
Nelam mengikuti Aksa yang berjalan dengan cepat, lalu tiba-tiba dia berhenti. Spontan Nelam menabrak tubuhnya dari belakang.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Eh? Enggak kok, Pak."
"Kamu ikut meeting sama staff lain untuk perencanaan."
"Staff apa?"
"Banyak, ada Menejer Haris juga yang bakal bantuin kamu, sementara itu, aku akan ikut meeting dengan dewan direksi."
"Baik Pak."
Mereka memasuki suatu ruangan dimana kursi dan mejanya berjajar rapi. Spontan mereka berdiri.
"Kenalkan, ini sekretaris baru saya," ujarnya. "Nelam namanya."
"Salam kenal Bu Nelam."
"Saya ada meeting dengan Pak Handi, jadi kalian susun perencanaan."
"Baik Pak," balas pria berkacamata tebal.
"Haris, kamu pimpin."
"Baik Pak."
Aksa keluar ruangan lalu Manager keuangan menghampiri Nelam.
"Salam kenal, ngomong-ngomong, kamu cantik sekali."
Nelam hanya tersenyum.
"Kamu sudah menikah?"
Haris melihat kedatangan Aksa, tiba-tiba dia memberikannya tatapan dinginnya.
"Apa yang kamu tanyakan, hah?!"
"Kenapa Pak? Saya bertanya apakah dia sudah menikah?"
"Jangan mendekatinya, kalau kau tidak mau turun jabatan."
Haris langsung menggeleng. "Tidak Pak. Sa-saya janji tidak akan menanyakan hal itu lagi."
__ADS_1
"Untuk staf pria, tidak ada yang boleh berbicara padanya, dan untuk staf wanita, ramahlah padanya. Saya pamit."
Salah satu staf wanita menutup mulutnya tak percaya. "Waw, sekretaris cantik itu pacarnya Pak Aksa."
"Beruntung banget sih dia, dapet cowok tajir, kaya raya, ganteng maksimal, lagi. Kalo gue cuma bisa ngehaluin Pak Aksa."
"Nelam, kamu kerja sama dengan Eva, Farida dan Nadya."
Nelam duduk di pinggir dekat tiga orang wanita yang di depannya ada komputer menyala.
"Pagi Ibu cantik," sapa Eva, gadis berambut kriting dan berkulit hitam.
"Iya Pagi."
"Bu, kulit Ibu putih bener dah, cantik lagi, makan ape Bu?" tanya Nadia
Nelam hanya tersenyum. "Semua juga cantik, kan sekarang ada body care."
Eva sedikit mendekatkan wajahnya. "Ibu calon istrinya Pak Aksa ya, jangan mau Bu, galak orangnya," jujur Eva membuat Nadya menyenggolnya.
Nadya menaikan kacamatanya, wanita gendut itu melotot pada Eva lalu melihat Nelam. "Jangan dipercaya Bu, Si Eva mulutnye lemes banget kaye permen karet."
Farida, lulusan S1 ekonomi yang baru lulus tahun lalu dan sudah bekerja satu tahun di perusahaan ini membetulkan kancing kemeja di tangannya. "Ibu pasti belum pernah makan indomie pake nasi."
Nelam tersenyum. "Aku sering kayak gitu," jujur Nelam.
"Mana mau Si Ibu berteman sama kalian," kata Farida.
"Enggak kok, kita semua berteman."
"Bu, kayaknya ibu masih muda, seumuran kayaknye ma kite," Nadia lagi, dia memang cerewet.
"Aku sudah 22 dan dua bulan lagi sudah 23."
"Tuh kan, beda satu tahun Bu, masih mudaan kita dikit."
"Nad, elu mah umur 80 an Nenek."
"Eh diem lu Da, gua senggol rambut lu rontok semue."
"Lah, apa sih Nek."
Nelam hanya tertawa dengan tingkah mereka. "Udah, ayok kita kerja."
"Dengerin Da, kerja, jangan ngomong aje."
__ADS_1
"Lah, elu yang cewong Nenek Nadia."
***
Nelam keluar ruangan staf lalu Aksa tiba-tiba menghadang jalannya, Nelam berjalan ke kiri, dia menghadang ke kiri dan sebaliknya. "Saya mau ke ruang Pak Hendra," ucap Nelam dengan tatapan serius.
"Apa kamu marah?"
"Saya sedang buru-buru, minggirlah."
Aksa melihat map yang dibawa Nelam lalu dia mengerutkan keningnya. "Itu, map apa? Bukannya surat kerja sama dengan klien?"
"Tidak tau, tapi Pak Haris menyuruh sa-" Nelam terhenti saat Aksa merebut mapnya.
Aksa memasuki ruangan staf dengan map yang di bawanya, Nelam membuntutinya.
"HARIS! KAMU TIDAK PAHAM APA YANG SAYA BICARAKAN!" teriaknya membuat mereka terdiam dan menunduk di tempatnya.
"SAYA PALING TIDAK SUKA JIKA KALIAN SALING MENGANDALKAN SATU SAMA LAIN!"
Aksa menghampiri Haris di mejanya kemudian menghentakkan map di atas mejanya. Haris tertunduk.
"Saya tanya, tugas kamu apa?"
"Mengurus surat kerja sama."
"KENAPA KAMU MENYURUH NELAM!"
"Ka-karena dia ingin mengantarkannya sendiri."
"Apa itu benar?"
Nelam mengangguk. "Iya, aku yang menawarkannya.
Aksa hanya mengangguk lalu memberikan map itu pada Haris. "Harusnya kamu jangan mau nganterin ini itu, nanti kamu bisa kecapean."
"Uhuk," batuk Nadia, membuat Eva menyenggol lalu melotot padanya. Nadia langsung menunduk.
Nadia berbisik. "So sweat! kayak didrama koreah!"
Farida ikut berbisik. "Segalak-galaknya dia, cuma bisa luluh sama Bu Nelam."
"syuuuuttt! Udah ah!" ucap Eva pelan.
***
__ADS_1
Vote dan komennya ya :') supaya berlanjut.