
"Tolong obati aku."
Nelam berjalan ke lemari P3k lalu duduk di sebelah Aksa.
"Ini luka sayatan pisau, apa kau berkelahi?"
Aksa memegang tangan kanan Nelam. "Aku berkelahi karena mu boleh?"
Nelam hanya tersenyum kecil. "Aku serius tau!"
"Aku memperjuangkan semuanya, aku mengurus semuanya, mereka pikir menjadi aku yang punya segalanya bisa membuat hidup bahagia."
"Ada yang melukaimu?"
"Orang tadi menyuruh orang lain untuk menyerangku."
"Kamu tidak apa-apa?"
"Aku bisa melawannya, aku jangan sampai lengah, untung saja aku gemar ilmu bela diri."
Nelam menyentuh pinggir kulit Aksa yang luka. "Tapi, ini lukanya cukup dalam."
Aksa memegang tangan Nelam. "Akan lebih dalam jika aku tidak mendapat hatimu."
"Kalau lukanya masih sakit, harusnya kamu ke rumah sakit untuk istirahat."
"Kalau berdua dengan mu, aku mau."
"Tapi, aku di sini untuk bekerja bukan untuk menemanimu."
"Aku mengerti, jadi aku lebih baik di sini, bekerja denganmu."
"Apa kamu selembut ini pada perempuan?"
Aksa tersenyum kecil. "Aku jarang terbuka dengan wanita, aku bukan tipe orang yang mudah suka pada wanita."
"Lalu, kenapa kau mau aku bekerja denganmu?"
"Karena dari awal aku sudah menyukaimu."
"Berarti kamu juga mudah suka pada wanita."
__ADS_1
"Tidak, hatiku baru merasakannya saat kau menamparku."
Nelam terkekeh. "Berarti kau bisa suka pada wanita kalau dia sudah menamparmu?"
"Kamu semakin cantik kalau sedang tertawa seperti itu," ujar Aksa. "Apa bahagia sesederhana ini?"
"Bahagia?"
"Tertawa dengan orang yang kita cintai."
"Maaf Pak."
"Saya tau, kamu sudah punya suami." Aksa memegang tangan Nelam lalu melihat luka di telunjuk tangannya. "Ini kenapa?"
"Aku tersayat besi wastafel."
Aksa meraih hansaplast lalu memakaikan benda itu pada jari Nelam yang luka, setelah itu Aksa menciumnya. "Cepet sembuh, ya."
Nelam segera menjauhkan tangannya yang dipegang Aksa, lalu dia bangkit berdiri. "Aku harus belajar lagi, Pak."
"Andai saja kau belum menikah, mungkin tidak ada jarak antara kita," ucap Aksa.
Aksa berjalan menuju kursinya, namun berhenti di meja Nelam melihat poto seorang anak laki-laki.
"Sudah, itu anakmu?"
Nelam tersenyum. "Dia duniaku."
Aksa meneguk salivanya dengan kuat. "Kamu begitu bahagia memiliki seorang anak. Sebenarnya aku juga ingin memiliki seorang anak. Aku ingin menjadi seorang Ayah."
"Kamu pasti bisa menjadi seorang Ayah."
Nelam tengadah melihat Aksa, lelaki itu berlinang bola matanya. "Kenapa Bapak jadi sedih seperti itu."
"Aku sedih karena kamu sudah memiliki anak, aku berharap bisa menikah dan mempunyai anak dengan mu."
Aksa berjalan menuju kusrinya. "Bolehkah aku bermain dengan anakmu?"
"Tentu boleh."
***
__ADS_1
"Oh hay, keponakan ipar!"
Rania, mantan istri Aksa duduk di kursi Rayhan. Untuk apa dia ke kantor Rayhan malam ini?
"Sudah resmi bercerai?"
"Aku sudah pusing memikirkannya!"
"Kamu terlalu bodoh, gimana bisa kamu tidur dengan lelaki lain?"
Rania menggebrak meja. "Aksa belum pernah menyentuhku semenjak satu tahun lalu kita menikah."
"Kenapa?"
"Dia bilang tidak mau menyentuh wanita sepertiku, dia tau kalau dulu aku sering tidur dengan lelaki lain."
"Sekali pun tidak pernah? Waw, menakjubkan!"
"Tidak, dia bahkan kasar padaku, mendorongku karena aku menggodanya. Aku tidak tahan, aku cek in dengan pria lain di hotel."
"Harusnya kau tau konsekuensinya jika kau selingkuh, gimana ini, aku sulit menghancurkannya."
Rania melihat handphone-nya. "Kamu tau sekretaris baru Aksa?"
"Iya, dia jauh lebih cantik dan muda darimu."
"Sialan, ternyata seleranya berkelas."
"Aku saja langsung mengaguminya."
"Kau harus mendekati sekretarisnya, sepertinya Aksa menyukainya. Karena titik kelemahan Aksa adalah wanita yang dia cintai."
"Aku punya cara lain, kamu pergi dari sini!"
"Kenapa kamu mengusirku, Rayhan!"
"Kamu gak berguna, sudah pergi sana!"
Rania bangkit dari duduknya dengan kesal. "Awas kalau kau minta bantuan ku!"
"Aku tidak akan meminta bantuanmu!"
__ADS_1
***
Vote dan komennya yang banyak ya.. :')