SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Siapa dia?


__ADS_3

...Menghilanglah sementara, jika dia tidak kehilangan, maka menghilanglah untuk selamanya - Milan....


***


Milan menunggu Nelam pulang, sekarang sudah jam 10 malam. Milan keluar rumahnya karena bosan daritadi dia hanya menonton TV bersama dengan Reno dan Raka. Milan mengintip di jendela, bahkan bosnya itu berani mencium kening Nelam lalu mengusap pucuk kepalanya, sungguh hancur hati Milan. Dia tidak bisa apa-apa, membiarkan hatinya digerogoti rasa cemburu, dia hanya sabar.


'Level tertinggi dalam mencintai yaitu ikhlas,' batin Milan.


Tanpa sepengetahuan Nelam, Milan pergi dari arah kiri, mungkin Nelam tidak sadar akan kehadirannya.


***


Nelam menaruh tasnya kemudian naik ke atas kasur untuk mencium buah hatinya. Balita tampan itu sudah tertidur sangat pulas.


"Gimana, makannya lahap gak?"


Reno sedang menonton TV di lantai, lalu menyahut pertanyaan Nelam. "Banyak kok," ujarnya. "Tadi Kak Doni kesini."


"Mau ngapain?"


"Gak tau, tiba-tiba mereka jadi baik gitu."


"Biarin."


"Emangnya Kakak gak sakit hati, tiga tahun yang lalu mereka fitnah kita, maki kita."


Nelam meneguk air di dalam botol lalu mengusap kepala Raka. "Itu udah masa lalu, Ren. Yang penting sekarang kita berkecukupan. "


"Malem ini Kakak gajian?"


"Iya Ren, bayar SPP udah belum?"


"Kak Aksa minta rekening aku, dia bayarin SPP, bayarin aku les, bahkan mau daftarin aku ke kampus yang elit."


Nelam menunjukan raut wajah tidak suka. "Kenapa kamu gak bilang sama Kakak!"


"Kak Aksa yang nyuruh, katanya Kakak sering nolak pemberiannya."


"Apalagi yang Aksa kasih."


"Dia transfer ke aku sepuluh juta buat jajan Raka sebulan," ujarnya membuat mata Nelam melotot. "Tadinya aku gak bakal ngomong ke Kakak, tapi malah bikin aku tertekan ngumpetin ini."


"Reno, nanti Kakak jadi hutang budi sama Pak Aksa, kamu harusnya ngomong dulu."


"Ya maaf Kak."


"Nanti Kakak ngomong ke Pak Aksa, mau Kakak balikin uangnya."

__ADS_1


"Kan Pak Aksa ngasih Kak, bukan kita minta."


"Tetep aja Ren, nanti Kakak jadi gak enak."


***


Nelam memasuki ruangan yang banyak komputer dan meja berjajar rapi. Ini ruangan para staf, Nelam ada tugas pagi ini. Dia duduk di dekat Eva.


"Akhirnya, selesai juga Bu, emang ya, Ibu tuh otaknya pinter banget, kayaknya kuliahnya enam tahun."


Nelam hanya tersenyum kecil. "Aku gak kuliah."


Eva melohok, Nadya yang mau duduk akhirnya menjatuhkan bukunya ke lantai.


Eva membetulkan kacamatanya. "Tapi Ibu pinter loh."


"Pak Aksa udah daftarin aku kuliah online, sekarang aku sedang kuliah."


"Semangat Bu, kapan-kapan kita boleh main ke rumah Ibu dong."


"Gak papa, Eva kalau kamu mau main."


"Bu, numpang makan ya," ucap Nadya.


"Iya, nanti aku masak."


Aksa tiba-tiba muncul membuat semua duduk rapi dan berpura-pura sibuk dengan pekerjaan, padahal tadi mereka mengobrol. Aksa memegang tangan Nelam membuat wanita itu bangkit dari duduknya. Aksa kenapa, tiba-tiba dia terlihat dingin pada Nelam.


Aksa membawanya menjauh dari ruangan itu, saat di lorong kosong Aksa berhenti, dia menempelkan tubuh Nelam ke tembok lalu menatap wajah Nelam dengan serius.


"Ke-kenapa?" tanyanya gugup, Nelam melengos dia malah terlihat takut pada Aksa.


"Masih tanya kenapa, hm?"


Nelam mencoba mendorong tubuh Aksa namun tidak bisa. "Kenapa lagi?"


"Aku gemas, ingin menggitmu."


Nelam mengerutkan keningnya. "Nanti karyawan mu melihat! Apa-apaan sih!" protesnya tidak terima.


"Biarkan saja, di sini sepi."


Nelam terdiam, Aksa semakin mengamati wajahnya. "Aku tidak pernah kehilanganmu, karena selama ini aku tidak memilikimu."


Nelam gerogi, lalu melihat mata Aksa. "Kamu memang tidak memiliki, tapi kamu berhak menagih cintaku."


"Berarti kamu mau nikah sama aku."

__ADS_1


"Waktu bisa saja menyatukan kita, tapi waktu juga bisa memisahkan kita."


"Lantas?"


"Aku hanya butuh waktu."


"Apa kamu trauma karena pernah gagal berumah tangga?"


Nelam menggeleng. "Aku hanya belum siap."


"Baiklah tidak apa-apa," ucapnya.


Aksa mengangkat kedua tangan Nelam lalu menempelkannya ke tembok. "Sekarang aku hanya ingin menggitmu karena aku vampir."


"Pak! lep-"


empttt-


Aksa menyumpal mulut Nelam dengan mulutnya, Nelam menguatkan tangannya namun cekalan tangan Aksa lebih kuat.


Setelah berciuman, Aksa memegang dagu Nelam. "Aku ingin memilikimu, bagaimana pun caranya."


Prok..


Prok...


"Aku mencarimu tapi kamu malah di sini dengan sekretarismu."


"Kenapa! Pergi sana, ganggu saja!"


"Aku sudah menemukan wanita yang aku tiduri dulu," ucap Debi.


Nelam melotot tidak percaya, jantungnya berdebar dengan kencang. Dia cemas, tiba-tiba Nelam merasa mual.


"Siapa?"


"Kau tidak perlu tau, ini rahasiaku."


"Terserah!" balas Aksa singkat.


Nelam berlari dengan kencang meninggalkan mereka berdua.


"NELAM!" panggil Aksa, kemudian menyusulnya.


***


Vote dan komen ya..

__ADS_1


Semakin menegangkan part ini yaaaaa..


__ADS_2