SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Fitnah


__ADS_3

...Yang sulit bukan perpisahan, tetapi penyesalan karena pernah dipertemukan. ...


***


.Kakinya tiba-tiba terasa berat melangkah, hatinya bergetar, keringat di pelipisnya menandakan kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Sebenarnya keadaan yang seperti ini yang Nelam benci -- kehilangan seseorang yang dia cintai.


'Ini yang membuatku takut jatuh Cinta, sejujurnya aku belum siap kehilangan,' batinnya.


Nelam terpaku melihat kedatangan mobil ambulan di loby rumah sakit. Sebetulnya Nelam tahu kalau Aksa ditembak pria misterius subuh tadi saat berbicara dengan Aksa di telepon. Dan Debi memberitahunya kalau Aksa akan tiba di rumah sakit karena jarak rumah Nelam dan rumah sakit tidak terlalu jauh, jadi dia datang lebih awal.


'Aku gak sanggup liat dia kayak gitu,' batin Nelam.


Nelam berlari di sisi brankar dorong yang di atasnya ada seorang pria ber tuksedo hitam namun kemejanya yang putih basah oleh bercak darah. Sangat mengkhawatirkan pria yang tengah pingsan itu, namun para suster masih mendorongnya dengan cepat menuju ruang operasi.


"Aku mohon sadarlah, hiks.. hiks.."


"Kak, sadarlah...!" ucap pria di sebelahnya.


Debi ikut meneteskan air mata, membantu para perawat mendorong brankar tersebut hingga berhenti di depan ruang operasi karena salah satu suster menahan Nelam dan Debi.


"Ibu sama Bapak tunggu di luar, dokter akan menangani pasien."


Nelam dan Debi duduk di kursi besi, namun Nelam menggeser badannya agar lebih jauh dari Debi, pria itu hanya melihatnya dengan lirih, mungkin Nelam masih mengira kalau dia lah yang menidurinya dulu, padahal Aksa lah pelaku sebenarnya.


Debi meremas rambutnya frustasi. "Kak! Kamu bilang lelaki harus kuat! Tapi apa?! Kamu sendiri lemah begitu!"


Nelam menghembuskan napasnya pelan, dia ikut cemas. Tak lama, Nyonya Kinan dan Tuan Gilang bergegas menghampiri Debi untuk menanyakan keadaan Aksa yang sedang operasi pengangkatan peluru di tubuhnya, kemungkinan Aksa selamat sangat rendah.


"Bagaimana! Bagaimana keadaan putraku!" cemas Nyonya Kinan, menggerakan bahu Debi.


Debi melakukan bahunya. "Debi juga gak tau Mam!"


Tuan Gilang duduk di sebelah Debi diikuti Nyonya Kinan yang duduk di sebelah Nelam. Karena tau wanita paruh baya itu cemas, Nelam memeluknya dari samping, membuat Nyonya Kinan melingkarkan tangan kiri ke pinggang ramping Nelam.

__ADS_1


"Aksa bilang, kalau dia ingin menikah denganmu, hiks.. hiks," ucap Nyonya Kinan parau, terdengar sangat menyedihkan.


"Pak Aksa pasti selamat, Bu."


Nyonya Kinan mengangguk lalu menyeka aie matanya.


"Aku sungguh tidak menyangka, Rayhan sekejam itu pada anakku," ucap Tuan Gilang, pria berambut dominan putih itu menunduk lesu.


"Pap! Dia harus dihukum mati!"


"Polisi sedang mencarinya, namun dia pergi entah kemana."


Nyonya Kinan bangkit saat melihat Rania datang dengan panik dan menelisik ke arah kaca jendela. Tidak pikir panjang, Nyonya Kinan menjambak rambut Rania, wanita itu meringis kesakitan.


"GARA-GARA KAMU ANAK SAYA SEKARAT!"


Nelam segera melerai, entah kenapa Rania tidak melawan saat Nyonya Kinan berlaku kasar padanya. Rania berlutut dihadapan Nyonya Kinan.


"Pasti kamu drama lagi, kan!" sentaknya.


"Semenjak Nelam mengancam Rania, membuat Rania ketakutan."


Nyonya Kinan dan Nelam mengerutkan keningnya, Rania akan memfitnahnya, Nelam rasa.


"Mengancam?"


"Nelam, aku akan menyerah, jangan sakiti aku, hiks.. hiks.."


Nyonya Kinan melihat Nelam dengan ekspresi datarnya. "Ternyata kamu cewek gak bener ya!"


Nelam menggeleng. "Aku gak mungkin-'" ucapnya lemah, kemudian dia terhenti lalu menunduk melihat Rania yang berlutut dengan isak tangisnya yang terdengar menyakitkan.


"Nelam, yang bikin Aksa celaka, Mama, hiks.. hiks.." ucap Rania. "Karena Rayhan dan Aksa memperebutkan Nelam."

__ADS_1


Nyonya Kinan melihat Nelam dengan sinis. "Oh jadi kamu dalang di balik semua!"


Ceklek..


Krek..


Nyonya Kinan mengalihkan pandangannya, kini dia fokus dengan keadaan anak pertamanya.


"Dokter gimana keadaan anak saya!" tanyanya dengan panik, Debi dan Tuan Gilang ikut menghampiri dokter di ambang pintu.


"Mohon maaf Bu, kami telah berusaha semaksimal mungkin."


***


Vote dan komennya ya..


Aku mau ganti visual nih..


Nelam..



Aksa



Milan



Debi


__ADS_1


__ADS_2