
...You're my love, my life, my beginning...
...And I'm just so stoked I got you...
...Girl, you are the piece I've been missing...
...Remembering now...
***
"Temukan dimana alamatnya! Kalau kalian tidak bisa, aku akan pecat kalian!"
Teriak Aksa di telepon, sayangnya amarah membuat Aksa melempar telepon genggamnya. Dia sangat kecewa dengan Nelam, karena meninggalkan Aksa tanpa pamit.
Aksa mengusap wajahnya dengan gusar. "Nelam, kamu dimana?"
Aksa melihat kemunculan Sang Ibu dari pintu, dia terlihat sangat kesal.
"Nelam bawa cucu ku pergi! Kamu jangan diam aja dong Aksa, nanti anak kamu kenapa-kenapa gimana?"
Aksa menghela napas dalam. "Nelam ibunya, dia yang membesarkan Raka, anak itu gak bakal kenapa-kenapa."
"Kamu tuh sebagai ayah harus tegas! Cari dia, kalau dia gak mau, ambil anakmu! Harusnya dia beruntung karena kamu ingin menikahinya so jual mahal!"
"Mam, biarin aja, nanti Aksa cari kalau Aksa udah membaik."
"Pokoknya Mama gak rela dia bawa cucu ku pergi!"
Nyonya Kinan memegang kepalanya. "Sudah lah, Mama sudah pusing! Mending Mama cari wanita itu terus bawa Raka."
"Mam!"
"MAMA!"
Aksa mengacak kepalanya frustasi, ini malah semakin rumit, pikirnya. Ditambah, dia belum menemukan Rania, takutnya dia mencelakai Nelam.
***
"Dir, ini rumah aku."
Dirga mengusap pucuk kepala Nelam. "Wanita cantik ini, aku mengaguminya."
"Aku harus masuk, kamu pulang ya."
"Iya, yang terpenting aku udah tau rumah kamu."
"Hati-hati di jalannya Dir."
Nelam memutar badannya namun Dirga memegang tangan Nelam.
"Kamu masih pake kalung dari aku?"
Nelam memperlihatkan kalung hati. "Itu kalung perpisahan kita dulu, aku hati sebelah kanan, kamu hati sebelah kiri."
Dirga memperlihatkan kalungnya. "Aku harap kalung ini bisa menyatu."
__ADS_1
Dirga melepaskan pegangan tangannya. "Aku pamit."
***
Aksa memanggil Debi, pria itu menghadap kakaknya. Mungkin ada hal penting yang ingin Aksa sampai kan.
"Ada apa Kak?"
"Aku ingin mencari Nelam, tapi kondisiku sedang seperti ini."
"Sudah tiga hari kau berbaring."
"Kamu pergi cari dia sekarang kalau tidak ketemu, aku akan mencarinya!"
Debi duduk di salah satu sofa. "Kau sudah gila!"
"Aku sudah sembuh kok."
"Terserah lah! Tapi kata Dokter, kamu harus berobat jalan dan-"
Dwbi terdiam melihat Aksa berdiri dan memakai jasnya, tangguh sekali, pikirnya. Harusnya dia lebih berhati-hati karena luka jahitnya bisa sobek.
***
Aksa menelpon Dirga malam ini, namun lelaki itu sama sekali tidak mengangkat teleponnya. Aksa juga bingung, dimana dia bisa menemukan Nelam, nomornya pun tidak aktip. Hanya Dirga yang bisa menemukannya.
Debi berlari untuk memegangi tangan Aksa. "Biar aku membantumu berjalan."
Aksa menepisnya. "Aku kuat, aku bisa sendiri."
Aksa mengangguk, mereka berjalan menuju mobil dengan Aksa yang sesekali mengernyit menahan sakit..
***
Flash back..
Seorang remaja wanita berumur lima belas tahun itu sedang menulis di mejanya. Terlihat sangat cantik dan manis. Dia akan melaksanakan ujian nasional untuk melanjutkan ke sekolah menengah atas.
Nelam Dewi Permata, namanya. Atau sering dipanggil Dewi karena wajahnya yang cantik.
Tak lama, seorang remaja seumur, duduk di sampingnya. Dia terlihat sangat tampan, berkulit hitam manis dan berlesung pipit.
"Dew, kamu belajar apa?"
"Aku belajar bio-" dia berhenti saat melihat memar di pipi remaja itu. "Kamu berantem lagi?"
"Hm, aku cuma adu tinju sebentar."
Nelam menggebuk tangan atasnya. "Kamu pinter! Kamu bakal dapet beasiswa ke luar negri! Kalau beasiswa mu dicabut gimana!"
"Aku emang dapet beasiswa, karena aku bisa menciptakan robot kecil."
Nelam menutup mulutnya yang membulat, "Jadi robot yang ada di laboratorium itu kamu yang rancang?!"
Dirga mengangguk. "Iya, aku sama Tomi, iseng aja si."
__ADS_1
"Kamu tuh pinter banget tau!"
"Aku dapet beasiswa buat lanjutin sekolah di Amerika."
Nelam terdiam melihat bola mata Dirga, namun matanya tiba-tiba bergelombang, namun dia juga tersenyum. "Masa depan kamu terjamin."
Dirga meraih tangan kanan Nelam lalu menempelkan di jidatnya sambil berbicara. "Aku bimbang, aku takut kehilangan kamu, tapi aku ingin jadi orang yang sukses."
Nelam memegang kedua pipi Dirga. "Aku gak bakal ngilang, kamu harus yakin, perjalanan kamu masih panjang, katanya kamu pengen punya perusahaan sendiri?"
"Apa kamu gak bakal kemana-mana?"
Nelam mengangguk dengan yakin. "Kita sahabat selamanya."
***
...Denting yang berbunyi dari dinding kamarku...
...Sadarkan diriku dari lamunan panjang...
...Tak terasa malam kini semakin larut...
...'Ku masih terjaga...
...Sayang, kau di mana aku ingin bersama?...
...Aku butuh semua untuk tepiskan rindu...
...Mungkinkah kau di sana merasa yang sama?...
...Seperti dinginku di malam ini...
...Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini...
...Kita menari dalam rindu yang indah...
...Sepi kurasa hatiku saat ini, oh sayangku...
...Jika kau di sini, aku tenang...
...Sayang, kau di mana aku ingin bersama?...
...Aku butuh semua untuk tepiskan rindu...
...Mungkinkah kau di sana merasa yang sama?...
...Seperti dinginku di malam ini...
...Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini...
...Kita menari dalam rindu yang indah...
...Sepi kurasa hatiku saat ini, oh sayangku...
...Jika kau di sini, aku tenang...
__ADS_1
Vite dan komennya.. ok..