
Nelam menunduk dan mengambil tasnya. Di atas meja sudah ada beberapa kertas kecil bertulisan.
Selamat tinggal *****...
Mama muda, Papanya gak ada..
Sampah tetaplah sampah!
Jangan mengotori ruangan kelas kita lagi!
Dengan berat hati, Nelam berjalan keluar dari kelasnya. Sungguh, selangkah lagi dia akan lulus, tapi apa daya seorang Nelam. Sekarang dia sudah tidak punya mimpi, masa depannya pun tidak jelas.
Vera yang sedang menunggu Nelam di lawang pintu pun terlihat merasa senang. Apa Vera merasa tidak puas melihatnya menderita, jika malam itu Vera tidak menjebak Nelam, kejadian ini tidak akan terjadi.
Dia menangkis kaki Nelam, karena lesu Nelam pun terjatuh begitu saja. Milan pun datang dan membangunkan Nelam. Menatap Vera tajam, tak lama Danu pun menghampirinya.
"Nelam, kamu yang kuat ya, maafin aku yang udah punya salah sama kamu." Tutur Danu yang menyadari kesalahannya.
Nelam mengabaikan perkataannya. Dia lari menjauh dari kelas itu. Dia harus pulang untuk sekarang dan dia tidak akan menginjakan kakinya di sekolah itu lagi.
Nelam berhenti di depan kelas, dan teman-temannya melihat ke arahnya dari jendela. Tetap saja, tatapan jijik itu yang mereka berikan.
"NELAM!" panggil Aisyah.
Aisyah menahan tangan kiri Nelam, begitu pun Milan yang tak sengaja memegang tangan Aisyah, Nelam melihat Milan dan Aisyah yang sedang bertatapan kemudian Milan menjauhkan lengannya.
"Nel, jangan pergi."
Nelam tersenyum lalu menyeka air matanya. "Tugas aku udah selesai, aku udah dapet banyak ilmu di sini Mil."
"Tapi Nelam, aku bakal ngomong ke Mama aku, siapa tau Mama bisa bujuk kepala sekolah."
__ADS_1
"Enggak i, aku mau pulang aja, perut aku juga sakit."
"Mau aku antar dulu ke dokter?"
"Gak usah I, aku pulang duluan ya."
Nelam berjalan menjauh dari mereka menuju gerbang sekolah. Pipnya terlanjur basah, dan air matanya terlanjur jatuh untuk ke sekian kalinya.
***
"Aku adalah butiran debu. Mereka sangat membenciku. Hewan saja mereka sayangi, tapi aku lebih hina dari hewan. Aku tidak pernah menyangka akan sesulit ini aku menjalani hidup tanpa orang tuaku. Aku tidak tau, kemana lagi aku harus melangkah dengan anak ku. Hiks.. Hiks.. " Nelam bergumam di depan pagar sekolah, memandangi tempat yang akan membawanya ke masa depan yang cerah, namun sudah pupus.
"Ibu, Ayah.. maafin Nelam. Mungkin kalau kalian masih hidup, kalian malu punya anak kayak Nelam.. hiks.. hiks.." Nelam masih menangis, walaupun terlihat lesu, dia memantapkan hatinya untuk berjalan menuju rumahnya.
Panas terik matahari menemani langkahnya. Nelam menunggu angkutan umum, namun tidak ada satu pun yang datang. Nelam yang sedang hamil itu memberhentikan langkahnya saat melihat warung minuman seperti aqua, sprite dan sejenisnya.
Nelam meneguk salivanya dan mengusap perutnya, "Kamu haus ya bayi, tapi Mama harus berhemat buat biaya persalinan." Gumamnya. Walaupun hanya lima ribu, Nelam tidak berani membelinya.
Terlihat di sebelah kanan jalan raya, angkutan umum akan melintas. Nelam sudah mengulurkan tangannya. Mobil angkot berwarna biru itu berhenti di hadapannya dan akhirnya Nelam memasukinya.
***
Nelam melamun, memikirkan apa yang terjadi barusan. Reno menjentikkan jarinya di depan wajah Nelam membuatnya mengedipkan matanya. Nelam berusaha untuk menutupi risau dan khawatirnya.
"Iya, ada kok kalau cuma dua ratus ribu."
Reno merasa lega, namun Nelam masih berpikir. Memikirkan biaya persalinannya dan juga kelanjutan hidupnya. Tak lama telponnya bergetar.
'Pak Hans'
'Mungkinkah dia akan memberiku pinjaman.' Batin Nelam.
__ADS_1
Hallo Nel..
Iya, pak.
Bapak denger kamu lagi hamil. Kamu diberhentikan dulu, sampe kamu melahirkan, ya. Soalnya badan kamu gak kelihatan bagus lagi.
Tapi pak..
Tut.. tut...
Begitulah Pak Hans, yang selalu mencari keuntungan dari biduannya tanpa mau mendengarkan keluh kesah dan kepahitan hidup yang dirasakan orang lain. Baginya, yang terpenting adalah uang.
Nelam menghela napas panjang, Reno menatap kakaknya iba. "Kak, pasti kakak mikirin biaya persalinan, ya." Tebaknya namun Nelam menggeleng, mencoba tegar.
"Reno bakal cari pinjeman."
Nelam menggeleng. Dia mengusap bahu Reno.
"Gak usah, pokoknya kamu jangan mikirin soal biaya."
Reno mengusap perut Nelam. "Dede bayi, kamu laper ya, paman beliin kamu bubur ya."
"Ada uangnya Ren?"
"Ada Kak, Reno abis dapet uang hasil bersihin kebun Pak Tatang."
"Ren, tugas kamu cuma belajar, supaya kamu pinter, gak kayak Kakak."
Reno mengernyitkan dahinya. "Maksud Kakak?"
Nelam panik, mencoba berbohong agar Reno tidak tahu kalau dia sudah dikeluarkan. "I-itu.."
__ADS_1
***
Vote dan komen ya, supaya cepet update.