
...Mencintai itu sewajarnya saja, karena yang hadir belum tentu takdir....
***
Sudah dua jam Nelam menghabiskan waktunya di ruang staf, kemudian ada pekerjaan lain juga yang menunggunya. Harusnya hari ini dia benar-benar fokus karena akan ada relasi.
Nelam berjalan menuju ruangan Aksa, namun atasannya itu malah berjalan ke arahnya. Nelam mengernyit, kemudian berjalan ke arah Aksa hingga mereka berada di titik temu.
Aksa mengusap pucuk kepala Nelam. "Kerja bagus."
Nelam tersenyum, akan tetapi bau parfum Aksa mengingatkannya akan Debi yang pernah memperkosanya. Nelam tidak mencurigai Aksa, karena dia tidak mungkin melakukan hal itu. Karena tahu Aksa itu orangnya seperti apa.
Hingga saat ini, Nelam belum bisa lupa kejadian itu. Nelam kesal karena Debi seakan-akan tidak tau menau akan hal ini. zPikirnya, Debi hanya meniduri, membayar dan melupakan peristiwa itu. Sungguh, Nelam belum ikhlas. Yang pasti, Nelam ingin segera menjauh dari tempat ini, namun Aksa menahannya.
"Aku mewakili Debi, meminta maaf padamu."
Nelam semakin memanas, mendengar namanya saja sudah membuatnya beramarah. "Tapi kenapa kamu yang meminta maaf?"
"Karena aku Kakaknya."
"Ini bukan salahmu, jangan meminta maaf."
Aksa meraih tangan Nelam. "Aku mencintaimu, maafkan aku jika aku mencintaimu."
"Mencintai itu bukan kesalahan, gak perlu mendapat permintaan maaf."
"Apakah kamu sangat membenci dia? Lelaki yang menidurimu?" tanyanya dengan lirih.
__ADS_1
Nelam menunduk lalu menatap wajah Aksa kembali. "Aku benci, aku gak mau liat dia dimuka bumi ini."
"Kau benar-benar ingin pergi dari hidupnya? Bukannya kesalahan dimasa lalu itu harus dilupakan?"
Nelam tersenyum hambar. "Melupakan masa lalu yang pahit itu gak semudah membalikan telapak tangan."
Nelam melengos. "Berjuta benci dan berjuta sakit yang dia berikan."
"Lalu, apa kau pernah melihat Rayhan di club malam?"
"Ya, lima tahun yang lalu."
flashback
Nelam melihat sekelilingnya, kemudian seorang pria menarik tangannya.
"Kau cantik sekali, ayok minum denganku," ucapnya.
Vera menghampiri dan menepis tangan pria itu. "Menjauhlah! Sebelum aku tebis tanganmu!"
Dan pria itu bernama Rayhan Mahendra, pamannya Aksa. Pria itu memang suka bermain wanita di club malam.
Flas back end.
Aksa melihat mata Nelam yang berkaca-kaca. "Mungkin kamu butuh istirahat, kamu ke UKS saja."
Nelam meninggalkan Aksa setelah memberinya anggukan.
__ADS_1
Aksa berjalan menuju ruangan Debi. Dia hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Debi sedang bermain game di kursinya. Tawa kecil Debi itu seakan menajamkan penglihatannya.
"Direktur macam apa kau ini."
Aksa duduk di sofa kecil dengan meja Debi. "Pekerjaanmu masih banyak!"
"Baiklah Pak direktur utama."
Debi menaruh ponselnya kemudian menarik kursinya agar lebih dekat dengan Aksa. Matanya menelisik kemudian dia menunjuk wajah Aksa.
"Sepertinya Anda sedang jatuh Cinta."
Aksa mendecak. "Tau apa kamu anak kecil!"
"Sama Nelam, kan?"
"Apa dia Cinta pertamamu."
Aksa mendengus kesal kemudian menjilat bibirnya yang kering.
"Kau kan sudah tau wanita yang ku tiduri, lalu kau? Apa kau sudah menemukan wanita yang kau perkosa dulu? Apa kau sudah menemukannya, karena dia kau tidak mau menikahi wanita lain."
Aksa mengernyitkan keningnya. "Kau tak perlu tau!" balasnya dingin.
"Kalau kau menemukan wanita itu apakah kau akan melupakan Nelam?" tanyanya dengan posisi wajah lebih di dekatkan ke Aksa sambil menampilkan puppy-eyes.
Namun dalam berberapa detik pandangan Debi berubah. "Nelam?" tanya Debi melotot melihat Aksa tidak percaya.
__ADS_1
***
Vote dan komen ya.. supaga cepat berlanjut,