
...Aku menjauhimu karena keadaan bukan kemauan - Nelam....
***
Nelam berada di toilet karena tadi waktu bersama Aksa, dia tiba-tiba berlari, entah ada apa, yang jelas dia terlihat syok. Nelam mengepalkan tangannya dengan kuat, air mata lolos dari matanya.
"Aku yakin, dia pria yang menghamiliku."
Nelam memegangi kepalanya, lalu berjalan keluar. Setelah membuka pintu, Nelam terkaget karen melihat Aksa yang tampaknya menunggu dari tadi.
"Ada apa?"
"A-aku.." ucapnya gugup.
"Hai Aksa," panggil seorang lelaki.
Satu delikan ke belakang, Aksa mengerutkan keningnya. "Ngapain kamu!"
"Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu."
Sekilas Aksa mengangkat dagunya, "Aku tidak mau dengar."
"Pak, aku pamit ke ruang staf," ucap Nelam.
Nelam melirik Reyhan yang memegang tangannya. "Kau masih terlihat cantik hingga sekarang, kamu benar-benar tidak mengingatku? Eouhh?"
"Mengingatmu?"
"Waktu kita di club malam waktu itu."
Nelam memanas, dia menghentakkan tangannya. "Aku tidak mengenalimu!"
Rayhan menarik rahang Nelam dengan kasar. "Sudah kubilang, aku menyukaimu!"
"Heh!" Aksa mencengkal pergelangan tangan Reyhan. "Berani mengasarinya lagi, aku balas perbuatanmu!"
Rayhan menggeser rahangnya. "Kau terlalu buta karena cinta."
Aksa mengeratkan cekalannya hingga Rayhan meringis kesakitan. "Iya..., lepaskan dulu.. shhh, aww."
Tatapan mata Aksa masih terlihat tajam. "Pergi atau aku akan melakukan lebih dari ini!" ancamnya.
__ADS_1
Rayhan tersenyum meremehkan. "Baiklah, aku akan pergi."
Aksa melihat kepergian Rayhan dengan rahang yang masih mengeras, kemudian dia melihat Nelam yang matanya sudah berkaca-kaca. Dia masih tidak mengerti, ada apa dengan Nelam akhir-akhir ini karena terlihat menyedihkan.
"Kenapa nangis?"
Nelam menggesek pipinya dengan kasar. "Enggak, aku hanya sedang ada masalah."
Aksa memegang bahu kanan Nelam. "Tidak mau cerita denganku?"
"Enggak Pak, saya pamit ke ruang staf ada kerjaan yang belum saya selesaikan."
***
Rayhan memandangi langit malam, dia tersenyum picik lalu meneguk anggur merah dalam gelas. Ada banyak hal yang ingin dilakukannya saat ini termasuk menghacurkan Aksa.
Rayhan beralih menatap layar laptopnya, dia sedikit kagum dengan Aksa yang tiba-tiba mengirim pesan kalau dia tidak akan tinggal diam jika Rayhan berani macam-macam pada Nelam.
"Senjata baru," gumamnya.
***
Suara klakson mobil Aksa menginterupsi, membuat Nelam keluar rumahnya. Dari tadi siang, Nelam tampak mengabaikan Aksa, bahkan dia banyak melamun. Hal ini membuat Aksa sedikit janggal hingga dia memutuskan untuk menemui Nelam malam ini memastikan kalau dia baik-baik saja.
Nelam tidak mau Aksa terus mengkhawatirkannya. "Aku gak papa, kok."
"Tentang surat pengunduran diri itu, apa kau bermaksud untuk risegn?"
Nelam menunduk sekejap. "Apa aku boleh meng-"
"Tidak, aku tidak mau kau mengundurkan diri," ujarnya kemudian meraih kedua tangan Nelam. "Ada masalah apa? Bicaramu sungguh tidak masuk akal?"
"Aku menemukan orang yang meniduriku dulu, aku sangat membencinya."
"Siapa?" tanyanya tiba-tiba. "Apakah ada orang yang memberitahumu kal-"
"Pak Debi."
Aksa terdiam kemudian menatap kedua bola mata Nelam yang berkaca-kaca. Dia meraih tubuh Nelam lalu memeluknya, kemudian dia mencium pucuk kepalanya. "Apa kau sudah yakin?"
Tapi tentang Raka, Nelam tidak akan pernah bilang kalau Raka adalah anak dari orang yang menidurinya dulu. Mereka tahunya kalau Raka adalah anak dari mantan suaminya.
__ADS_1
"Itu sudah masa lalu, mungkin Debi sedang mabuk, sekarang kamu lupakan kejadian itu."
Aksa melepaskan pelukannya, kemudian dia beralih melihat jam tangannya. "Aku harus pulang."
Nelam mengangguk kemudian dia memegang tangan Aksa. "Makasih udah selalu ada untukku."
"Aku akan selalu ada untukmu."
***
Prokkk..
Prokkk..
Aksa mengernyitkan dahinya saat Debi masuk ke kamarnya lalu duduk di sofa. Ada apa dia? Pasti orang itu selesai memainkan dramanya.
"Aku cocok kan jadi pemain sinetron, eouhh?"
"Kenapa?" tanyanya lalu melepas dasinya.
"Aku bilang ke wanita yang aku tiduri bahwa aku akan menikahinya."
"Lalu?"
"Ya aku gak bakal sudi menikahinya."
Aksa membuka kancing kemejanya. "Memangnya wanita itu seperti apa?"
Debi mendelikkan bahunya. "Dia tidak cantik seperti Nelam, jadi aku tidak menyukainya."
"Kau!" Aksa hampir saja menerbangkan remot AC.
Debi tersenyum merasa tidak bersalah. "Hehe, aku pergi dulu, mau menemuinya dan mengatakan kalau dia harus melupakan peristiwa itu orang itu akan menurut jika aku memberikannya uang."
"Ya."
Aksa melihat hand-phone-nya.
Rayhan : Besok ada kejutan dariku.
Aksa tersenyum miring sekejap lalu melempar hand-phone-nya ke ujung ranjang. "Dasar pecundang."
__ADS_1
***
Vote dan komennya ya.. supaya double update