
"Assalamualaikum Nel."
"Wa'alaikumsalam Ai."
Ai adalah teman sebangku Nelam yang tukeran tempat duduk dengan Vera. Ai seorang anak pemilik pesantren dan orang tuanya bersahabat dengan orang tua Milan.
"Nel, kamu keliatan lelah banget," ucap wanita berkerudung putih itu.
"Enggak Ai, aku cuma ngantuk aja."
"Kamu udah makan belum? Mau makan roti gak?"
Nelam tersenyum pada Ai, ternyata masih ada orang sebaik Ai, wanita itu menyodorkan tupperware-nya yang berisi roti tawar isi selai kacang, kebetulan Nelam emang lagi lapar karena dia tidak ke kantin waktu istirahat. Nelam takut karena mereka selalu sinis pada Nelam.
Nelam menerima pemberian dari Ai. "Makasih i."
Ai membelokan badannya ke kiri, lalu memegang bahu kiri Nelam. "Nel, kamu itu baik, cantik, tapi aku boleh tanya?"
"Iya, kamu mau tanya apa?"
"Kamu kenapa kerja di club malam?"
"Aku gak kerja di club malam."
"Tapi poto waktu itu?"
"Ceritanya panjang, i. Nanti aku cerita ke kamu."
"Iya, mending kamu cerita ke aku, kalo kamu ada masalah cerita aja ke aku, insya allah aku bakal jaga rahasia kamu."
"Iya i."
"Kamu mau kan jadi sahabat aku?"
"Sa-sahabat?"
Ai mengangguk, lalu Nelam tersenyum. "Iya, mulai sekarang kita sahabat ya Nel."
Baru saja mengunyah dua kali, Nelam malah ingin muntah. Nelam berlari keluar, untung saja jarak toilet ke kelasnya tidak terlalu jauh.
__ADS_1
***
Ai ikut cemas lalu mengejar Nelam setelah sampai toilet, Ai mengintip Nelam yang sedang muntah-muntah.
"Nelam kenapa? Apa dia hamil? Ah, aku jangan suudzon dulu."
Ai menahan tangan Nelam yang baru saja membuka pintu toilet. "Nel, kamu gak kenapa-kenapa?"
"Aku lagi gak enak badan aja i."
"Aku beliin obat ya Nel."
"Gak usah i."
***
Nelam memasuki ruangan kelas bersama Ai, namun dia melihat tulisan di papan tulis.
Bayaran buat boking Nelam! Haha
Nelam meramas roknya, namun dia hampir saja tersungkur karena seorang wanita menyenggolnya.
"Hai jalang, lo open gak?" tanya Vera.
"HEH! DASAR DUA CEWEK UDIK! TOLOL!" teriaknya kencang dengan kedua tangan di pinggang.
"Ver, aku lagi gak mau berdebat sama kamu," ucap Nelam.
"Bagus, lo mau dipecat, hah!"
Nelam menggeleng cepat. "Enggak Ver, aku masih butuh kerjaan."
"Yaudah bersihin kaki gue."
"Kaki siapa?"
"LO BUDEK?!" teriaknya membuat semua orang melihat Vera. "Sepatu gue basah, keringin pake tisu, SEKARANG!"
"I-iya Ver."
__ADS_1
"Nelam jangan."
Nelam sudah berjongkok di depan Vera, semua orang melihatnya tidak percaya.
"Itu Si Nelam lagi ngapain?"
"Mau aja Si Nelam digituin."
"Biarin lah, jalang kayak dia mah pantes digituin."
"Kan dia emang gak punya harga diri."
"Harga dirinya kan murah meriah."
Seseorang menghentikan pergerakan tangan Nelam lalu membantunya berdiri.
"Ngapain?" tanya Milan, mereka sudah berdiri. "Kenapa kamu mau aja Nel! KAMU BUKAN BABU DIA!"
Milan menarik tangan Nelam untuk duduk di kursinya kembali dan menghiraukan Vera.
***
Nelam gemetar memegang benda itu. Benda kecil itu menentukan nasib Nelam. Jika mungkin ini terjadi, Nelam tidak tau lagi cara untuk mempertahankan hidup.
Dia terkejut saat melihat dua garis merah di test pack-nya yang menandakan kalau dia benar-benar telah hamil.
"I-ini gak mungkin, kan?"
Nelam menaruh benda kecil itu di Nakas lalu dia meramas rambutnya frustasi, lagi-lagi dia cemas dan takut. Bagaimana ini, sebentar lagi dia ujian tapi dia malah hamil. Yang paling parahnya, dia tidak tahu siapa yang menghamilinya.
"Aku gak mau!"
"AKU GAK MUNGKIN HAMIL!"
"I-ini cuma mimpi, iya mimpi."
Nelam membuka handphone-nya lalu dia mengetik sesuatu dan mendapatkan hasil. Dia mencari tempat untuk aborsi.
"Apa aku harus aborsi?"
__ADS_1
***
Bersambung.. Vote dan komen ya..