
...Lebih baik membuang kesalahan masa lalu daripada membawa kesalahan hingga masa depan. ...
***
Aksa berdiam diri di kursinya, ada banyak yang dipikirkannya. Pertama, dia masih kurang bukti atas korupsi yang dilakukan pamannya itu. Kedua, masalahnya dengan Nelam. Jika dia jujur, dia takut Nelam akan membencinya bahkan kehilangannya untuk yang kedua kali. Ah, itu terlalu sulit, pikirnya. Seolah-olah dirinya pencundang besar yang bersembunyi dalam kebohongan.
"Aku akan bicarakan ini saat aku sudah menikahinya," ucapnya.
Setelah dua jam berkutat dalam pekerjaanya, yang terkesan monoton itu, Aksa memandangi kaca jendela, hujan sangat deras di luar gedung. Dia malah mengingat peristiwa kemarin saat dirinya membawa mobil dengan kencang dan hampir menabrak pohon di bahu jalan. Kalau itu terjadi, mungkin sekarang dia sudah koma di rumah sakit.
Aksa menggerakkan-gerakan boilpoin di tangannya, namun dia terhenti mendengar pijakan kaki yang masuk ke ruangannya. Tentu dia bukan Nelam, karena wanita itu sedang makan di kantin dengan para staf.
"Heiii! Kau ini, berani-beraninya memukulku!"
Debi menempatkan dirinya di depan Aksa. Dia mengerutkan keningnya, kemudian menghela napas pelan. Aksa mencari sebuah map, lalu menandatangani sebuah surat.
"Ya, maafkan aku, tapi kau sudah janji tidak akan bilang pada siapapun."
"Tentu, aku akan merahasiakan ini rapat-rapat asalkan kamu mau menggantikanku untuk meeting."
Aksa meliriknya dingin. "Tidak bisa, kamu terlalu banyak main!"
"Kak tolong lah, aku kan menolongmu sampai rela ditonjok oleh mu."
"Yaudah sana, kamu ganggu aku saja!"
Aksa melihat kepergian Debi, kemudian melihat arlojinya. "Waktu terus berputar, tapi hingga detik ini aku masih belum mendapatkanmu."
__ADS_1
***
Nelam hanya mengaduk makanannya. Dia tampak aneh akhir-akhir ini. Eva menyenggol Nadia lalu memajukan rahangnya memberikan kode bahwa Nelam sedang tidak baik-baik saja.
"Bu, kenapa gak dimakan?"
"E-eh," Nelam spontan melihat makanannya kemudian berusaha tersenyum agar mereka tidak salah sangka. "Enggak kok."
"Ibu mubajir loh makanannya, kalo gak mau aku aja yang ngabisin."
"Elu mah doyan ngabisin makan orang Va!"
"Yaelah Nad, elu mah kayak yang kagak pernah laper."
Nelam menghentikan sendoknya yang baru dia masukan ke dalam mulut karena melihat kemunculan Aksa dari pintu kantin.
"Aku ingin makan berdua bersamamu."
Eva lagi-lagi menyenggol Nadya, membuat temannya itu berkata 'Diem,' tanpa suara.
"Tapi aku kan lagi makan sama mereka."
Aksa beralih menatap Eva dan Nadya.
"Tidak apa-apa kan kalau saya ajak dia pergi."
"Iya Pak," balas Eva dengan senyumnya.
__ADS_1
Aksa mencengkal tangan Nelam untuk membawanya pergi. Seketika membuat semua orang menatapnya tidak percaya. Nelam berhenti karena tiba-tiba Aksa berhenti di depan.
"Kenapa?"
Aksa merogoh saku jasnya kemudian mengeluarkan beda kecil berwarna merah yang berbentuk love. Aksa berlutut di depan Nelam.
Seketika perasaan Nelam tidak karuan karena mereka tiba-tiba bangkit melihat Direktur utama ini berlutut pada sekretarisnya.
"Will you marry me?"
Deg...
'Apa yang harus aku lakukan?' batin Nelam.
Nelam memanas, berkeringat di pelipisnya. Kalau Nelam menolaknya, sama saja dia telah menjatuhkan harga diri Aksa sebagai direktur, tapi kalau dia menerimanya, apakah dia siap menerima seorang lelaki dalam hidupnya?
"Terimaaaa!"
"Terimaaaa!"
Mereka bersorak, agar Nelam menerima lamaran Aksa. Apakah ini taktik Aksa agar Nelam tidak bisa menolaknya? Pintar sekali Aksa. Tidak ada lagi pikir panjang, baru kali ini Nelam berpikir gegabah, karena dia baru saja mengangguk menerima lamaran Aksa.
Pipi Nelam memerah, Aksa menarik sikut kebelakang dan mengatakan "Yess," untuk kemenangannya kali ini, sebenarnya Aksa memang selalu menang.
'Aku akan mengembalikan cincin ini kalau kita lagi berdua,' batin Nelam.
***
__ADS_1
Vote dan komen yang banyak ya..