
"Nelam? Kamu kenapa?!" tanya Aisyah panik. Nelam tidak bisa lagi berkata-kata. Tangisnya tersedu-sedu, Aisyah memegang tangan Nelam yang ke dinginan lalu menuntunnya ke dalam rumahnya.
Aisyah memegang kedua bahu Nelam berjalan menuju kamarnya. Tatapannya sendu dan kelam, Nelam masih memikirkan kejadian tadi. Dia tidak menyangka kalau pria yang dia benci ternyata sosok yang dia cintai.
Setelah berganti baju, Nelam duduk di sisi ranjang dengan handuk di kepalanya. Aisyah membawakan sebuah gelas yang berisi teh hangat. Dia mengulurkan tangannya yang berisi gelas tadi untuk Nelam. Karena kedinginan, Nelam pun memegang gelas itu dengan kedua telapak tangannya. Aisyah duduk di samping Nelam mencoba menanyakan permasalahan yang sedang dialaminya.
"Kamu lagi berantem sama Aksa?"
Nelam menarik napas dengan panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. "Dia yang aku benci selama ini," ucapnya.
Aisyah memegang lengan bawah Nelam lalu menatapnya dengan lirih, "Harusnya orang yang kamu benci itu Vera."
"Aku sudah memaafkannya," ucap Nelam.
"Lalu Aksa? Kamu nggak mau maafin dia? Kamu terdengar gak adil."
Nelam malah terdiam. Perkataan itu bergelayut di otaknya. Memang manusiawi jika dia marah, tapi dia dikuasai oleh emosi. Bahkan dia tidak memikirkan Raka. Walaupun dia bersama ayah kandungnya, tetap saja Raka membutuhkan figur ibu. Apalagi Raka sedang dalam masa pertumbuhan.
"Kata Vera, waktu itu Aksa berniat menolongmu karena dia tidak tega melihatmu di ganggu para lelaki di club. Dia merasa kalau kamu pertama kali datang ke club. Dan dia melihatku memaksamu untuk membuka jaketmu, Aksa berpikir untuk menolongmu tapi dia khilaf karena tergoda oleh tubuhmu yang seksi dan wajahmu yang cantik. Sebagai lelaki normal, Aksa memanfaatkan situasi ini. Aksa bukan seperti yang kamu pikirin, dia juga baru pertama kali ke club karena diajak Debi. Dia juga mencarimu dan ingin menikahimu tapi kamu sudah pergi," jelasnya membuat Nelam meliriknyadengan lirih.
"Apa kamu berbohong supaya aku memaafkannya? kenapa kamu bisa tau semuanya?" tanya Nelam.
"Sebelum Vera meninggal, dia cerita semuanya sama aku, katanya dia mau bilang sama kamu, tapi Allah udah memanggilnya lebih dulu."
__ADS_1
"Apa aku harus memaafkannya?"
"Nelam, tidak baik menyimpan dendam, apalagi sama suamimu sendiri. Lagi pula, Aksa tidak ingin jujur karena dia gak mau kehilangan kamu."
"Aku sudah memaafkannya, tapi aku masih ragu untuk menerimanya. Aku belum melihat keseriusannya," ucap Nelam. "Aku mau ngontrak dekat sini."
"Sekarang udah malam Nel, kamu tidur di sini dulu, Mas Milan juga pulang malam."
"Makasih ya Aisyah."
Aisyah menghela napasnya dengan pelan. Karena melihat Nelam yang sedih seperti itu, dia bangkit dari duduknya dan membiarkan Nelam merenungkan semuanya. Aisyah berjalan menuju pintu keluar kamarnya membawa koper Nelam.
Aisyah membiarkan Nelam duduk sendiri, sedangkan dia mencari hand-phone Nelam. Pada akhirnya Aisyah bisa mendapatkan benda pipih itu.
"Hallo..."
"Aksa, Nelam ada di sini. Kamu ke sini, ajak dia pulang."
"Iya?! Nelam baik-baik aja, kan?!"
"Iya, dia lagi ada di rumahku, nanti aku share lokasi lewat WA."
"Baik, tolong kirim sekarang."
__ADS_1
***
Ceklek..
Aisyah yang sedang menyapu lantai itu terlonjak kaget melihat seorang lelaki masuk begitu saja ke rumahnya. Untung saja dia mengenalnya, kalau tidak dia sudah meneriakinya maling.
"Dimana Nelam?!" dia menanyakan dengan panik.
"Di kamarku, di sana," ucapnya menunjuk kamarnya.
Segeralah Aksa memasuki kamar tamu Aisyah. Setelah memasuki ruang kamar, Aksa langsung berjalan ke arah wanita hamil yang sedang duduk di sisi ranjang. Aksa memeluknya dengan cepat, air mata lolos begitu saja dari matanya.
"Maafin aku, jangan tinggalin aku," ucap Aksa. Nelam mengeratkan pegangan pada bahu Aksa, dia tidak bisa menahan air matanya. Nelam mendorong tubuh Aksa hingga pelukan mereka terlepas. Dia juga menggebuk-gebuk dada bidang Aksa.
"Aku membencimu tapi aku, hiks.. hiks.....,"
"Aku ...," ucap Nelam lagi.
"Aku mau menginap di sini," ucapnya lagi.
Aksa mengangguk, dia duduk di sisi ranjang lusuh itu. "Baiklah, kalau kamu belum mau pulang, aku juga akan menginap di sini."
Aksa memegang tangan Nelam, namun wanita itu menepisnya dengan kasar seakan merasa jijik pada pria di sampingnya. Padahal pria itu suaminya sendiri.
__ADS_1
***
Maaf ya.. belum tamat, yang kemarin ngerasa kesal, hehe... author cuma bercanda aja kok 😁✌