SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
hamil?


__ADS_3

Satu bulan berlalu setelah pernikahan Nelam dan Aksa. Keluarga ini sangat harmonis dan bahagia. Jika sedang ada kesalahpahaman, Aksa yang selalu mengalah dan meminta maaf. Itulah yang membuat mereka bahagia. Mereka saling percaya dan berkomitmen untuk membangun keluarga yang bahagia.


Nelam telah menidurkan Raka. Dia berjalan menju kamar. Matanya melirik jam dinding yang sudah menunjuk ke angka 8. Nelam memegang kepalanya tiba-tiba perutnya merasa mual. Nelam berlari menuju wastafel.


Nelam muntah tanpa henti dalam beberapa detik.


"Apa aku hamil?" Gumam Nelam. Dia berlari menuju kamar mandi.


***


Nelam memegang benda kecil. Tangannya gemetar melihat dua garis merah yang menandakan bahwa dirinya kini telah hamil. Nelam menghela napas dengan pelan.


"Aku benar-benar hamil. Aku mengandung anaknya Aksa. Dia benar-benar akan menjadi seorang ayah."


Tok. Tok.


"Sayang, kamu ada di sana?" Panggilan itu membuat senyum Nelam mengembang. Segeralah dia membuka pintu. Tanpa jeda, wanita itu memeluk suaminya dengan mesra. Aksa hanya terdiam, entah ada apa dengan istrinya ini.


"Aku punya hadiah untuk kamu."


Aksa mengerutkan keningnya. "Apa?"


"Aku--" katanya membuat Aksa penasaran. Aksa mengangkat bahunya.


"Aku hamil," ucap Nelam membuat Aksa tertegun kaget.


"Yess! Benarkah?!" Ucap Aksa bersemangat.

__ADS_1


"Iya, aku sedang mengandung anakmu. Kamu akan mempunyai keturunan."


Aksa memeluk tubuh Nelam dengan erat. Senyumnya mengembang sempurna.


"Bukankah aku memang sudah punya keturunan denganmu. Sekarang aku harus mempersiapkan untuk anak kedua. Aku akan lebih memanjakanmu. Aku ingin menebus dosaku karena dulu aku tidak ada saat kamu mengandung anak pertama kita," batin Aksa.


***


"Rumahnya gede banget, Ka."


Nelam membawa koper sang adik ke kamar tamu di lantai bawah, namun menyuruh Reno menghampiri Aksa. Raka memeluk pamannya dengan cepat.


"Om Eno jangan pelgi.."


Aksa meraih segelas air putih dan meneguknya menyisakan setengah dari gelas itu. Aksa menyimpannya kembali. Aksa menatap ke arah Reno.


"Pokoknya, nanti Kakak transfer uang buat kamu di sana. Belajarlah dengan rajin," Aksa menasehati.


"Jangan sungkan seperti itu."


Nelam kembali dengan membawa sebuah poto. Dia duduk di dekat Reno dan menyodorkan poto itu. Poto Ibu, Ayah, Nelam, Reno, dan Bang Doni tersenyum bahagia di poto itu. Mata Reno berkaca-kaca.


"Bawalah ini," ucap Nelam.


"Aku ingat sekali saat ibu sakit. Dia berpesan padaku agar menjadi anak yang pintar dan bisa melindungi kakakku. Kita bisa bertahan walaupun kita tidak punya apa-apa. Dan sekarang, aku harus ninggalin kakak sama Raka. Kak Aksa, aku nitip Kak Nelam sama Raka," jelas Reno membuat Nelam ikut meneteskan air mata. Nelam memeluk adiknya lagi.


Sungguh, perpisahan ini sangat berat, tapi Nelam ingin Reno menjadi orang yang pintar dan sukses. Ini adalah jalan untuk Reno, karena dulu Nelam membawanya sengsara.

__ADS_1


"Belajar yang rajin, ya. Kakak mau nganterin kamu ke bandara."


"Gak usah, Kak. Kalian pasti masih cape. Aku sendiri aja, tapi aku boleh ngajak Raka jalan-jalan sebentar gak ke taman di depan?" tanya Reno membuat Raka bangkit dari duduknya dan melompat senang.


"Ayo Om Eno!" Ucap Raka bersemangat.


"Yaudah, jangan jauh-jauh."


Reno sudah menggendong Raka. Aksa berjalan dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dia mencium bahu Nelam dengan mesra. Aksa menempelkan tangannya di kaki dan leher untuk menggendong Nelam. Dia menggendongnya ala bridal-style. Dia menempatkan Nelam di sofa panjang dan lebar yang berada di ruang tamu.


Aksa menaruh Nelam dengan posisi tertidur, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Nelam. "Apa aku harus melakukannya di sini?" jahil Aksa membuat Nelam mendorongnya. Nelam bangkit dan memilih posisi duduk. Orang ini bisa nekat, menurutnya. Aksa menaikan dirinya dan menidurkan dirinya di sofa. Kepalanya di sanggah oleh paha Nelam.


"Sewaktu menikah dengan Rania, aku tidak pernah seromantis ini. Karena kita tidak saling mencintai," jelas Aksa.


"Dia begitu ambius untuk mendapat semua hartaku."


"Kamu mau punya anak berapa?" tanya Nelam membuat Aksa bangkit lalu menatap Nelam bersemangat.


"Aku ingin punya lima anak. Kita harus rajin, yuk ke kamar sekarang."


Nelam menghembuskan napas pelan. "Bisa pelan-pelan tidak?"


"Aku janji, pelan-pelan dulu."


"Masih sakit tau."


"Nanti juga enggak sakit."

__ADS_1


***


vote dan komen ya..


__ADS_2