
...Pada akhirnya, kita saling menyakiti. Dan kamu, menghancurkanku hingga hancur lebur. -Nelam...
***
TOK..
TOK..
"AKU TAU INI BERAT BAGIMU, TAPI AKU MENYESAL. AKU TAU RAKA ANAK KANDUNGKU, AKU TAU KAMU MENDERITA SELAMA INI! MAAFKAN AKU!"
Aksa putus asa, menyandarkan tubuhnya pada badan pintu, lalu tubuhnya turun perlahan. Dia berjongkok frustasi atas kejadian ini. Tidak menyangka, rahasia besarnya terbongkar.
Raka menghampiri ayahnya. Anak itu mengusap kepala Aksa. Namun Raka terlihat sangat menyedihkan. Sosok polos yang tidak tau apa-apa ini, ikut terenyuh dan terbawa suasana. Aksa mendongak melihat Raka, dia memeluknya. Aksa menggendong lalu mengangkat Raka. Nelam masih di dalam, membuat Aksa khawatir.
"NELAM, MAAFKAN AKU! AKU AKAN MENEBUS DOSAKU PADAMU!"
Crek..
Ceklek.
Keluarlah Nelam dengan tas gendong berwarna coklat, baju polos putih selutut. Matanya memerah karena kemarahannya. Nelam juga membawa sebuah payung. Aksa semakin panik. Aksa tidak akan menyerah begitu saja, apalagi membiarkan Nelam pergi dengan keadaan hamil dan di luar juga hujan deras, Aksa tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
"Mama.. Hiks.. Hiks.."
__ADS_1
Raka mengulurkan tangannya berharap Nelam menggendongnya. Tapi Nelam menatapnya dengan lirih, lalu tidak ingin menatap wajah Aksa. Aksa menahan tangan Nelam lagi.
"Aku mohon, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku dan Raka. Kamu juga sedang hamil anak kita. Aku mohon, ampuni aku."
"Aku sudah berjanji pada diriku. Aku tidak ingin bertemu dengan ayahnya Raka lagi, dan aku tidak bisa menjalani kehidupan denganmu. Aku telah memaafkanmu, tapi biarkanlah aku pergi. Aku menitipkan Raka padamu karena kamu ayahnya. Kamu bisa menjamin masa depannya. Sayangi dia sama seperti aku menyayanginya. Talak aku, biarkan aku hidup dengan anak keduaku. Jangan ganggu kehidupanku lagi."
"Jangan! Jangan tinggalkan kita, aku mohon! Ampuni aku."
"Mama.. Hiks.. Hiks.. Janan pelgi!"
Mendengar suara Raka membuat hati Nelam sangat sakit. Nelam harus menyerahkan Raka pada Aksa, walaupun dia belum rela. Nelam tidak bisa membesarkan Raka sampai dewasa. Ini pilihannya. Nelam sudah terlalu sakit karena Aksa.
Nelam berjalan ke arah pintu keluar. Hujan di luar sangat deras, entah kemana Nelam akan pergi. Aksa menurunkan Raka.
Raka hanya memeluk robotnya dengan tangisannya yang kencang.
***
Nelam sudah membuka pintu rumah. Hujan memang sangat deras, Nelam membuka payungnya, Nelam sudah berjalan ke tengah hujan, Aksa berlari hingga menahan tangan Nelam dengan erat. Baju Aksa sedikit basah, lalu dia terduduk memohon di depan Nelam. Aksa sosok terhormat ini bisa sangat rendah karena seorang wanita.
"Kamu boleh menamparku sampai kamu puas. Tapi maafkanlah aku, aku benar-benar menyesal."
"Biarkan aku pergi, jangan menahanku lagi. Kalau kamu mengejarku, aku akan berdiri di tengah jalan dan kamu akan melihat istri dan anakmu mati. Aku bersungguh-sungguh."
__ADS_1
Aksa menggeleng dengan lesu. Dia bangkit berdiri, lalu memegang kedua bahu Nelam. Aksa yakin, Nelam akan berbuat nekat seperti itu jika dia mengekangnya.
"Baiklah.., jaga dirimu baik-baik. jangan sakiti dirimu dan anak kita. Jika ini keputusanmu, aku bisa terima. Aku akan menjaga Raka dengan baik. Tapi aku akan selalu mencintaimu sampai mati, sungguh sampai saat ini, aku masih mencintaimu. Jagalah anak kita, jika kamu sudah memaafkanku, kembalilah padaku dan lupakan semuanya."
"Aku sudah berjanji tidak akan hidup dengan mu. Aku akan menjalani hidupku sendiri seperti dulu. Dan akan membesarkan anak kita sendiri."
"Izinkan aku menciummu untuk terakhir kali. Aku.. Berat untuk melepasmu."
"Gak bisa! Aku membenci sama kamu!"
Nelam menggebuk-gebuk dada Aksa dengan isak tangis yang terdengar menyakitkan.
Dimana Aksa yang seenaknya menidurinya dengan paksa, lalu meninggalkannya begitu saja. Nelam mengingat dirinya yang dicaci oleh tetangga, bahkan ingat saat dia melahirkan Raka sendiri. Nelam mendorong tubuh Aksa, lalu menyeka air matanya.
Nelam berjalan menjauh dari hadapan Aksa sembari menarik kopernya. Aksa basah kuyup diguyur hujan. Aksa bagaikan berdaging tapi tak bertulang, dia terduduk lesu meruntuki dirinya.
"Nelam! Aku mencintaimu! Aku membenci diriku!" Teriak Aksa sambil terduduk lesu, Nelam menengoknya sebentar, lalu melanjutkan langkahnya. Aksa tidak berani mengejarnya, dia takut Nelam benar-benar akan nekat.
Raka ada di lawang pintu memegang robotnya, dia berlari untuk menyusul Mamanya, tapi Aksa segera menangkapnya dan menggendongnya.
"MAMA! hiks.. hiks.." Raka menangis histeris.
...Ini adalah takdirku. Aku harus hidup sendiri lagi tanpa seorang suami. Tapi mungkin ini cara tuhan agar aku bisa menjadi wanita yang lebih kuat lagi. Aku mencintainya, tapi aku tidak bisa hidup dengannya. Masa lalu memang sudah berlalu, tapi rasa sakit akan terus membekas di hatiku. Saat cinta membuatku terperangah, aku akan mementingkan harga diriku bukan cinta. Aku dan anakku, kita akan bersama. Biarkanlah seperti dulu, anakku tidak akan pernah bertemu ayahnya lagi. Walaupun aku akan sangat merindukan Raka, tapi aku yakin Raka bisa tumbuh dengan baik. Wanita harus mandiri dan kuat sepertiku, dan jika kalian berpikir aku egois. Itu terserah kalian, tapi aku tidak bisa membiarkan diriku larut dalam rasa sakit- Nelam. ...
__ADS_1