucap Vera membuatnya sedikit melepas risau. "Maafin aku ya Mil."


"Lo gak punya salah sama gue, Nelam juga udah maafin lo."


Milan mengalihkan pandangannya, melihat Aisyah dan Reno sedang menuntun Nelam untuk berjalan. Dia menghampirinya.


"Aku bopong ya, Nel." Milan sudah meletakan tangan kirinya di paha belakang dan tangan kanannya di leher belakang. Dia membopongnya ala bridal style.


_________________________

__ADS_1


Bersambung...


Vote dan komen ya...


__ADS_2