
Raka membawa mainannya, yaitu pesawat kecil yang kemarin dibelikan oleh Aksa. Dia berjalan menuju rumah tetangga, banyak anak kecil juga sedang bermain.
"Aka mau main."
"Kamu dapet mainan dali mana?" tanya anak perempuan kuncir kuda.
Raka duduk di sebelahnya. "Papa aku yang beliin, ada banyak di lumah."
"Kamu kan gak punya Papa," balas salah anak yang umurnya lebih tuaan dari Raka.
"Puna, kata Mama, Aka juga puna," jawabnya polos.
plakk..
Salah satu anak menampar temannya, Raka menggerakan jari telunjuknya ke kiri-kanan. Anak yang ditampar menangis, lalu pulang ke rumahnya.
"Gak oleh nakal kata Mama, gak oleh jahat!" nasehatnya.
"Bodo amat!" tembalnya, padahal dia sudah kelas 2 SD.
"Gak boleh Kak Fais!"
"Diem anak haram!" ucap anak itu lalu menendang kaki Raka.
"Nanti aku bilangin ke Om Eno."
"Gak takut, wle!" dia menjulurkan lidah. "Aku bilangin ke Papa aku yang punya mobil! Kamu gak punya mobil gak punya Papa!"
"Raka puna Papa!" Raka masih tidak mau kalah.
"Gak punya, wle!"
__ADS_1
Mata Raka sudah berkaca-kaca.
"Eh temen-temen, kata Mama kita Raka anak haram ya."
"Iya Raka anak haram."
"Anak haram."
"Anak haram."
"Anak haram."
Mereka bersorak membuat Raka menggerak-gerakkan kakinya tidak terima dengan perkataan mereka. "Raka punaaaa! hiks.. hiks.."
Raka menggesek matanya kemudian anak yang diketahui bernama Faiz itu merebut mainannya. Anak itu panik mengejar Faiz, lalu Faiz mendorongnya hingga tersungkur di tanah. Tak lama kemudian Nelam datang, dia segera membangunkan Raka dan menepuk lututnya yang kotor. Faiz, anak itu melihat Nelam dengan takut.
Nelam menutup mata sekejap setelah membangunkan Raka. Lalu menunjuk Faiz.
Anak itu melempar mainan Raka ke Nelam. "Kan Raka anak haram," ujarnya kemudian dia mendelik ke belakang melihat teman-temannya. "Iya kan Raka anak haram."
Teman-temannya ikut membela Faiz. "Iya, anak haram."
Nelam melihat sebuah tangan memeluk tubuh Raka, lalu menggendongnya. Spontan Nelam bertanya, kenapa Kak Doni dan Kak Feni ke sini? Bukannya dulu Doni sangat membencinya ya.
Pantes saja kemarin Doni mengirim pesan WA kepadanya kalau dia kangen sama Raka. Entah kenapa tiba-tiba Doni menjadi baik padanya. Dia tidak berprasangka buruk dan menebak kalau Kakaknya itu hanya ada butuhnya. Hanya yang dia heran Doni tahu darimana tempat tinggalnya sekarang.
Doni menunjuk anak itu. "Awas aja kalo kalian ngomong gitu lagi ke Raka, aku hajar Ayah kalian!"
Mereka langsung kabur. Doni tersenyum pada Raka lalu memegang pipinya. "Dia mirip kamu waktu kecil Nel."
Nelam menghembuskan napasnya pelan. "Waktu Kakak kecil, Kakak baik banget ke aku, tapi dulu waktu aku hanya butuh Kakak seakan gak peduli, Kakak membiarkan kami jadi gelandangan di jalan," Nelam dengan segala pilunya seakan-akan perkataannya menembus hati Doni dan mereflekan mata agar meneteskan air mata.
__ADS_1
Doni tiba-tiba meneteskan air matanya, entah asli atau palsu. Tapi kan dari dulu juga Doni sudah sangat tidak mempedulikannya.
"Maafin Kak Nel."
Nelam melihat kakaknya Doni yang sekarang sudah ada di depannya. Masih dengan tatapannya yang semakin menyedihkan. "Dulu Kakak khawatir banget sama aku, sampe berantem sama Kakak kelas Kakak karena dia bully aku, hiks.. hiks.."
Doni memegang pipi Nelam lalu menghapus air matanya. "Gak ada yang namanya bekas adik, kita satu darah Nel, walaupun Kakak cuek sama kamu bukan berarti Kakak gak peduli."
Nelam menggebuk dada Kakaknya. "Tapi nyatanya Kakak emang gak peduli sama aku!"
Doni menarik tubuh Nelam kedekapannya laku mencium pucuk telinganya. "Maafin Kakak, waktu itu Kakak juga lagi susah."
"Nelam sedihnya, saat Nelam benar-benar hancur, sebenarnya Nelam butuh Kakak, cuma Kakak tempat berlindung, tapi ternyata Kakak bukan yang aku kenal dulu, hikss.. hiks.."
"Maafin Kakak de, karena Kakak punya tanggung jawab selain kamu."
"Dulu bahkan Kakak rela gak makan demi aku, selalu hibur aku, jailin aku, kita dalam keluarga harmonis dulu. Walaupun kekurangan secara materi, tapi kita cukup kasih sayang dari orang tua kita hingga mereka pergi satu per satu."
Nelam menyeka air matanya lalu berjalan ke arah Feni yang menggendong Raka. Mungkin Nelam sudah tidak mau mendengarkan perkataan Doni, karena itu hanya akan menyakitinya. Dia mengambil Raka, segeralah dia pergi menuju rumahnya. Doni menatapnya dengan lirih.
"Aku banyak bikin dia menderita," ucap Doni.
Feni cemberut melihat suaminya itu, kenapa dia bisa luluh pada Nelam. Jelas-jelas Doni harus bujuk Nelam supaya ngasih dia duit. Feni menyenggol tangan Doni.
"Lemah! Cepet bujuk dia, terus minta duit. Kalo gak mau ngasih kasarin!"
"Aku gak bisa nyakitin dia lagi, dia cuma gadis kecil lugu."
"Payah! Kalo kamu gak bisa, besok tidur di luar!" ancamnya.
***
__ADS_1
Vote dan komennya jangan lupa bund..