
Ini jalannya buat pisah, jangan dipaksa.-Nelam.
Malam ini sekitar pukul 7 lewat, Nelam menggendong Raka di depan rumah. Bayi mungil itu terus memandang wajahnya.
"Sayang, uh.. cup.. cup... Tidur ya, nak... cup.. cup ..." Nelam dengan kegemasannya. Lagi-lagi dia mencium bayinya. Siapa saja yang telah melihat bayi itu, akan membuat kesan gemas tersendiri.
Seseorang berdiri di hadapannya, membuat Nelam tengadah melihat sosok pria tinggi. Pria itu menampilkan puppy eyes-nya.
"Kamu kok bisa tau kalau aku di sini?" tanyanya terheran. Nelam sama sekali tidak mengabari Milan, dia tidak mau pria ini menolongnya lagi, karena akan merasa membebani.
"Aisyah yang ngasih tau, kalau ada apa-apa jangan rahasia-rahasia-an." Milan mendorong pipi Nelam dengan telunjuknya.
Pria itu melihat bayi Nelam, lalu mengusap pipi bayi mungil itu dengan telunjuknya. "Hey... hey... kangen ya sama om Milan." Ucapnya gemas membuat senyum Nelam mengembang.
"Anaknya lucu, jadi pengen gendong ibunya." Tuturnya yang aneh membuat Nelam mengernyit. Menahan tawanya, namun tak kuasa.
__ADS_1
"Masih tetep cantik walaupun udah punya anak." Lanjutnya lagi membuat Nelam tidak menggubris.
"Ayok masuk Mil."
Sampai saat ini, Milan tidak bisa berpaling dari Nelam, perasaan cinta yang begitu dalam membuat Milan percaya bahwa Nelam adalah jodohnya, tapi kalau mereka tidak berjodoh, mungkinkah Milan akan sepercaya diri itu.
Nelam duduk di sofa bermotif bunga itu, diikuti Milan yang duduk di sebelahnya.
"Gimana, kamu lulus tes di Akpol?" tanyanya membuat Milan tersenyum.
"Pak polisi, tolong ambilkan tisu di dekat pot itu." Katanya sambil menunjuk.
Milan mengulurkan tangannya ke samping kiri untuk mengambil sehelai tisu, dan memberikannya pada Nelam.
"Kalau aku udah lulus di Akpol terus dapet kerjaan tetap, aku mau nikah sama kamu, Nel." Ucapnya membuat Nelam terhenti, dia mencerna kata-kata tadi.
__ADS_1
"Maafin aku Mil, aku gak bisa nikah sama kamu. Aku mau hidup kayak gini aja, walaupun aku gak punya seorang lelaki yang ngelindungin, mungkin Raka yang bakal lindungin ibunya. Kita sahabatan aja." Katanya membuat Milan membulatkan matanya tak percaya. Kata-kata tadi telah mencacah hatinya.
"Maafin aku Mil, kamu pulang, ya. Jangan khawatirin aku lagi. Jadilah polisi yang benar-benar berguna untuk orang banyak." Nelam berdiri dari duduknya dan mulai membalikan badan. "Aku mau ayun Raka dulu."
Milan yang terdiam, tak lama menyahutnya, "Aku gak bisa maksa kamu. Pikiran kamu lagi kacau Nel, aku bisa paham. Mungkin nanti kita bisa sama-sama. Aku juga bakal lindungin kamu. Aku gak akan pernah ninggalin kamu." Jelasnya membuat air mata Nelam tak terbendung lagi. Milan bagkit dari duduknya dan berniat pergi, "Aku pamit, Assalamualaikum...." Katanya sambil berjalan lesu.
"Waalaikumsalam."
Nelam membalikan badan, menatap punggung Milan yang pergi dengan kekecewaan, keputusan ini tidak asal diambilnya. Sadar akan statusnya, keluarga Milan yang religius tak akan menerimanya. Apalagi Nelam seorang penyanyi dangdut yang berpakaian seksi, juga mempunyai anak yang entah dimana ayahnya.
"Kita emang gak jodoh, Mil." Lirihnya sambil berjalan menuju kamar.
_______________________
Bersambung..
__ADS_1
Vote dan komen... 😍