
Aksa membawa buku tebal, ada lima buku lalu dia letakkan di atas meja Nelam. Lelaki itu menarik kursinya untuk mendekat ke kursi Nelam.
"Ini buku yang bisa kamu pelajari."
"Semuanya?"
"Iya, kalo misalkan kamu gak sanggup, jangan baca semua."
"Enggak, saya sanggup."
Nelam dengan semangat membuka bukunya. Aksa malah memandangi wajah cantik Nelam, hingga wanita itu malah gerogi, jika ada lelaki mendekatinya Nelam selalu saja menjauh, mungkin trauma.
"Pak, gak enak kalo yang lain liat, nanti salah paham."
"Biarkan saja, tidak akan ada yang berani menentangku."
"Ba-baik Pak."
"Jangan panggil Bapak, kita cuma beda lima tahun."
"Gak enak lah Pak, Bapak kan atasan saya."
"Kalo di luar, panggil saya Kakak."
Nelam mengangguk lalu melihat bukunya lagi. "Ini maksudnya apa ya."
"Itu gak perlu kamu pelajari, itu sulit nanti saja."
"Kenapa Bapak ngeliatin saya terus?"
"Kamu sudah menikah?"
"Bukannya kita sedang bekerja, gak enak ngomongin masalah pribadi."
"Tak apa-apa, gak ada yang marahin kamu, di sini saya penguasa, kalo ada yang marahin kamu, bilang ke saya."
Nelam melihat Aksa, dia melihat mata Aksa.
'Kenapa mata itu mirip,' batin Nelam.
"Kenapa? Kamu terpesona dengan ketampanan saya?"
Nelam salah tingkah lalu mengalihkan pandangannya.
"Eh, enggak."
"Produksi gula saat ini turun."
"Turun? Kenapa bisa?"
"Bukannya 5 ton itu kamu."
"Maksud Bapak saya gula?"
"Itu kamu paham."
'Apa-apaan dia, baru bertemu sudah menggombal, dasar playboy, kalo bukan karena Reno dan Raka, mending aku kerja di Pak Hans aja walaupun gaji kecil,' batin Nelam.
__ADS_1
"I-iya Pak," balasnya canggung.
"Sekarang kamu antarkan berkas ini pada Pak Debi, wakil direktur utama."
Nelam bangkit dan memegang berkas itu, namun Aksa masih memegangnya.
"Debi sangat buas pada perempuan, kamu harus cepat sebelum dia menerkam mu."
"Menerkam?"
Nelam meneguk salivanya dengan kuat lalu membawa berkas itu.
Sepanjang jalan, Nelam terus menerka perkataan Aksa, maksudnya apa? Debi harimau?
Nelam memasuki ruang kerja milik adiknya Aksa. Pria tinggi itu sedang berdiri sembari menonton pertandingan tinju, santai sekali kerjanya, tidak seperti Aksa yang selalu berkutat dengan pekerjaannya. Ini ruang direktur apa ruang keluarga, pikir Nelam.
"Permisi."
Nelam berdiri di depan Debi lalu menyodorkan mapnya. "Bapak disuruh tanda tangan oleh Pak Aksa."
Debi menaikan alis kanannya, lalu menarik tangan Nelam hingga tubuhnya mendekat.
"Aku suka tubuh dan wajahmu."
"Pak, tolong lepasin."
"Aku mau cium kamu."
Nelam menjauhkan tubuh Debi yang mencoba mencium bibirnya. Nelam meronta dan mencoba melepaskan pegangan tangan Debi di pinggangnya.
"Pak, saya gak jual diri!"
Debi memegang pipi kiri Nelam lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Nelam namun seseorang menarik jasnya dari belakang.
"Mau mati?" tanyanya dingin. "Sampai kamu gak peduli kalo saya masuk."
"Oh hay Kak! Aku lagi mau olahraga, kamu malah dateng."
"Sentuh dia, kita adu tinju."
Debi tersenyum canggung lalu mencolek dagu Nelam. "Kalo gak ada Kak Aksa, aku nidurin kamu boleh kan?"
"Jangan omonganmu Debi!"
"Kenapa kamu marah gitu Kak! Kalo dia mau kan aku tinggal bayar, iya kan cantik?"
"Jangan sama kan dia dengan yang lain!"
Aksa memegang kerah kemeja Debi, menatapnya dengan amarah.
"Ma-maaf, saya izin keluar."
Nelam keluar ruangan Debi, Aksa melepaskan tautan tangannya lalu berlari menyusul Nelam. Aksa menahan tangan Nelam di luar ruangan.
"Jangan diambil hati."
Nelam menyeka air matanya.
__ADS_1
"Ngapain nangis?"
"A-aku cuma ingat kejadian dulu, jadi aku menangis."
Nelam melihat ke lantai bawah, tangannya bersedekap ke besi pegangan. Aksa di sisinya lalu menghembuskan napasnya pelan.
"Kamu pernah jual diri? Tidak apa-apa cerita saja sama saya."
"Enggak, hidup aku dulu sangat pahit."
"Apa kamu kesulitan ekonomi? Saya akan transfer, butuh berapa ratus juta?"
Nelam menggeleng. "Enggak Pak, saya paling gak suka terima uang dari orang lain, saya lebih suka makan hasil kerja sendiri."
""Yasudah, kalo kamu mau nangis, nangis saja."
"Saya sering nangis, jadi kalau sedih saya gak ngeluarin air mata lagi."
"Saya ngertiin kamu."
"Apa orang kaya kayak Bapak sering merasa sedih?"
"Saya banyak stress, mikirin kerjaan, saya terlalu ambisius, saya hanya butuh Cinta dan ketulusan seorang perempuan."
"Bapak sudah menikah?"
Aksa tersenyum kecil. "Ya, sudah. Tapi akan segera bercerai."
"Kenapa?"
"Saya dikhianati, walaupun saya tidak Cinta dia, rasanya sakit mendapat pengkhianatan."
"Bapak tidak mikirin nasib anak Bapak kalo kalian bercerai?"
Aksa tersenyum kecil. "Saya ingin sekali memiliki anak, namun Rania tidak hamil. Karena semenjak pernikahan, kita jarang serumah."
"Kenapa?"
"Pertama karena dia pernah mabuk dengan pria lain, dan yang terakhir dia tidur dengan lelaki lain."
"Bapak kuat juga ya."
"Mungkin nanti saya akan menemukan wanita yang mencintai saya dengan tulus."
"Pasti Bapak menemukannya."
"Saya ingin bertanya ini padamu."
"Apa?"
"Apa kamu sudah menikah? Kalau sudah jangan jawab pertanyaan saya, kalo belum jawab belum."
"Saya..."
***
Vote dan komen yang banyak supaya semangat update nya!
__ADS_1